Wabah Campak Menyebar di Filipina, Puluhan Meninggal

CNN Indonesia | Kamis, 07/02/2019 23:29 WIB
Wabah Campak Menyebar di Filipina, Puluhan Meninggal Ilustrasi imunisasi campak rubella. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah campak dilaporkan menyebar di Filipina. Bulan ini saja tercatat 25 orang meninggal akibat penyakit itu.

Seperti dilansir AFP, Kamis (7/2), sebagian besar korban meninggal akibat campak adalah anak-anak. Kementerian Kesehatan Filipina menyatakan ada kemungkinan jumlah korban akan bertambah karena wabah itu menyebar dengan sangat cepat.

Menurut catatan Kemenkes Filipina, pada 2017 penduduk yang mengidap campak berjumlah 791 orang. Setahun kemudian jumlahnya melonjak berkali-kali lipat hingga mencapai 5,120 orang.



Bahkan, pada Januari 2019 tercatat ada 1,813 penduduk Filipina terinfeksi campak. Diduga hal ini erat kaitannya dengan keengganan penduduk melakukan vaksinasi campak.

Sebab, program imunisasi demam berdarah pemerintah Filipina terhambat gara-gara vaksin Dengvaxia yang diimpor dari luar negeri disebut-sebut menyebabkan penerimanya malah jatuh sakit.

"Vaksinasi campak memang menurun selama lima tahun belakangan. Masalah vaksin Dengvaxia turut menjadi pemicunya," kata Wakil Menteri Kesehatan, Eric Domingo.

Menurut data Rumah Sakit San Lazaro, Manila, jumlah pengidap campak yang dirawat dan berobat di sana mencapai 1,500 orang. Bahkan, 50 di antaranya meninggal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menerbitkan peringatan pada November 2018 kasus wabah campak di seluruh dunia meningkat sekitar 30 persen pada 2017. Menurut mereka salah satu faktornya adalah anak-anak tidak melakukan imunisasi.


Keengganan penduduk Filipina melakukan imunisasi dipicu masalah vaksin Dengvaxia pada 2017. Saat itu, pemerintah setempat sudah memberi vaksin itu kepada 837 ribu anak-anak. Namun, perusahaan pembuat vaksin, Sanofi, menyatakan mereka menemukan kecenderungan penerima vaksin itu bisa mengalami gejala yang lebih parah di masa kini atau mendatang. Padahal, mereka sebelumnya menyatakan vaksin itu aman.

Pemerintah Filipina lantas menghentikan pemberian vaksin. Namun, ribuan orang tua dan anak-anak yang sudah menerima vaksin mengaku khawatir dengan kesehatan mereka. (ayp/ayp)