Hikayat Kereta Bawah Tanah dari London sampai Jakarta

ANTARA, CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 12:01 WIB
Hikayat Kereta Bawah Tanah dari London sampai Jakarta Stasiun kereta bawah tanah di London, Inggris. (Istockphoto/IR_Stone)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jauh sebelum Indonesia bakal mengoperasikan jalur MRT pertamanya, penggunaan kereta sebagai transportasi publik sudah lama dilakukan banyak negara lain. Dalam sejarah, Inggris tercatat sebagai negara yang pertama mengoperasikannya.

Seorang pemuka agama di Inggris Raya pada dekade 1860-an pernah menuding bahwa perusahaan kereta berupaya untuk menerobos neraka karena membuat jalur kereta bawah tanah untuk pertama kalinya di dunia.

Sebagaimana dikutip dari laman History Today, tidak hanya dari lingkungan rohaniwan, kritik terhadap pembangunan jalur kereta bawah tanah di ibu kota Inggris kala itu juga datang dari banyak pihak.


Misalnya ada yang memprediksi bahwa atap terowongan di jalur bawah tanah akan runtuh sehingga menimpa para penumpang kereta atau ada yang menuding bahwa orang akan tersedak asap kereta.


Proyek jalur kereta bawah tanah pertama di Inggris dimulai pada 1860, ketika Metropolitan Railway mulai membangun terowongan lebih dari 5 kilometer dari daerah Paddington ke Farringdon Street.

Pembiayaan proyek tersebut dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintahan Kota London yang sedang berupaya keras mencari solusi kemacetan lalu lintas dengan banyaknya kereta kuda yang lalu lalang di jalan raya London.

Gagasan untuk mewujudkan jalur bawah tanah, terutama terus didorong oleh Pengacara Kota London, Charles Pearson. Pria kelahiran 1793 itu, berupaya melobi berbagai pihak agar Pemkot London mau menggelontorkan anggaran pembangunan jalur kereta bawah tanah tersebut.

Usaha keras yang dilakukan Pearson membuahkan hasil, meski mantan Anggota DPR Inggris itu wafat pada 1862, beberapa bulan sebelum pengoperasian kereta bawah tanah di London.

Tanggal 9 Januari 1863 sebagai hari yang bersejarah, karena jalur itu secara resmi dinyatakan selesai dibuat dan dirayakan oleh berkumpulnya eksekutif perusahaan kereta, anggota parlemen, hingga Wali Kota London.

Perdana Menteri Inggris Raya saat itu, Lord Palmerston, menolak menghadiri acara itu. Alasannya, pada usia 79 tahun, dia ingin berada di atas tanah sebisa mungkin.

Keesokan harinya atau tepatnya 10 Januari 1863, jalur kereta bawah tanah itu dibuka untuk umum pertama kalinya. Lebih dari 30 ribu orang berdesak-desakan untuk mencobanya.


Kejayaan Teknik

Pembukaan jalur kereta bawah tanah di London dipuji dunia. Koran The Times menyebutnya sebagai kejayaan teknik masa kini. Pada tahun pertama pengoperasiannya, jalur kereta bawah tanah atau Metropolitan Railway diketahui dapat membawa hingga lebih dari 9 juta penumpang per tahun.

Pada 1890, jalur kereta bawah tanah yang menggunakan aliran listrik, yaitu City & South London Railway, untuk pertama kalinya dibuka. Oleh karena jalur bawah tanah itu berbentuk seperti tabung atau tubular dalam bahasa Inggris, maka hingga kini kereta bawah tanah di Inggris kerap disebut Tube.

Pengoperasian Metropolitan Railway berdampak banyak, seperti perluasan wilayah London hingga daerah suburban di sepanjang jalur kereta bawah tanah tersebut. Bahkan, tercatat hal itu juga menjadi salah satu faktor bertambahnya populasi London dari sekitar 3 juta orang pada 1861 menjadi 6,2 juta orang pada 1901.

Pembangunan jalur kereta bawah tanah juga menyebar ke negara lain. Di Eropa, kereta bawah tanah mulai dibangun, seperti di Budapest, Hungaria pada 1896, di Glasgow, Skotlandia (1896), dan di Paris, Prancis (1900).

Pemandangan stasiun kereta bawah tanah New York, Amerika Serikat. (Istockphoto/krblokhin)

Tidak hanya di benua Eropa, kereta bawah tanah juga menyeberang lautan Atlantik hingga benua Amerika, seperti New York City (sejak 1904) dan Buenos Aires, Argentina (sejak 1913).

Tentu saja, kemajuan juga meluas ke berbagai negara di Asia. Di benua tersebut, jalur kereta bawah tanah, antara lain muncul di Tokyo (sejak 1927) dan Beijing (sejak 1969).

Pada saat ini rute terpanjang terdapat di Shanghai Metro (676 kilometer) dan rute tersibuk Beijing Subway (membawa rata-rata 10,35 juta penampung per hari).

Jalur kereta bawah tanah yang memiliki stasiun terbanyak hingga saat ini tercatat New York City Subway dengan 472 stasiun.


Kawasan ASEAN

Bagaimana halnya dengan kawasan Asia Tenggara? Dalam laman Living Asean dijabarkan sejumlah negara ASEAN yang memiliki jalur kereta bawah tanah.

Di Singapura, disebutkan jaringan kereta listrik di negara pulau tersebut sangat efisien. MRT Singapura mulai beroperasi 7 November 1987, dan saat ini memiliki 184 stasiun serta rata-rata membawa 3 juta penumpang lebih per hari.

Di Bangkok, Thailand, pembangunan jalur kereta listrik dilakukan pemerintahan setempat untuk mengatasi kemacetan parah di kota tersebut. MRT Bangkok mulai beroperasi 3 Juli 2004 dan saat ini memiliki 35 stasiun serta rata-rata membawa 420 ribu penumpang per hari.

Di Kuala Lumpur, Malaysia, selain MRT yang baru dibuka pada 2016, terdapat pula KL Monorail yang beroperasi sejak 31 Agustus 2003, serta memiliki 11 stasiun dan rata-rata membawa lebih dari 63 ribu penumpang per hari.

Mengintip bagian dalam MRT Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Terkait dengan pembangunan MRT di Singapura, ada kisah menarik bahwa Menteri Komunikasi (kini Menteri Transportasi) Singapura Ong Teng Cheong harus berdebat keras di kabinet pemerintahan Singapura pada 1980, guna mendapatkan persetujuan pemerintah untuk membangun MRT.

Perdebatan itu tercetus karena kala itu, isu MRT masih kontroversial. Penolakan datang antara lain dari Menteri Keuangan Goh Keng Swee yang keberatan karena biaya yang dibutuhkan mencapai SGD$5 triliun.

Selain itu, sejumlah tim spesialis dari Universitas Harvard juga merekomendasikan bahwa sistem bus saja dinilai sudah memadai pada 1990-an dan hanya menghabiskan beban biaya sekitar 50 persen dari sistem berbasis kereta seperti MRT.

Perdebatan itu disiarkan langsung televisi nasional Singapura pada September 1980. Siaran langsung saat itu masih menjadi hal langka.

Akhirnya, pemerintah Singapura memutuskan tetap membangun MRT. Hingga saat ini, MRT Singapura dapat disebut salah satu yang terbaik di dunia.

Wisatawan yang berkunjung ke Negeri Singa itu juga merasakan kenyamanan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, hanya dengan menggunakan MRT.

Tidak hanya dengan MRT, moda transportasi tersebut juga terintegrasi dengan sangat baik, misalnya dengan jalur bus kota hingga kawasan pejalan kaki. 

(ard)