Rencana 'Hutan Buatan' Singapura Dikritik Pecinta Lingkungan

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 19:15 WIB
Rencana 'Hutan Buatan' Singapura Dikritik Pecinta Lingkungan Salah satu rambu di proyek pembangunan zona ekowisata di Mandai, Singapura. (ROSLAN RAHMAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pemerintah Singapura yang ingin membangun zona ekowisata demi meningkatkan jumlah kunjungan turis mendapat penolakan dari pecinta lingkungan, yang merasa kalau proyek itu bakal merusak habitat alami tumbuhan dan hewan di Negara Singa.

Walau dikenal sebagai pusat keuangan dan penerbangan internasional, Singapura masih masih menjadi rumah bagi hutan hujan tropis dan beragam satwa liar, mulai dari monyet hingga trenggiling.

Kota ini juga memiliki kebun binatang yang menyediakan wisata sungai dan wisata malam hari, dua jenis kegiatan yang menarik perhatian turis domestik dan mancanegara.


Demi terwujudnya proyek tersebut, Singapura mulai membabat sejumlah area di Mandai untuk pembangunan taman burung, taman hutan hujan dan komplek resor berkapasitas 400 kamar.

Kelompok pecinta lingkungan berharap pemerintah Singapura mempromosikan wisata di habitat alami, bukan malah menghancurkan habitat alami untuk membangun zona ekowisata yang notabene buatan.

Mereka juga khawatir para pekerja proyek memperlakukan tanaman dan hewan yang ada dalam area itu secara semena-mena.

"Saya pikir mengganti habitat alami dengan buatan merupakan ide yang kurang tepat," kata Subaraj Rajathurai, seorang pecinta lingkungan, kepada AFP.

"Sepertinya menghasilkan uang lebih penting dibanding melestarikan keanekaragamanhayati," tambahnya.

[Gambas:Instagram]

Keselamatan Hewan

Perusahaan yang sedang melakukan proyek pembangunan zona ekowisata di Singapura, Mandai Park Holdings, mengklaim kalau proyek ini bakal membawa banyak perubahan.

Proyek yang berjalan berlokasi di Mandai, kawasan desa dan sawah yang bersebelahan dengan cagar alam dilindungi.

Taman burung dibangun untuk menggantikan yang lama. Taman ini akan menampilkan sembilan area kandang burung.

Sementara taman hutan hujan akan dibangun di antara pepohonan dengan lintasan berupa jalan setapak.

Lalu hotel yang dibangun merupakan penginapan dalam jaringan hotel yang berbasis di Singapura, Banyan Tree.

Pembangunan sudah dimulai sejak tahun 2017 dalam lahan seluas 126 hektar yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2023.

Mandai Park Holdings, anak perusahaan dari investor negara Singapura Temasek, tidak mengungkapkan besarnya biaya proyek. Biaya pembangunan ini disebut didanai oleh Temasek dan pemerintah Singapura.

[Gambas:Instagram]

Jika berkesempatan datang ke sana, pemandangan kesibukan proyek sedang berlangsung. Truk besar dan tiang pancang terlihat di area yang biasanya menjadi habitat lemur dan rusa.

Kelompok pecinta lingkungan khawatir dengan kasus trenggiling dan macan tutul yang tewas dilindas kendaraan berat selama pembangunan berlangsung.

Subaraj mengatakan kasus itu bisa terjadi karena kurangnya langkah-langkah perlindungan terhadap habitat alami selama pembangunan berlangsung, misalnya peletakan pagar besi disepanjang jalur agar tak ada hewan yang terlindas.

"Ini gila, padahal ada cara mudah untuk menghindari kasus itu," katanya.

Tetapi Mandai Park Holdings bersikeras bahwa mereka telah melakukan segala cara untuk mencegah kematian hewan selama pembangunan berlangsung.

Saat ini pagar besi dan rambu-rambu pengingat pengendara akan lintasan hewan telah dipasang di sepanjang jalur, berikut dengan tali-tali yang dipasang di pepohonan sebagai lintasan monyet.

Sebuah jembatan permanen yang tertutup semak dan pohon untuk memungkinkan hewan menyeberang juga akan dibangun pada tahun ini.

"Kami telah bekerja dengan komunitas pecinta lingkungan untuk mencari cara melindungi hewan-hewan ini," kata Mike Barclay, CEO Mandai Park Holdings yang juga mantan eksekutif senior maskapai penerbangan, kepada AFP.

"Apakah itu sempurna? Tidak. Tetapi kita melakukan segala cara semaksimal mungkin."

(ard)