SURAT DARI RANTAU

Mimpi di Pinggir Trotoar Negeri Singa

Alice Nadine Khoman, CNN Indonesia | Minggu, 20/01/2019 15:52 WIB
Mimpi di Pinggir Trotoar Negeri Singa Pemandangan Singapura. (tpsdave/Pixabay)
Singapura, CNN Indonesia -- Saya jadi belajar banyak hal tentang apa yang dinamakan hidup mandiri sejak meninggalkan Indonesia kala masih duduk di bangku SMA.

Bukan hanya soal masak sendiri, cuci baju sendiri atau tidur sendiri. Rasanya susah payah menawarkan kupon produk kecantikan di bawah terik matahari Singapura juga saya jabani untuk mencicipi uang hasil keringat sendiri.

Sebelum bertolak ke Singapura untuk melanjutkan studi S1 di bidang manajemen seni, Kanada menjadi destinasi singgah saya saat masih duduk di bangku SMA.


Merasa cocok dengan suasana, budaya dan kehidupan di sana, saya kemudian tak segan memilih Toronto ketika akan mengambil studi S1, jurusan psikologi.

Namun selang satu tahun menjalani perkuliahan, saya mulai merasa kewalahan dengan tugas dan beban yang harus saya tuntaskan setiap pekan. Jadilah saya pulang ke Indonesia dan memutuskan untuk melanjutkan studi ke Singapura, yang jaraknya tak begitu jauh dari orang tua di Indonesia.

Satu tahun menjalani studi di Singapura, rasa penasaran mendorong saya mencari-cari lowongan pekerjaan.

Kebetulan saat itu saya sedang libur kuliah. Ketimbang pulang ke Indonesia, saya malah iseng-iseng cari lowongan kerja sampingan untuk mengisi masa liburan.

Ketika lihat ada lowongan dengan posisi sales marketing, saya langsung tertarik dan mendaftarkan diri. Sudah terbayang dalam benak, menjadi orang kantoran dengan pakaian rapi selagi mengutak-atik laptop di gedung perkantoran nan megah.

Sayangnya baru di hari pertama kerja khayalan saya menjadi orang kantoran harus sirna. Alih-alih berkutat dengan laptop, ternyata saya ditugaskan menjual kupon produk kecantikan di depan stasiun MRT.

Hari-hari merasakan teriknya matahari, pegal-pegal di sekujur tubuh sampai sikap kurang ramah pejalan kaki di Singapura mau tidak mau saya jalani dengan sabar.

Meski tugas saya melelahkan, saya harus akui uang yang dihasilkan cukup menggiurkan.

Untuk setiap kupon yang dijajakan, komisi yang diberi sebanyak 50 persen. Dan ternyata saya cukup ahli mempromosikan kupon kepada calon pelanggan.

Sambil membagikan kupon, saya harus menelan ludah melihat gagah dan kerennya pekerja-pekerja kantoran di Singapura. Ternyata hidup enak di negeri orang bukan sekejap terjadi.

Setelah 10 hari menjadi sales marketing, bisa dibilang saya mulai ketagihan menghasilkan uang sendiri. Saya mulai kembali mencari pekerjaan sampingan di Negeri Singa.

Beberapa hari mondar-mandir situs lowongan pekerjaan, tawaran di sebuah restoran menarik perhatian saya. Berawal dari ketagihan bekerja, saya kemudian jadi betah menyiapkan makanan untuk pelanggan restoran.

Selama hampir satu setengah tahun bekerja di sana, yang saya dapatkan bukan hanya pelajaran menyajikan makanan.

Dihadapkan dengan berbagai sikap dan sifat pelanggan, kemampuan komunikasi saya mulai terpacu. Saya juga berkesempatan membimbing pekerja-pekerja baru, yang kemudian mendorong kemampuan saya dalam memimpin.

Dari pengalaman-pengalaman yang didapatkan selagi menimba ilmu di negeri orang, saya jadi kian terpincut dengan kehidupan yang mandiri.

Meskipun budaya kompetitif dan kesibukan Singapura bisa membuat kepala sedikit pusing, saya bersyukur bisa mencicipi tantangan hidup jauh dari orang tua. Rasanya seperti diberi kesempatan uji coba dalam kehidupan nyata yang sebentar lagi harus saya hadapi setelah menerima gelar sarjana.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(fey/ard)