Tiga 'Rumus' Kemenpar Demi Gaet Wisman Tahun Ini

CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 14:15 WIB
Tiga 'Rumus' Kemenpar Demi Gaet Wisman Tahun Ini Ilustrasi. Wisatawan dan warga saling menyerang dengan daun pandan berduri dalam tradisi Mekare atau perang pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pariwisata mengaku tengah menerapkan strategi baru demi memaksimalkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia dengan target utama yakni 10 juta wisatawan mancanegara (wisman) di semester pertama 2019.

Sistem itu disebut dengan istilah 'shifting to the front' atau 'geser ke depan' baik dari segi anggaran maupun program untuk mencapai target kunjungan wisman ke berbagai destinasi wisata di Indonesia.

Deputi Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, menyebut Program ini juga akan mengajak para pelaku usaha untuk memaksimalkan pariwisata di kawasannya masing-masing melalui penawaran paket wisata semenarik mungkin.


"Kami gaet para pelaku usaha. Strategi ini untuk mencapai target 10 juta wisatawan mancanegara di semester pertama tahun 2019," kata Nia di kawasan Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (21/2) malam waktu setempat.

Nia menjelaskan sistem kerja strategi shifting to the front ini diterapkan dalam berbagai program yang disebut dengan istilah super-extra ordinary.

"Program ini akan jadi senjata pamungkas yang mencakup tiga program yakni border tourism, tourism hub, dan low cost terminal (LCT)," kata dia.

Border tourism sendiri merupakan strategi menggaet wisman terdekat dari Indonesia.

Program ini dianggap penting dan menjadi penentu utama lantaran wisatawan yang didatangkan adalah wisman dari negara terdekat dengan berbagai kemiripan dengan Indonesia.

"Karena wisman tetangga memiliki berbagai kedekatan secara geografis makanya mereka lebih mudah kita jangkau, cepat, dan lebih murah juga menuju destinasi kita," kata Nia menjelaskan.

Selain kedekatan, wisman negara tetangga juga dianggap memiliki kedekatan kultural dan emosional dengan penduduk dan budaya Indonesia. Maka, hal ini pun menjadi alasan mudahnya mendatangkan turis dari negara tetangga ke destinasi wisata Indonesia.

"Maka kita bisa jajal pasar border ini ke negara Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste," kata dia.

Sementara untuk program tourism hub, Nia menjelaskan merupakan strategi lanjutan dari border tourism. Strategi ini merupakan upaya menarik para wisatawan asing yang tengah berlibur di negara tetangga untuk melanjutkan liburannya ke Indonesia.

"Maksudnya, wisman yang sudah berada di hub regional seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan perjalanan berlibur ke Indonesia," jelasnya.

Persoalan Penerbangan

Program untuk menarik 10 juta wisatawan asing ke Indonesia diakui Nia memang masih banyak mengalami kendala.

Salah satu kendala utama yakni soal penerbangan langsung dari berbagai negara ke destinasi-destinasi wisata dalam negeri.

Penerbangan kata dia, kebanyakan harus melakukan transit ke Jakarta atau daerah lain, baru kemudian bisa mencapai kawasan wisata yang dituju. Itu pun dengan catatan minimnya jam penerbangan ke wilayah-wilayah tertentu.

"Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya 'direct flight'. Direct flight kita misalnya dari China mencapai 50%, artinya 50% sisanya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong," kata dia.

Tak hanya soal penerbangan langsung, Nia juga menyadari permasalahan terkait low cost terminal yang belum diterapkan di Indonesia. Kemungkinan kata dia, LCT akan diterapkan mulai tahun depan atau 2020.

"Selama ini kita salah memilih instrumen untuk konektivitas udara, dimana kita harus tumbuh tinggi tetapi lebih banyak menggunakan instrumen yang tumbuhnya rendah," katanya.

LCT kata Nia, merupakan salah satu penentu utama keberhasilan target kunjungan 20 juta wisman pada 2019. Kemenpar sendiri menargetkan 10 juta wisman di semester pertama 2019 dari berbagai negara. Wisman asal China ditargetkan menjadi penyumbang turis terbanyak ke Tanah Air.

"Dari China 3,570 juta disusul secara berurutan wisman asal Eropa 2,580 juta, India 820 ribu, Jepang 720 ribu, Amerika Serikat 560 ribu, Timur Tengah dan Arab Saudi 320 ribu, Taiwan dan Hongkong masing-masing menyumbang 310 ribu dan 130 ribu wisatawan," kata Nia.

[Gambas:Video CNN]

(tst/ard)