SURAT DARI RANTAU

Menyimak Tahun Politik dari Perantauan

Dzikri Nurhabibi Nahrowi, CNN Indonesia | Minggu, 24/02/2019 16:35 WIB
Menyimak Tahun Politik dari Perantauan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Hamburg, CNN Indonesia -- Kali pertama saya sampai di Jerman, tepatnya di kota Hamburg, semua rasa bercampur menjadi satu.

Yang pertama senang karena diterima jadi mahasiswa magister di salah satu unversitasnya dan bisa mewujudkan impian ayah yang anaknya bisa sekolah di negara yang sama dengan Presiden BJ. Habibie. Ayah saya memang sangat kagum dengan beliau, oleh karena itu nama saya disisipkan 'Habibi'.

Jauh dari rumah sudah pasti membuahkan rindu. Tetap terhubung dengan pemberitaan di Indonesia membuat saya merasa dekat dengan keluarga dan kerabat di Tanah Air.


Semua berita besar dari Indonesia pasti saya baca, tidak terkecuali topik politik yang sedang ramai belakangan ini.

Ini juga menjadi kali pertama bagi saya mengikuti pemilu di negara orang.

Warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Hamburg rasanya cukup antusias dengan dengan perhelatan sekali dalam lima tahun tersebut.

Tidak hanya di dalam negeri, ternyata para pendukung calon presiden juga melakukan kampanyenya hingga di luar negeri.

Beberapa waktu yang lalu ada kampanye yang dilakukan oleh salah satu pendukung pasangan calon presiden.

Mereka mengadakan kampanye di gedung-gedung pertemuan yang mereka sewa lalu mereka mengumpulkan WNI di sana.

Selain itu juga sempat ada deklarasi dukungan terhadap salah satu pasangan calon yang dilakukan di sekitar alun-alun Kota Hamburg.

Namun, kampanye-kampanye kecil lebih sering dilakukan di media sosial, seperti halnya Facebook dan Twitter.

Acara debat calon presiden yang telah berlangsung dua kali juga sangat dinanti para WNI di sini, mirip antusiasme saat pertandingan piala dunia.

Menurut saya debat yang sudah berlalu itu masih kurang greget dan terdapat beberapa pernyataan yang menurut saya datanya kurang tepat. Saya sangat menanti acara debat-debat selanjutnya, karena masih penasaran dengan visi dan misi calon pemimpin yang terpilih nanti.

Saya tidak tahu banyak mengenai perpolitikan di Jerman, namun dari yang saya lihat pada umumnya penduduk Jerman memiliki kebebasan dalam berpolitik dan berpendapat seperti halnya penduduk Indonesia.

Yang membedakan ialah cara penduduk Jerman menghargai dan menghormati perbedaan dari pilihannya. Tidak seperti di Indonesia yang sebagian penduduknya serba sensitif dan sering saling serang dalam hal berpendapat mengenai politik.

Saya hanya berharap siapapun yang menang dalam pemilu Indonesia tahun ini, pendukung kedua belah pihak bisa tetap akur agar pemerintahan berjalan dengan kondusif, sehingga visi dan misi yang baik bisa berjalan semestinya.

April nanti saya beserta teman-teman saya akan berpartisipasi dalam pemungutan suara pemilu 2019.

Bagi kami yang berada di Hamburg pemungutan suara akan diadakan di Konsulat Jenderal RI di Hamburg.

Di sini ada dua jenis pemungutan suara, ada yang dilakukan langsung di Tempat Pemungutan Suara (TPS) ada juga yang dikirim melalui pos.

Saya sudah menjadwalkan bakal datang langsung ke TPS untuk mencoblos.

Hidup di perantauan bukan alasan bagi saya untuk golput, karena menurut saya partisipasi warga negara menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan demokrasi yang juga akan menentukan masa depan dari negara kita nantinya.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com
(ard)