FOTO: Merajut Legenda Tenun Ikat Kediri

Antara Foto, CNN Indonesia | Sabtu, 02/03/2019 15:18 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Tenun ikat Kediri adalah salah satu seni tenun tua di Indonesia yang dimulai di era zaman Kerajaan Kediri abad 11 hingga 13.

Kain traditional tenun ikat Kediri punya sejarah yang cukup panjang, serupa dengan asal usul Kota Kediri sendiri yang menjadi basis salah satu kerajaan besar di Indonesia dengan beragam kekayaan budayanya. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Menurut sejarah, tenun ikat Kediri dimulai pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri sekitar abad 11 hingga 13, jauh sebelum Indonesia merdeka (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Seorang sejarawan asal Belanda, Gerrit Pieter Rouffaer menyebut pola gringsing atau teknik ikat ganda sudah dikenal dan digunakan sejak abad ke-12. Peneliti kain di Indonesia itu juga menyebut pola ini hanya bisa dibentuk menggunakan canting (ANTARA FOTO/Galih Pradipta) 
Sejarah tenun ikat di Kediri mulai berkembang diawali oleh warga keturunan Thionghoa pada tahun 1950-an dengan membuka usaha yang memiliki sekitar 200 alat tenun dan ratusan pengrajin. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Usaha tersebut terus berkembang seiring dengan berkembangnya perdagangan dengan saudagar-saudagar dari Madagaskar, China, India, Tiongkok dan Arab hingga mengalami masa jaya pada periode 1960-1970. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Proses pembuatan lungsi atau keteng yang melalui empat tahapan yaitu, pencelupan, pemintalan, skeer atau menggulung benang di boom dan proses grayen atau menyambung benang. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Proses kedua adalah pemintalan benang putih, reek atau menata benang di bidangan, desain, pengikatan, pencelupan, colet, pelepasan tali, mengurai benang, pemintalan di palet dan yang terakhir adalah proses tenun. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Kejayaan tenun ikat Kediri kian surut pada 1985, ketika impor ratusan mesin tenun modern masuk, menyebabkan produksi kain tenun yang lebih cepat dam dijual dengan harga yang lebih murah. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Pelestarian tenun Kediri lantas dilakukan salah satunya dengan gelaran Dhono Street Fashion. Lewat festival ini, tenun Kediri ditampilkan lebih kasual dan fashionable (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Sementara di Bandar Kidul, proses pengerjaaan tenun tidak harus dilakukan di sentra industri. Pemilik usaha memberdayakan warga sekitar untuk terlibat dalam pelestarian tenun dengan membebaskan warga untuk mengerjakannya dirumah masing masing sesuai alat yang mereka punya. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)