'Magnet' Tenun Sumba yang Buat Didiet Maulana Jatuh Cinta

Christina Andhika Setyanti , CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 09:32 WIB
'Magnet' Tenun Sumba yang Buat Didiet Maulana Jatuh Cinta Tenun sumba adalah tenun Indonesia yang punya daya tarik untuk desainer Indonesia termasuk Didiet Maulana, dia pun membagikannya dalam sebuah laman Bhumi Sumba. (Dok. Didiet Maulana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekayaan alam dan budaya Indonesia bisa menjadi banyak inspirasi menarik untuk menciptakan berbagai karya.

Didiet Maulana adalah salah satu desainer yang terpikat dengan keindahan Sumba saat berkarya. Tak cuma 'menghasilkan' aneka busana indah untuk koleksinya, Didiet pun menciptakan sebuah laman daring Bhumi Sumba.

Didiet pun berbagi cerita tentang keindahan dan daya tarik Sumba dan kearifan lokalnya.


Adakah cerita menarik saat di Sumba?

Saat di sana, saya melihat proses pembuatan kain tenun Sumba. Saya merinding karena proses pembuatannya sangat natural. Rata-rata yang mengerjakan kain tenun di Sumba adalah perempuan. Saat kami datang ke sana, mereka punya harapan terhadap kami.

Ini menjadi amanat buat kami untuk membantu mereka. Hal inilah yang menginspirasi aku untuk membuat project Bhumi Sumba, supaya ada lebih banyak orang yang tertarik untuk datang langsung ke pengrajin.

Hal apa yang sudah dilakukan untuk pengrajin kain tenun Sumba?

Semakin saya berinteraksi langsung dengan seniman kain tenun, semakin saya ingin berbagi dengan mereka. Yang sudah saya lakukan adalah berbagi pengetahuan, seperti tren warna kain apa yang sedang disukai sekaligus pencampuran warnanya seperti apa.

Selain itu, saya juga berbagi soal teknik penjualan yang tepat. Pengrajin kain tenun tidak bisa diajarkan untuk menjual kainnya via Instagram, mereka tidak bisa melakukan itu.

Jadi, yang diajarkan adalah memotivasi pengrajin untuk menceritakan proses pembuatan kain tenun tersebut, seperti periode proses pembuatan kain tenun hingga siap dipakai, bahan yang digunakan serta cerita di balik motif yang dibuat. Hal-hal ini adalah sumber kekuatan.

Setelah itu, berikan harganya. Calon konsumen tidak akan merasa harganya mahal, karena ia sudah mengetahui nilai di balik kain tenunnya dan tidak melihat itu sebagai kain tenun biasa.

Selain itu, saya juga berusaha berkomunikasi dengan pemuda-pemuda komunitas setempat, seperti blogger daerah tersebut. Sebab saat pengrajin kain tenun sudah mau berubah, saya harus menjaga dengan membuat ekosistem yang mendukung perubahan ini agar terus berlangsung dan tidak berhenti hanya di situ saja. Saya berusaha menjalin kerja sama dengan pemuda-pemuda daerah ini, yaitu dengan menjual kain tenun tersebut via Instagram. Saya ingin pengrajin kain tenun ini mandiri, sehingga ada atau tidaknya aku penjualan kain tenunnya harus tetap kuat.

ilustrasi tenun sumbailustrasi tenun sumba (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)


Kendala apa yang dihadapi saat memberi pelatihan untuk pengrajin kain tenun Sumba?

Kendalanya adalah daerahnya yang remote. Seharusnya, ada satu badan atau lembaga yang bisa menjemput kain-kain itu, semacam sistem jemput bola.

Saat ini, sudah cukup banyak anak muda yang tertarik dengan Sumba. Selain mengenal daerah tersebut dari segi alamnya, mereka juga tertarik dengan kain tenunnya. Namun, bukan tidak mungkin saat mereka membeli kain tenunnya, mereka bingung bagaimana cara mix and match kain. Adakah tips atau inspirasi fesyen untuk anak muda yang ingin memakai kain tenun Sumba?

Dengan tekstur dan berat kain tenun, sampai saat ini fungsi yang masih dioptimalkan adalah fungsi kain tenun sebagai sarung (bawahan). Nanti mungkin bisa dieksplor adalah bentuk sarung seperti apa yang cocok untuk acara santai atau acara resmi di malam hari. Seperti contoh, untuk acara santai kain tenunnya bisa dilipat dengan model agak pendek. Atasannya bisa menggunakan kaos dan kalung.

Untuk acara resmi, misalnya pernikahan bisa menggunakan kain tenunnya sebagai bawahan dan memakai atasan yang cocok untuk itu, misalnya dengan kebaya kurung.

Yang kemarin sempat heboh adalah Hamish Daud yang saya pakaikan beskap (baju adat pria) Jawa dengan tuxedo model Langenarjan. Untuk bawahannya, aku lipat dengan kain tenun Sumba.

Bentuk kain tenun Sumba bermacam-macam. Ada yang bentuk besar seperti sarung, dan ada pula yang berbentuk seperti syal. Untuk gaya sehari-hari, kain bentuk syal ini juga bisa dipakai. Sebagai contoh, misalnya untuk kain yang berbentuk syal ini berukuran 180 sentimeter dan berbahan tipis bisa disambung dengan kain sifon atau katun. Kain ini bisa digunakan sebagai outerwear seperti jaket. Ataupun kita bisa membuatnya dengan aksen hingga bisa dipakai sebagai syal.

Daerah selanjutnya yang akan didatangi untuk diberikan pelatihan di mana?

Saat ini, saya tidak mau seperti menabur garam di tengah laut. Maksudnya saya tidak ingin daerahnya terlalu banyak dulu. Saya ingin fokus memberikan pendampingan yang kontinu. Selain itu, ada tagar #yangmudayangmenenun di akun Instagram saya. Tagar ini dibuat sebab banyak orang hanya fokus soal outputnya seperti apa, atau showcase untuk koleksinya dilaksanakan kapan dan di mana. Tanpa kita sadari yang mengerjakan itu tidak ada. Karena banyak yang berpikir kalau itu tidak keren.

Yang lagi saya lakukan adalah memasukkan kain tenun sebagai ekskul dalam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekarang sudah ada dua SMK di Kediri, nantinya kain tenun yang dihasilkan akan dipakai untuk seragam mereka. Jadi, sistemnya dari mereka untuk mereka. Selain itu, di Denpasar juga sudah ada SMK yang setuju melakukan hal yang sama.

Karakter desain kain tenun yang disukai orang Indonesia seperti apa?

Selama 7 tahun aku bekerja di industri retail fesyen, saya mempelajari karakter konsumen Indonesia. Umumnya, rakyat Indonesia mudah sekali dipengaruhi. Apa yang dipakai seorang artis akan diikuti oleh mereka. Sebenarnya, ini merupakan potensi sebab dengan jumlah penduduk yang besar, model pakaian seperti apapun dapat diterima.




(sat/chs)


BACA JUGA