SURAT DARI RANTAU

Menyamar Jadi Profesor di Barcelona

Sony Saputra, CNN Indonesia | Minggu, 10/03/2019 14:25 WIB
Menyamar Jadi Profesor di Barcelona Ilustrasi. (Foto: Wikimedia Commons/Sebastian Schreiber)
Barcelona, CNN Indonesia -- Menjadi mahasiswa rantau bukanlah hal yang baru bagi saya. Sebelum 'terlempar' di Bellatera, Barcelona, saya pernah merasakan hidup selama nyaris lima tahun di Yogyakarta. Persoalan pertama yang harus saya hadapi di kota yang saya singgahi adalah perbedaan bahasa.

Jika di Yogyakarta saya masih bisa diselamatkan lewat kemampuan bahasa Indonesia, di Barcelona bahasa Inggris rupanya tidak bisa membantu banyak.

Selama dua bulan pertama saya harus menggunakan bahasa isyarat atau meminta bantuan lewat Google Translate jika sedang butuh sesuatu.


Selain mahasiswa, nampaknya tidak semua penduduk Barcelona bisa bahasa Inggris. Bahasa Spanyol adalah kunci untuk selamat di Barcelona.

Meski demikian, pesona Barcelona tetap tidak bisa dipungkiri oleh para penduduk bumi. Buktinya kota ini menempati peringkat kedua dalam hal popularitas di sektor wisata. Setiap harinya ribuan wisatawan mancanegara memadati Barcelona.

Hal tersebut jelas membuat kota ini terasa sesak oleh wisatawan yang hilir mudik di jantung Barcelona, bahkan jumlah kunjungan wisatawan ke Barcelona jauh lebih besar ketimbang jumlah penduduk Barcelona. Hal ini bisa dimasukkan dalam kategori overtourism.

Meski Barcelona sudah overtourism, warga lokal tetap saja ramah terhadap wisatawan. Selama ini saya tidak pernah melihat ada kekacauan yang menolak kehadiran wisatawan di Barcelona.

Satu hal yang patut diwaspadai adalah copet di lokasi wisata.

Sementara untuk antusiasme fans klub bola Barcelona yang sedang merayakan kemenangan, dan demonstrasi terkait kemerdekaan Katalonia atau demonstrasi di kampus hanya terkadang mengganggu lalu lintas di kota dengan sistem transportasi kelima terbaik di dunia ini.

Saya sendiri pernah mengalami musibah lucu terkait demonstrasi kampus. Saat itu saya sedang ada janji dengan profesor untuk membahas penelitian, namun ketika sampai di kawasan kampus ternyata sedang ada demonstrasi menolak kenaikan biaya kampus.

Seluruh gerbang ditutup, sehingga kegiatan perkuliahan hari itu ditiadakan. Para demonstran hanya mengizinkan para profesor untuk masuk, sisanya ditahan di gerbang.

Hal ini membuat saya putar otak untuk bisa masuk dan menemui profesor, agar ritme perkuliahan saya tidak terganggu.

Akhirnya saya berpura-pura menjadi profesor dari Indonesia yang sedang melakukan penelitian tentang olive oil di Barcelona. Tidak disangka ternyata para demonstran itu percaya, dan saya pun bisa melenggang masuk. Barangkali karena tampang saya yang tua, jadi para demonstran itu percaya saja jika saya adalah profesor.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(agr/ard)