LIPUTAN KHUSUS

Cerita Para Pencinta Ciu Garis Keras

Asri Wuni, CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 11:30 WIB
Cerita Para Pencinta Ciu Garis Keras lustrasi pemuda meminum Ciu Bekonang. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mbah Kodok tersenyum geli saat mendengar nama Ciu. Sambil cengar-cengir, ia menutupi giginya yang hampir keropos dengan tangan kirinya yang kurus. Dia bungah karena minuman alkohol tradisional itu selalu mengisi hari-harinya sejak dirinya baru menginjak usia remaja pada 56 tahun silam.

"Minum Ciu itu meditasi," ujar pria bernama lengkap Prawoto Bangun Kusumo itu. Di usianya yang sudah menginjak 68 tahun, Mbah Kodok tetap setia menenggak Ciu. "Mau? Itu ada aku simpan di sana," katanya seraya menunjuk salah satu jongko di Ruang Banjarsari, Solo, saat ditemui CNNIndonesia.com, awal Februari.

Mbah Kodok cuma satu dari sekian banyak pencinta Ciu garis keras. Tak hanya di Sukoharjo atau Solo, popularitas Ciu begitu melegenda di hampir seluruh Indonesia.


Ciu merupakan minuman fermentasi dan distilasi tetes tebu yang diproduksi oleh warga Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Selain di Bekonang, minuman pahang berbau menyengat ini juga diproduksi oleh warga Desa Ngombakan dan Desa Karangwuni, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

"Kalau beli Ciu di sana itu menarik. Mereka dulu pakai atraksi, disembur pakai api. Tapi kalau sekarang udah enggak kayak gitu," kenang Mbah Kodok.

Betul saja, tak ada keramaian berarti saat CNNIndonesia.com menyusuri gang-gang kecil di Desa Bekonang. Di sana hanya ada plang besar bertuliskan 'Sentra Industri Alkohol' yang dikelilingi hamparan sawah luas dan subur.

Papan bertuliskan sentra penghasil alkohol menyambut saat memasuki Desa Bekonang yang terletak di kecamatan Mojolaban, Sukoharjo.Papan bertuliskan sentra penghasil alkohol menyambut saat memasuki Desa Bekonang yang terletak di kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


Menajamkan indera penciuman, aroma badek (limbah alkohol) akan tercium di sepanjang jalan. Aroma khas di Desa Bekonang dan desa-desa penghasil alkohol lainnya di Sukoharjo. Aroma itu menemani pemandangan tumpukan kayu bakar dan drum berukuran besar yang terlihat menyempil di antara rumah-rumah warga.

Atraksi perajin Ciu? Jelas tidak ada. Yang tampak hanya lalu-lalang warga sekitar yang menatap heran kedatangan kami.

"Mereka tertutup, takut memang. Itu wajar banget," ujar pemerhati budaya, Hendromasto Prasetyo.

Sikap tertutup warga itu muncul akibat stigma negatif yang kerap ditujukan pada Ciu, minuman tradisional yang diproduksi di desanya. Belum lagi jika mengingat kawasan tersebut yang dikenal sebagai daerah para santri.

"Mereka jadi korban (stigma negatif). Itu yang membuat mereka tertutup," kata dia.

Apa yang dikatakan Hendro diiyakan oleh Suki, salah seorang pengrajin Ciu di Desa Karangwuni. Kini, mereka lebih tertutup pada pembeli. Jika dulu penjualan Ciu terbuka bagi siapa saja yang datang, tidak dengan saat ini. "Ya, sekarang kami takut. Nanti kami disalahkan lagi kalau ada kasus," kata dia.


Alhasil, tak sembarangan mereka menjual Ciu. Demi alasan keamanan, mereka memilih untuk lebih selektif pada pembeli. "Muka-muka lama lah," kata Suki.

Artinya, hanya orang-orang tertentu yang sudah dianggap pelanggan setia yang bisa mendapatkan satu liter Ciu seharga Rp12 ribu.
Desa Bekonang dikenal orang bukan karena produk alkoholnya melainkan minuman keras yang bernama Desa Bekonang dikenal orang bukan karena produk alkoholnya melainkan minuman keras yang bernama "ciu". Ciu sendiri merupakan bahan ethanol setengah jadi dari bahan dasar tetes tebu. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Melongok 'Pabrik' Ciu

Ukuran ruang pembuatan alkohol milik Suki tak besar-besar amat. Ruangan yang hanya tertutup oleh dinding-dinding kayu di samping kediamannya ini dipenuhi oleh drum-drum besar berisi tetes tebu yang tengah meletup-letup karena proses fermentasi.

Hawa panas dan pengap sontak terasa akibat proses pendidihan cairan fermentasi oleh api yang memancar dari tungku-tungku pembakaran.

Di ujung ruangan, tetes demi tetes cairan menadahkan dirinya dalam jerigen berukuran besar. Itulah yang kemudian disebut minuman Ciu, tetesan pertama dari proses penciptaan alkohol organik.

Dari kecil Suki mengenal minuman yang satu ini. Sejak tahun 1960-an, Suki sudah mulai membantu sang ayah mengolah tetes tebu untuk kemudian menjadi minuman Ciu. Usaha turun temurun, begitu Suki menyebutnya. "Nenek moyang saya deh," kata Suki.


Suki bercerita, pada mulanya Ciu dibuat untuk menghangatkan badan. Alkohol sekitar 25-30 persen yang ada di dalamnya ampuh membuat tubuh terasa lebih hangat. Ciu juga digunakan sebagai salep pijat atau bahkan dicampur dengan rempah-rempah lain sebagai penguat stamina tubuh.

"Dulu, sih, jarang yang minum ini untuk mabuk. Ya untuk kebugaran tubuh," kata Suki mengingat apa yang diceritakan sang ayah.

Tak ada catatan pasti kapan dan bagaimana awal minuman Ciu diproduksi. Namun, setidaknya masyarakat meyakini bahwa minuman kebanggaannya itu mulai hadir mengisi sendi-sendi kehidupan warga sejak masa penjajahan Belanda.

Kehadiran minuman ini diyakini tak lepas dari keberadaan Pabrik Gula Tasikmadu yang didirikan oleh Mangkunegara IV. Produksi yang tinggi membuat tetes tebu PG Tasikmadu pun ikut berlimpah. "Setahu saya, awalnya diproduksi untuk sendiri saja," kata Suki.

Versi lain menyebutkan, berbekal ilmu yang diberikan bangsa Belanda, warga mencoba membuat alkohol dari berlimpahnya tetes tebu PG Tasikmadu. Namun, usaha itu gagal lantaran alkohol buatan mereka kalah dari alkohol pabrikan yang berada di bawah kendali Belanda. Apa mau dikata, warga pun 'menyerahkan nasib' pada Ciu.

Kendati Ciu terus menetes dari pipa-pipa kecil yang dipasang di drum setiap rumah, bukan berarti produksi alkohol berhenti total. Sejak 1980-an, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga telah melarang produksi Ciu dan meminta warga untuk memproduksi alkohol keperluan industri dan medis. Pembuatan alkohol di Sukaharjo terus berjalan hingga saat ini, meski tak lagi dilakukan oleh semua warga.

Pemerhati budaya Hendromasto Prasetyo mengatakan, selama beberapa tahun, pengrajin alkohol di Bekonang sempat jadi salah satu pemasok alkohol untuk salah satu perusahaan industri agro-kimia di Indonesia. Hanya saja, kerja sama itu terputus tengah jalan. "Akhirnya banyak yang nakal, ah bikin Ciu lagi aja."

Kalimat itu diakui oleh Sutresno, salah satu pengrajin Ciu di Desa Bekonang. Menurutnya, praktis sejak kerja sama dengan perusahaan terhenti, penjualan alkohol di Desa Bekonang kian menurun.

[Gambas:Video CNN]

"Kalau sekarang, ya, paling masing-masing saja," kata dia pada CNNIndonesia.com. Alkohol, menurut pengakuan Sutresno, tak laku pesat layaknya Ciu. "Sepengalaman saya sekarang, pengiriman alkohol (untuk industri) paling cuma sekali dalam 4-5 bulan.

"Kalau sekarang, aku mesti mencium baunya dulu. Kalau yang dulu baunya khas," kata Mbah Kodok bercerita soal pengalamannya mencari Ciu.

Bukan tanpa alasan Mbah Kodok bicara seperti itu, soalnya kini banyak Ciu gaya anyar yang tidak memberikan aroma khasnya. "Malah yang enggak bau khas itu bahaya."

Seniman yang sempat aktif di Bengkel Teater besutan W.S Rendra ini pernah punya pengalaman dengan Ciu gaya anyar. Hanya meminum dua seloki, tapi malah diare yang diterimanya. "Aku enggak mau lagi minum Ciu yang baunya enggak khas," katanya.

Perubahan cita rasa itu muncul akibat beralihnya pembuatan alkohol bergaya industri. Hal itu misalnya bisa dilihat dari proses pembuatan yang jauh berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu perkakas yang terbuat dari tanah liat masih setia menemani setiap detik pembuatan Ciu, kini tanah liat itu tergantikan oleh plastik, besi, dan tembaga.

"Dulu kami memasaknya dengan kendil (wadah menanak nasi yang terbuat dari tanah liat). Enggak ada drum di sini," kata Sutresno.


Proses pendidihan tetes tebu yang telah difermentasi pun dilakukan di atas tungku dari tumpukan batu bata merah. Berbeda dengan sekarang yang menggunakan kompor. "Kualinya juga dari tanah lempung yang dibakar," tambahnya.

Dengan proses sedemikian tradisional, jumlah Ciu yang dihasilkan hanya 5-10 liter setiap harinya. Sementara dengan perkakas dan cara pembuatan yang lebih modern, kini Sutresno menghasilkan 150 liter per hari.

"Kalau pakai tungku, kan, lama. Jadi sedikit. Kalau sekarang karena pakai kompor jadi cepat bisa sampai 150 liter," kata Sutresno.

Belum lagi soal bahan. Dulu, kata Sutresno, beberapa dari pengrajin tak hanya menggunakan tetes tebu sebagai bahan utama. Tapi ada juga di antara mereka yang menggunakan ketan dan beras yang dibuat jadi Ciu.


Saat ini, pengrajin Ciu juga mulai melek kebutuhan milenial. Mereka berinovasi menghadirkan Ciu dengan berbagai varian rasa.

Mulai dari leci, apel, nanas, hingga pisang dengan warna yang tak lagi bening. Bau yang tercium juga tak semenyengat yang dulu. Urusan harga juga jelas berbeda, satu liter Ciu dengan varian rasa umumnya dijual dengan harga Rp20-Rp25 ribu.

Saat dicecap, rasa Ciu yang umumnya begitu tajam di lidah tak lagi kentara. Kini, hanyalah rasa manis pisang dan sedikit sensasi hangat di tenggorokan. (asa)