Kerja di Akhir Pekan Tingkatkan Risiko Depresi

CNN Indonesia | Sabtu, 16/03/2019 10:53 WIB
Kerja di Akhir Pekan Tingkatkan Risiko Depresi ilustrasi kerja akhir pekan (Bench Accounting via StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah lelah beraktivitas, akhir pekan sudah seharusnya jadi waktu untuk rehat dari pekerjaan.

Namun tak dimungkiri, ada beberapa jenis pekerjaan yang tetap menuntut untuk dilakukan di akhir pekan. Akan tetapi ada juga yang memang sengaja 'ditunda' sampai akhir pekan.

Bekerja saat akhir pekan mungkin boleh-boleh saja, namun jangan terlalu sering. Jika terlalu sering, tanggung sendiri akibatnya.


Penelitian menyebutkan bahwa orang yang bekerja di akhir pekan lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental.

Penelitian terbaru di Inggris menunjukkan perempuan dan laki-laki yang bekerja pada akhir pekan lebih mungkin mengalami depresi


Studi yang dipublikasikan di Journal of Epidemiology & Community Health ini menganalisis data survei dari 11.215 laki-laki dan 12.188 perempuan yang bekerja di Inggris pada tahun 2010-2012. 

Hampir setengah dari perempuan itu bekerja kurang dari 35 jam setiap minggunya, sementara mayoritas laki-laki bekerja lebih lama. Setengah dari partisipan perempuan bekerja setidaknya di beberapa akhir pekan. Jumlah laki-laki yang bekerja di akhir pekan lebih banyak yakni mencapai dua per tiganya.

Hasilnya, peneliti menemukan perempuan yang bekerja di akhir pekan memiliki lebih banyak gejala depresi daripada perempuan yang hanya bekerja di hari kerja.

Pada laki-laki mereka juga memiliki lebih banyak gejala depresi ketika bekerja di akhir pekan dan juga tidak menyukai kondisi pekerjaan mereka.

Temuan lainnya, laki-laki yang bekerja lebih sedikit dari 35 jam memiliki gejala depresi lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang bekerja 35-40 jam setiap pekannya.

Pada perempuan, gejala depresi yang lebih besar justru terlihat pada mereka yang bekerja setidaknya 55 jam seminggu.


"Hasil penelitian kami menunjukkan perbedaan gender dalam hubungan antara jam kerja yang tidak teratur dan gejala depresi," kata pemimpin penelitian ini Gillian Weston dari University College Lo, dikutip dari Reuters.

Peneliti menyarankan agar pemilik pekerjaan atau pengusaha dan anggota keluarga untuk mempertimbangkan pengaturan jam kerja yang lebih mendukung kesehatan. Weston mengatakan pengusaha harus menyadari bahwa jam kerja yang panjang dan akhir pekan dapat membahayakan kesehatan mental pekerja.

"Kita perlu beralih pada pekerja yang didukung dan dihargai, merasa mereka memiliki kendali, merasa mereka memiliki tujuan, dan diberi waktu yang cukup untuk pemulihan dan bersenang-senang. Ini akan menguntungkan pekerja yang menghasilkan tenaga kerja yang lebih bahagia dan lebih sehat yang tentu saja juga akan menguntungkan pengusaha," ucap Weston. (ptj/chs)