'Meneropong' Ekowisata di Indonesia

CNN Indonesia | Rabu, 20/03/2019 16:34 WIB
'Meneropong' Ekowisata di Indonesia Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia pariwisata di Indonesia mengenal pariwisata alam sebagai salah satu dari tiga 'mesin' utama yang diproyeksikan untuk menghasilkan devisa. Namun tidak banyak pihak yang menggarap ekowisata (ecotourism) sebagai langkah untuk menggarap potensi wisata di Indonesia dengan lebih serius.

Secara singkat definisi ekowisata menurut The International Ecotourism Society adalah segala aktivitas wisata yang memiliki tanggungjawab kepada alam, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

Bukan hanya berwisata di alam, prinsip yang diusung ekowisata harus memiliki beberapa manfaat seperti konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal, menghormati kepercayaan masyarakat setempat, dan pendidikan lingkungan. Hal-hal tersebut yang membedakan ekowisata dengan wisata alam pada umumnya.


Dalam sebuah jurnal berjudul Towards a More Desireable Form of Ecotourism, Mark B Orams menuliskan istilah ekowisata baru muncul pada pertengahan tahun 1980. Meskipun ide untuk menggabungkan wisata alam dan konservasi, telah muncul dan ditawarkan oleh Budowski pada tahun 1976.

Tak heran jika konsep ekowisata di Indonesia belum terlalu banyak digeluti oleh pegiat pariwisata.

Hal inilah yang menjadi pemantik diskusi dalam acara 'Ecotourism: The Good, The Bad, and The Future' di Erasmus Huis, Jakarta, Selasa (19/3). Dua orang pembicara yang didaulat sebagai narasumber terkait ekowisata adalah Krystyna Krassowska dan Christine Cabasset.

Sebagai pembicara pertama, seorang peneliti dari Irasec Christine Cabasset menekankan kepada faktor pertanian urban, inovasi, dan pendidikan.

Menurutnya pertanian urban yang dimaksud adalah mempertemukan wisatawan dengan komunitas lokal untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, untuk mewujudkan kehidupan yang ramah lingkungan.

Sementara inovasi lebih menekankan kepada teknologi yang bisa menginfokan tentang polusi udara atau hal-hal yang 'mengancam' kehidupan.

"Diperkirakan pada tahun 2025, kawasan Asia Tenggara akan memiliki sektor pariwisata yang berkualitas mengingat keragaman budaya dan alam yang dimilikinya. Hal ini bisa terwujud asalkan berkomitmen kepada pengembangan pariwisata berkelanjutan. Bahkan hal ini bisa sangat berdampak pada aspek sosial ekonomi warga sekitar," ujar Christine.

Sementara itu Krystyna Krassowska, selaku pegiat ekowisata yang sudah lama berkecimpung di Indonesia, mengatakan kesalahan para pelaku wisata dalam menggarap ekowisata adalah menganggapnya sebagai sebuah proyek bukan bisnis.

Padahal, ia melanjutkan, ekowisata adalah contoh nyata bagaimana bisnis bisa bersahabat dengan alam. Namun ia menekankan konsep bisnis yang tepat diaplikasikan adalah yang berbasis pada komunitas, sehingga aset-aset dalam ekowisata bisa terus terjaga.

"Indonesia adalah negara yang sangat kaya, setiap tempat memiliki keunikannya tersendiri. Sehingga prioritas setiap tempat pastilah berbeda-beda, misalnya masyarakat di kawasan pesisir dengan pegunungan," ujar Krystyna.

Ia menuturkan konsep pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) sudah mulai 'diadopsi' oleh pemerintah Indonesia, namun arahnya tetap di tangan pemerintah pusat.

[Gambas:Video CNN]

(agr/ard)