Barometer Klaim 'Otentik' Makanan Tradisional Indonesia

CNN Indonesia | Minggu, 07/04/2019 09:22 WIB
Barometer Klaim 'Otentik' Makanan Tradisional Indonesia Ilustrasi makanan tradisional Indonesia. (Foto: Christina Andhika Setyanti/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat rindu dengan makanan kampung halaman, makanan daerah kerap jadi penghapus kangen.

Demi memuaskan lidah lokal, banyak pedagang dan restoran pun mengklaim usahanya adalah makanan otentik. Namun tahukah Anda kalau ternyata Anda tak bisa percaya 100 persen pada klaim otentik.

"Klaim otentik tidak bisa sembarangan dan tidak semudah itu," kata chef Ragil Imam Wibowo kepada CNNIndonesia.com saat Festival Jajanan Bango, beberapa waktu lalu.


"Otentik itu bisa dilihat dari persentase penggunaan bahan-bahannya 80 persen bahan-bahannya."


Ragil menambahkan bahwa sebenarnya ketika dibawa keluar dari daerah asal, makanan daerah tak akan bisa otentik 100 persen. Otentik 100 persen didapatkan ketika seluruh bahan-bahan yang digunakan benar-benar berasal dari daerah tempat asal makanan itu sendiri. Oleh karenanya, masakan dengan tingkat otentikasi di bawah 80 persen masih dianggap otentik.

"Sebenarnya tidak mungkin bisa otentik 100 persen walaupun bahan-bahannya sama 100 persen. Tapi karena bahan-bahan makanan itu semua tergantung tanah. Ketika ditanam di tempat yang berbeda maka rasanya juga akan beda," ucapnya.



"Misalnya cabai. Sama-sama cabai, tapi beda tanah ditanamnya, maka rasanya juga akan beda."

"Ini salah kaprah arti otentik."



Barometer Klaim 'Otentik' Makanan Tradisional Indonesia
Rujak Soto, makanan khas Banyuwangi. (Foto: Utami Widowati)


Dia menambahkan bahwa sebenarnya cara termudah untuk mengenali faktor keotentikan makanan adalah dengan mengetahui asal daerah si bahan utama sebagai barometernya. Sebagai contohnya, ayam Taliwang yang berasal dari Lombok. Ketika dibawa keluar dari Lombok, maka pada dasarnya makanan ini sudah tak bisa lagi dibilang otentik Lombok 100 persen.

"Dalam kasus ayam taliwang, yang paling khas adalah sambal terasinya, bukan ayamnya. Jadi yang harus dibawa dari Lombok adalah terasinya," kata dia.

"Kalau ayamnya sih mau dari mana saja bisa. Yang otentiknya dilihat dari sambalnya, bukan ayamnya."

Hal ini berarti ketika ayam Taliwang tersebut tak dibuat dengan menggunakan terasi Lombok, sekalipun bahan baku pembuatnya memiliki resep yang sama, maka ini bukanlah masakan yang otentik. 

"Makanan Lombok, tapi bukan otentik."

[Gambas:Video CNN] (chs/chs)