Semakin Banyak Penduduk Swedia Enggan Naik Pesawat

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 10/04/2019 20:10 WIB
Semakin Banyak Penduduk Swedia Enggan Naik Pesawat Ilustrasi. (Barn Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lama "terkurung" dalam musim dingin yang panjang membuat penduduk Swedia memilih berwisata ke destinasi tropis. Namun kini semakin banyak dari mereka yang mengubah caranya bepergian karena ada anggapan bahwa naik pesawat terbang sama saja dengan merusak lingkungan.

Flygskam atau flight shaming atau rasa malu menumpang pesawat terbang membuat banyak penduduk Swedia, sebagian besar anak muda, memilih menumpang kereta untuk bepergian.

Gerakan memilih kereta dibandingkan pesawat terbang dimulai oleh aktivis lingkungan muda asal Swedia, Greta Thunberg (16), yang dikenal lewat aksinya memilih bolos sekolah setiap hari Jumat untuk melakukan demo pro-lingkungan hidup.


Thunberg memilih naik kereta ke World Economic Forum di Davos, Filipina, dan saat ke Konferensi Iklim di Katowice, Polandia.

Aksi Thunberg ditiru oleh banyak figur publik yang ikut mempopulerkan tagar #stayontheground, termasuk komentator ski asal Swedia, Bjorn Ferry, yang mengatakan hanya akan menumpang kereta untuk menghadiri pertandingan.

Sebanyak 250 orang yang bekerja di industri film menandatangani petisi aksi senada, setelah harian terbesar negara itu, Dagens Nyheter, menyerukan produser film Swedia untuk membatasi pengambilan gambar di luar negeri.

Akun anonim di Instagram Swedia muncul pada bulan Desember dengan konten yang berisi sindiran terhadap figur publik Swedia karena mempromosikan perjalanan wisata ke luar negeri. Akun ini diikuti lebih dari 60 ribu pengguna.

"Saya tentu saja terpengaruh oleh lingkungan saya dan flight shaming telah mempengaruhi cara saya memandang penerbangan," kata Viktoria Hellstrom (27), seorang mahasiswa ilmu politik di Stockholm, seperti yang dikutip dari AFP pada Rabu (10/4).

Musim panas lalu, ia naik kereta ke Italia, meskipun teman-temannya naik pesawat.

"Satu-satunya cara saya bisa membenarkan pergi ke sana adalah jika saya naik kereta," katanya.

Tiket Kereta Laris Dipesan

Lokasi Swedia yang berada jauh di utara Bumi membuat penduduknya mau tidak mau melakukan perjalanan dengan pesawat terbang untuk ke luar negeri.

Para peneliti di Chalmers University of Technology di Gothenburg pada tahun lalu menemukan fakta bahwa emisi per kapita Swedia dari penerbangan antara tahun 1990 dan 2017 adalah lima kali lipat rata-rata global.

Emisi dari perjalanan udara internasional Swedia telah melonjak 61 persen sejak 1990, kata studi tersebut.

Kekhawatiran Swedia bergantung pada data yang solid: Institut Meteorologi Swedia mengatakan pekan lalu bahwa suhu tahunan negara rata-rata naik dua kali lebih cepat daripada rata-rata global.

Pada bulan Maret, World Wildlife Foundation menerbitkan survei yang menunjukkan bahwa hampir satu dari lima orang Swedia memilih untuk bepergian dengan kereta api daripada melalui udara untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Tren itu paling terlihat di kalangan wanita dan orang muda.

Sementara itu, sebuah survei yang diterbitkan Selasa (9/4) di majalah wisata populer terbitan Swedia, Vagabond, mengatakan penduduk Swedia yang bepergian ke luar negeri pada tahun lalu berkurang 64 persen karena alasan iklim.

Operator kereta api nasional, SJ, melaporkan peningkatan 21 persen dalam perjalanan bisnis musim dingin ini, dan pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengoperasikan kembali layanan kereta malam ke kota-kota besar Eropa.

Jumlah penumpang penerbangan domestik diproyeksikan turun 3,2 persen pada 2018, otoritas transportasi mengatakan dalam angka terbaru dari September, meskipun jumlah penumpang pada penerbangan internasional naik empat persen.

Sejauh ini tren "rasa malu menumpang pesawat terbang" belum memiliki daya tarik yang sama di antara para tetangga Swedia, meskipun Finlandia telah melahirkan versi sendiri dari ekspresi, menyebutnya "lentohapea".

Ramai-ramai Enggan Terbang

Semboyan senada seperti #flyingless atau #stopflying mungkin belum menjadi tren global, tetapi penelitian--yang menyebutkan bahwa emisi CO2 yang ditimbulkan pesawat terbang rata-rata 285 gram per kilometer dibandingkan dengan 158 gram dari mobil dan 14 gram dari kereta--membuat semakin banyak orang enggan naik pesawat terbang demi mencegah perubahan iklim.

Fausta Gabola, seorang mahasiswa di Paris, Prancis, jadi ragu untuk mengambil tawaran beasiswa di Australia.

"Pergi ke sana merupakan impian saya," katanya kepada AFP.

"Saya melamar tanpa berpikir terlalu banyak mengenai perubahan iklim dan sekarang saya merasakan dilema. Saya akan merasa seperti orang munafik jika tetap pergi."

Ilmuwan politik Prancis Mathilde Szuba mengatakan bahwa keputusan enggan terbang membuat negara jauh semakin sulit untuk dijangkau.

"Tidak ada pengganti yang lebih mudah dari pesawat terbang," katanya kepada AFP.

"Anda tidak bisa pergi ke tempat yang jauh tanpa menaikinya."

Kembali di Swedia, beberapa ahli mengatakan bahwa mengubah pola perjalanan tidak selalu berarti menolak pesawat terbang.

Frida Hylander, seorang psikolog Swedia, mengatakan rasa malu dan rasa takut dipermalukan menjadi penyemangat terbaik untuk melakukan perubahan, tetapi dia juga memperingatkan agar tidak memaknainya secara berlebihan.

Faktor-faktor lain juga ikut berperan dalam perubahan iklim, kata Hylander, sambil memberi contoh musim panas Swedia yang luar biasa tahun lalu menyebabkan kebakaran hutan besar-besaran.

"Anda harus berhati-hati ketika menunjuk satu faktor tunggal," kata Hylander. (ard)