SURAT DARI RANTAU

Trotoar Tanpa Pecel Lele di Stockholm

Ahmad Satria Budiman, CNN Indonesia | Sabtu, 08/12/2018 16:01 WIB
Trotoar Tanpa Pecel Lele di Stockholm Suasana jalanan di Stockholm, Swedia. (Dok. Ahmad Satria Budiman)
Stockholm, CNN Indonesia -- Jalan kaki, naik bus atau kereta bukan pilihan utama bagi saya ketika masih tinggal di Indonesia. Panas, asap dan berdesak-desakan adalah tiga kata yang membuat saya malas melangkahkan kaki keluar rumah saat itu.

Tapi setelah bermukim di Stockholm, Swedia, tiga hal tersebut terpaksa saya lakukan. Memang ada pilihan taksi atau kendaraan online, tapi saya tidak berencana untuk puasa makan dan minum setelah menggunakannya, karena tarifnya membuat dompet perantau seperti saya mendadak ompong.

Setelah saya jalani, hidup tanpa motor dan mobil di Stockholm ternyata bukan suatu masalah, sebab transportasi umum di ibukota Swedia ini begitu terintegrasi.


Sebagai contoh, kita bisa mengetahui rute serta jadwal bus dan kereta dari aplikasi SL Apps atau Google Maps.

Jadwalnya pun boleh dikatakan tepat waktu, sehingga kita bisa memperkirakan dan memanfaatkan waktu perjalanan seefisien mungkin. Sudah pasti ketinggalan bus atau kereta jadi alasan yang kurang kreatif jika terlambat datang ke suatu acara di sini hehehe...

Bisa dibilang semua tempat di Swedia terjangkau oleh transportasi umum, termasuk di kawasan pinggiran yang jauh dari keramaian kota, seperti Lund dan Malmö.

Ibaratnya, sistem TransJakarta dan pedestrian nyaman yang tersedia di kawasan Sudirman-Thamrin itu terasa di seluruh penjuru Swedia.

Di aplikasi tersebut, kita bisa tahu cara bepergian dengan berjalan kaki, naik bus, naik kereta, atau kombinasi dari semuanya. Sistemnya dirancang untuk sangat mengakomodasi para pejalan kaki.

Selain bus dan kereta yang dirancang nyaman serta tepat waktu, jalur pedestrian juga membuat jalan kaki lebih menyenangkan. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa pejalan kaki adalah raja. The power of pedestrian.

Pedestrian di Stockholm. (Dok. Ahmad Satria Budiman)

Teduh, lebar dan aman. Selain pejalan kaki, pesepeda juga boleh melintas di pedestrian. Ada kedua jalur yang memisahkan, sehingga tercipta ketertiban dan tidak mungkin saling bertabrakan. Semua mendapat ruang kenyamanan yang serupa.

Bagi kaum difabel, pedestrian di Swedia juga sama nyamannya.

Bukan cuma anak muda, anak kecil dan orang tua juga sering terlihat berjalan kaki di Swedia.

Setiap hari saya sering berpapasan dengan mereka yang sedang lari, membawa anjing, mendorong kereta bayi atau sekadar jalan santai bersama pasangannya.

Jika biasanya saya selalu deg-degan karena takut terserempet motor atau mobil saat berjalan kaki di Jakarta karena badan area pedestrian direbut oleh warung rokok, parkiran, tukang gorengan sampai warung pecel lele, hal itu sama sekali tidak saya rasakan saat berjalan kaki di Swedia.

Para pedagang disediakan daerah tersendiri untuk berjualan, biasanya di area sekitar stasiun metro atau pusat perbelanjaan.

Selain lampu pengatur pejalan kaki untuk menyeberang, semua persimpangan jalan memiliki zebra cross dengan papan penunjuk jalan yang informatif.
Ketika memang waktunya pejalan kaki menyeberang jalan, semua kendaraan bermotor baik mobil maupun bus pasti berhenti.

Sekalipun tidak ada yang menyeberang jalan, kendaraan bermotor tetap berhenti. Tidak ada yang menerobos walau tidak ada yang menyeberang.

Lalu, bagaimana jika ada jalan yang ada zebra cross tapi tidak ada lampu pengatur lalu lintas?

Berdasarkan pengalaman saya, pengendara kendaraan bermotor selalu memprioritaskan pejalan kaki. Mereka akan melambat dan berhenti, kemudian mempersilakan kita berjalan untuk menyeberang terlebih dulu.

Seandainya dari jauh terlihat mobil, lalu kita berhenti untuk menunggu mobil itu lewat, justru mobil itu yang berhenti dan memberi isyarat pada kita untuk menyeberang lebih dulu.

Hal ini tidak hanya pagi dan siang, tapi juga malam hari.

Budaya lainnya dalam menempatkan pejalan kaki sebagai raja juga bisa dirasakan saat menggunakan eskalator.

Eskalator di Stockholm. (Dok. Ahmad Satria Budiman)

Seperti diketahui, eskalator merupakan fasilitas penunjang yang disediakan di tempat-tempat umum, seperti stasiun metro dan pusat perbelanjaan.

Saat di eskalator, kita harus berdiri di sisi kanan, tidak diperkenankan memenuhi ruang eskalator di sisi kanan dan sisi kiri sekaligus. Sebab sisi kiri diperuntukkan bagi mereka yang berjalan.

Jadi misalnya kita ingin cepat atau sedang terburu-buru, kita bisa tetap berjalan di eskalator tanpa harus terhalangi aksesnya untuk berjalan.

Bagi yang ingin tetap berdiri, mereka bisa memposisikan diri di sisi kanan. Ketika ternyata ada orang yang berdiri di sisi kiri, kita punya hak untuk menepuk pundak orang dan berkata "permisi mau lewat", seperti yang saya alami saat pertama kali menaiki eskalator di Stockholm.

Hal ini berlaku di semua eskalator di Stockholm. Sisi kiri di eskalator selalu dibiarkan kosong untuk mereka yang hendak cepat atau terburu-buru.

Jalan kaki dan naik angkutan umum jelas membuat saya bisa lebih berhemat selama tinggal di Stockholm.

Kaki pegal tentu saja terasa. Kalau sudah begitu saya tinggal mencari bangku taman untuk duduk sejenak.

Sambil duduk memandangi keramaian Stockholm dari pinggir jalan, saya sering tersenyum sendiri membayangkan betapa menyenangkannya jika Indonesia punya sistem kendaraan umum dan pedestrian senyaman ini.

Karena bukan cuma masalah kemacetan dan polusi, rasa malas ke sekolah, ke kantor atau silaturahmi ke rumah sanak saudara pasti juga akan teratasi.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(ard)