Belajar dari Gaya Kepemimpinan Kaisar Akihito

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 21:21 WIB
Belajar dari Gaya Kepemimpinan Kaisar Akihito Akihito telah memutuskan turun takhta dari Kekaisaran Jepang. (REUTERS/Toru Hanai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang menggelar upacara pengunduran diri Kaisar Akihito yang berlangsung, Selasa (30/4). Setelah dua abad kekaisaran Jepang, itu merupakan kali pertama seorang kaisar turun takhta.

Kaisar Akihito yang berusia 85 tahun menyerahkan takhta kepada anaknya, Putra Mahkota Naruhito. Selama 28 tahun menjadi kaisar Jepang, Akihito dianggap sebagai pemimpin yang dapat dijadikan panutan.

Gaya kepemimpinan Akihito dinilai dapat diterapkan di semua tipe organisasi, mulai dari nirlaba, bisnis, hingga lembaga keagamaan. Akihito dianggap juga bisa jadi contoh dalam menangani masalah rumit seperti suksesi lintas generasi.



Berbeda dari kaisar sebelumnya yang naik takhta karena kematian pendahulunya--termasuk saat Akihito menjadi Kaisar karena menggantikan ayahnya yang meninggal dunia pada 1989--Akihito justru menyerahkan tongkat estafet kepada anaknya saat masih hidup. Padahal, Akihito punya kesempatan menjadi kaisar seumur hidupnya sampai mengembuskan napas terakhir.

Akihito mencerminkan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, rendah hati, dan visioner. Sikap-sikap ini mesti dimiliki oleh pemimpin untuk membangun organisasi mereka.

Dikutip dari Insiders, Akihito dianggap berbeda karena banyak pemimpin di dunia yang menolak pensiun karena sejumlah alasan. Akihito mendobrak peraturan di Jepang yang menyatakan bahwa seorang kaisar melayani sampai mati dan tidak ada ketentuan untuk turun takhta.

Dengan menyerahkan kekuasaan kepada anaknya, Akihito dapat melihat tanggung jawab anaknya dalam memimpin Jepang. Akihito disebut bakal menjadi mentor dan penasihat untuk anaknya, Naruhito yang menjadi kaisar.

Secara tersirat, Akihito juga dianggap percaya dengan kemampuan anaknya sebagai penggantinya. Pasalnya, karena masih hidup, kinerja putranya tentu akan dibandingkan langsung dengan dirinya. Akademisi Jepang menggambarkan Pangeran Naruhito sebagai orang yang memiliki kepribadian dan prioritas untuk melanjutkan kekuasaan.

(ptj/asr)