Serial '13 Reasons Why' Jadi Alasan Bunuh Diri Remaja di AS

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 02/05/2019 00:02 WIB
Serial '13 Reasons Why' Jadi Alasan Bunuh Diri Remaja di AS Cuplikan serial 13 Reasons Why yang tayang di Netfli. (Courtesy Netflix/Beth Dubber)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tingkat bunuh diri di kalangan anak laki-laki Amerika Serikat berusia 10 hingga 17 meningkat setelah Netflix merilis musim perdana serial "13 Reasons Why" pada Maret 2017, menurut sebuah studi baru.

Para peneliti Nationwide Children's Hospital mengukur tingkat bunuh diri bulanan dan tahunan yang dilaporkan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dari 2013 hingga 2017 di antara orang berusia 10 hingga 64 tahun. Mereka kemudian membaginya menjadi kelompok umur.


Beberapa bulan setelah serial tersebut dirilis, tingkat bunuh diri tercatat 0,57 per 100 ribu anak usia 10 hingga 17 tahun, yang menjadi tingkat tertinggi dari periode studi lima tahun pada kelompok usia ini.


Sembilan bulan setelah serial tersebut ditayangkan, tercatat 195 kasus akibat bunuh diri dari kelompok usia ini, tulis studi yang diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry pada Senin (29/4).

Jumlah korban yang meningkat didominasi oleh anak laki-laki, yang jumlahnya naik 28,9 persen beberapa bulan setelah serial dirilis.

Jumlah tetap stabil untuk anak perempuan dalam bulan yang sama, meskipun seorang gadis remaja adalah karakter utama acara itu.


"13 Reasons Why" diangkat dari novel karya Jay Asher yang diterbitkan pada tahun 2007.

Novel dan serialnya mengisahkan soal Hannah Baker, yang diperankan oleh Katherine Langford, yang meninggalkan 13 rekaman suara misterius pada kaset setelah bunuh diri.

Dalam rekamannya ia menyapa seluruh orang yang dianggapnya menjadi alasannya bunuh diri.

Netflix mengatakan dalam sebuah pernyataan Selasa (30/4), "Ini adalah topik yang sangat penting dan kami telah bekerja keras untuk memastikan bahwa kami menangani masalah sensitif ini secara bertanggung jawab."

Bunuh diri adalah pembunuh ketiga penduduk Amerika berusia 10 sampai 24. Aksi menghilangkan nyawa mengakibatkan sekitar 4.600 meninggal dunia setiap tahunnya, menurut CDC.

Anak laki-laki lebih mungkin meninggal karena bunuh diri daripada anak perempuan, tetapi anak perempuan lebih mungkin melaporkan percobaan bunuh diri. Studi yang sama tidak mengukur upaya bunuh diri.

"Pemuda mungkin sangat rentan terhadap penularan bunuh diri," kata Jeff Bridge, penulis studi, Direktur Center for Suicide Prevention and Research di Nationwide Children's, dokter anak dan psikiater di Ohio State University College of Medicine, dalam pernyataannya.

Bridge menjelaskan bahwa penularan dapat "dipupuk oleh cerita-cerita yang membuat sensasi atau mempromosikan penjelasan sederhana tentang perilaku bunuh diri, memuliakan atau meromantisasi orang yang meninggal, menghadirkan bunuh diri sebagai cara untuk mencapai tujuan, atau menawarkan resep potensial tentang cara mati dengan bunuh diri."

Setelah serial diluncurkan, banyak sekolah yang mengirimkan surat kepada orangtua agar mereka menemani anaknya dalam menonton tayangan tersebut.

Pembuat serial itu juga mendapat kritik tajam karena dianggap mempopulerkan "tren" bunuh diri.

Netflix menambahkan video peringatan dan informasi layanan kesehatan publik dalam setiap episode serial tersebut.

Studi lain menemukan bahwa siswa yang menonton musim kedua dari serial itu kemungkinan kecil melaporkan upaya melukai diri daripada siswa yang tidak menonton "13 Reasons Why" sama sekali.

Siswa yang tidak menonton seluruh musim kedua memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri di masa depan, menurut studi tersebut.

Para penulis penelitian itu menyimpulkan bahwa serial itu memperlihatkan bahwa bunuh diri membawa efek buruk dan menguntungkan bagi remaja.

"Orang tua harus berhati-hati dalam mengenalkan anaknya dengan serial ini," kata Ackerman dalam sebuah pernyataan.

"Dengan musim ketiga dari seri ini yang segera tayang, pengawasan lanjutan diperlukan untuk memantau potensi bunuh diri."


Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis

[Gambas:Video CNN]

(ard)