Sektor Pariwisata Sri Langka Rugi US$4,4 M Setelah Bom Paskah

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 05/05/2019 22:27 WIB
Sektor Pariwisata Sri Langka Rugi US$4,4 M Setelah Bom Paskah Wisata di Sri Lanka. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri pariwisata Sri Lanka merugi hingga US$4,4 miliar akibat pembatalan pelancong setelah kejadian pemboman yang menewaskan lebih dari 250 orang dua pekan lalu.

Dilansir dari Reuters, sektor pariwisata selama ini menyumbang sekitar 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Negara telah menderita kerugian yang besar akibat serangan pemboman.

"Ini pukulan besar bagi ekonomi, juga industri pariwisata," kata Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu.
"Agar ekonomi berkembang, penting bagi pariwisata untuk kembali ke tempat semula sebelum serangan."


Pemesanan hotel turun rata-rata 186 persen selama seminggu setelah serangan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Angka ini didapat dari data konsultasi perjalanan ForwardKeys. Penurunan lebih dari seratus persen menunjukkan lebih banyak pembatalan dari pemesanan.

Kepala Biro Pariwisata Sri Lanka Kishu Gomes mengatakan kepada Reuters tingkat pembatalan di hotel seluruh negari hampir mencapai 70 persen. Ibu kota Kolombo mengalami pukulan terbesar dengan pembatalan hotel ini.

"Beberapa maskapai penerbangan juga menghentikan frekuensi penerbangan. Faktor muatan jauh lebih rendah daripada biasanya," kata Gomes.

Di Bentota, salah satu rangkaian resor pantai di selatan Kolombo, tingkat hunian telah anjlok, menurut wawancara dengan manajer hotel.
Samanmali Collone, mengelola Warahena Beach Hotel dengan tujuh kamar di Bentota, di mana kamarnya berharga 10.000 rupee Sri Lanka ($56) per malam.
Hotelnya sebelumnya telah penuh dipesan tetapi ketika berita pemboman pada hari Minggu Paskah muncul, semua tamunya membatalkan.

"Tidak ada pemesanan: minggu ini, bulan depan, bahkan di bulan Oktober, semuanya dibatalkan," katanya, berbicara di restoran pinggir pantai yang sepi di mana para pelayan memoles kacamata dan mengatur ulang meja, tetapi tanpa ada tanda tamu datang.

Collone mengatakan jika pemesanan tidak segera dilakukan, ia harus melepaskan beberapa dari enam belas stafnya.

"Kami memiliki masalah sebelumnya, tetapi ini sama sekali berbeda," katanya. (age/age)