LANCONG SEMALAM

Menjejak Dua Benua dalam Satu Malam di Istanbul

Agustiyanti, CNN Indonesia | Minggu, 05/05/2019 10:43 WIB
Menjejak Dua Benua dalam Satu Malam di Istanbul Pemandangan Dermaga Eminonu, Istanbul, Turki. (CNN Indonesia/Agustiyanti)
Istanbul, CNN Indonesia -- Jalanan yang macet, bunyi klakson mobil, hingga metrobus yang mirip dengan TransJakarta membuat kota Istanbul, Turki bagi saya sekilas mirip dengan Jakarta.

Pusat ekonomi dan bisnis Turki ini sebenarnya sudah jauh lebih maju dari segi transportasi publik. Istanbul memiliki metro atau kereta bawah tanah sejak 1875, kedua tertua di dunia setelah London.

Kemudian ada tram yang dibangun sejak 1992 dan metrobus sejak 2007. Berbeda dengan TransJakarta yang sebagian jalurnya masih harus berebut dengan kendaraan pribadi, seluruh jalur metrobus sudah steril.



Meski maju dari sisi transportasi publik dan memiliki harga bensin tiga kali lipat dari Indonesia, nasib lalu lintas Istanbul tak jauh lebih baik dari Jakarta. Namun, kemacetan tak lantas membuat pesona kota ini pudar.

Istanbul adalah satu-satunya kota di dunia yang melintas dua benua, Asia dan Eropa. Kedua sisi ini memiliki perbedaan kental dari sisi arsitektur bangunan yang dihubungkan kini oleh tiga jembatan.

Menikmati Istanbul dari dua sisi dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dari atas Menara Galata. Kedua, menggunakan kapal untuk mengitari Selat Bosphorus.

Perjalanan saya di Istanbul sendiri dimulai dari Menara Galata. Saya dan rombongan berangkat dari hotel sekitar pukul 08.30 waktu setempat dan sampai 30 menit kemudian.

Menara Galata atau dalam bahasa Turki disebut Galata Kulesi sudah berusia lebih dari 600 tahun. Pada mulanya, menara ini didirikan untuk pengawasan pertahanan kota. Namun pada 1777, kekaisaran Ottoman mulai menggunakannya untuk melihat sumber jika terjadi kebakaran di kota.

Menjejak Dua Benua dalam Satu Malam di IstanbulPemandangan dari Menara Galata. (CNN Indonesia/Agustiyanti)

Dari atas Menara Galata, kita bisa melihat seluruh kota Istanbul, baik bagian Asia maupun Eropa. Menara ini juga memiliki kafe di bagian atas yang antara lain menjual teh Turki. Cocok untuk menghangatkan badan usai terpapar udara dingin saat mengitari bagian atas menara.

Usai mengunjungi Menara Galata, tujuan saya dan rombongan berikutnya adalah Hagia Sofia. Sebelum mengunjungi salah satu landmark Istanbul ini, kami terlebih dahulu mengisi perut. Pilihan jatuh pada restaurant dengan makanan khas Turki yang terletak tak jauh dari Hagia Sofia.

Meski menarik mata, rasa makanan Turki bagi saya terasa hambar. Saya menyarankan untuk membawa sambal atau bubuk cabai dari Indonesia jika berencana berkunjung ke Turki, apalagi jika untuk waktu yang lama.


Usai mengisi perut, kami hanya perlu berjalan beberapa ratus meter menuju Hagia Sophia. Salah satu ikon kota Istanbul yang bisa menjadi cerminan toleransi beragama di negara yang hampir 99 persen penduduknya beragama Muslim ini.

Hagia Sophia dibangun pada tahun 370 Masehi dan berfungsi sebagai gereja hingga 1453 Masehi. Pada tahun 1453 Masehi saat Turki diambil alih kekuasaan Sultan Utsmani, fungsi bangunan ini diubah menjadi masjid.

Usai keruntuhan Kesultanan Ustmani, bangunan ini pun kembali diubah fungsinya. Di bawah Republik Sekuler Turki, Hagia Sophia diubah menjadi museum pada 1935 Masehi.

Bangunan ini sangat kental dengan sejarah. Banyak cerita di setiap sudut.

Hal yang menarik, terdapat kaligrafi-kaligrafi bernuansa Islam sekaligus lukisan-lukisan bernuansa Kristiani di sejumlah sudut museum.

Bahkan di salah satu sudut, terdapat lukisan Bunda Maria yang berada di tengah-tengah kaligrafi Allah SWT dan Nabi Muhammad.

Menjejak Dua Benua dalam Satu Malam di IstanbulBagian dalam Hagia Sophia. (CNN Indonesia/Agustiyanti)

Lokasi Hagia Sophia juga berdekatan dengan bangunan bersejarah lainnya. Tepat di seberang museum itu, terdapat Masjid Biru.

Saya dan rombongan tak mampir untuk masuk ke dalam masjid tersebut. Perjalanan kami selanjutnya adalah bangunan bawah tanah, Basilica Cistern yang berlokasi juga tak jauh dari Hagia Sophia.

Basilica Cistern dibangun pada tahun 542 Masehi di bawah Kekaisaran Byzantine sebagai tempat penampungan air atau waduk bawah tanah. Untuk masuk ke bangunan ini kita perlu membayar 20 Turkish Lira (sekitar Rp56 ribu) per orang.

Bangunan ini memiliki banyak menara yang terbuat dari marmer sehingga terlihat mirip istana. Dalam bahasa Turki, Basilicia Cistern dinamai Yerebatan Sarayi berarti istana tenggelam.

Lorong gelap dengan banyak menara dan cahaya seadanya menciptakan kesan misterius pada bangunan ini.

Tak heran, istana tenggelam ini pernah dipergunakan sebagai salah satu lokasi syuting Inferno, film thriller yang dibintangi Tom Hanks dan diangkat dari novel laris karya Dan Brown.

Hari sudah cukup sore saat saya dan rombongan keluar dari Basilica Cistern. Kami pun bergegas menuju Dermaga Eminonu.

Dari Dermaga Eminonu, kami menuju ke kapal pesiar yang telah disewa untuk rombongan kami mengelilingi Selat Bosphorus.

Menjejak Dua Benua dalam Satu Malam di IstanbulSelat Bosphorus. (CNN Indonesia/Agustiyanti)

Selat ini memisahkan Istanbul bagian Eropa dan Asia, serta menghubungkan Laut Marmara dan Laut Hitam. Menyusuri selat ini, ada berbagai bangunan yang menarik untuk dilihat, di antaranya Istana Topkapi Palace dan Dolmahbace.

Selain itu, ada pula Jembatan Bosphorus dan tembok kota yang dibangun bangsa Romawi. Jika menyusuri selat saat senja, ada bonus burung-burung camar yang berlalu lalang dari atas kapal.

Puas mengitari selat hampir dua jam, hari saya ditutup dengan makan malam di pinggir Dermaga Eminonu.

Sepiring nasi dan ikan segar menjadi menu utama saya, ditambah sup khas Turki yang meski rasanya sedikit hambar bisa menghangatkan tubuh saya dari dinginnya Istanbul di malam hari.


[Gambas:Video CNN]

(ard)