JAZIRAH ISLAM

Chefchaouen, Kota Biru yang Sarat Akulturasi Budaya

TRANS 7, CNN Indonesia | Senin, 06/05/2019 18:21 WIB
Chefchaouen, Kota Biru yang Sarat Akulturasi Budaya Kota Biru Chefchaouen di Maroko, Afrika Utara. (AFP PHOTO / EMILY IRVING-SWIFT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maroko, Negeri Mediterania yang terletak di Afrika Utara ini tiada henti memancarkan sinarnya. Jejak sejarahnya yang merekam penguasaan bangsa Arab, Spanyol dan Prancis menyisakan corak budaya dan tradisi yang memikat.

Chefchaouen merupakan kota yang terhampar di Pegunungan Rif, barat laut, Maroko. Chefchaouen sempat berada di bawah kekuasaan Spanyol pada tahun 1920.


Kota ini berdekatan dengan Tangier, kota pelabuhan yang berhadapan langsung dengan Selat Gibraltar dan Spanyol.


Jika bangunan-bangunan Santorini di Yunani dan Sidi Bou Said di Tunisia berselimutkan warna putih, bangunan di Chefchaouen memberikan nuansa biru.

Menurut beberapa catatan sejarah, warna biru pada kota Chefchaouen ini merupakan sisa sejarah abad ke-15, saat para pengungsi Yahudi lari dari penguasaan Spanyol dan menetap di Chefchaouen.

Mereka membawa tradisi mewarnai semua barang dengan warna biru, untuk menyamakan dengan langit dan mengingatkan pada Tuhan.

Kota Chefchaouen berkonsep kota tua, atau madinah qodimah, sehingga untuk mengelilingi kota Chefchaouen turis bisa bersepeda atau berjalan kaki.

Di Maroko umumnya penduduk bisa berbicara dalam bahasa Arab, Darija, atau Prancis.


Uniknya di Chefchaouen, karena dekat dan sempat berinteraksi dengan Spanyol pada abad ke-15, masyarakatnya lebih mahir berbahasa Spanyol dan Arab ketimbang Prancis.

Penghasilan utama masyarakat Chefchaouen bergantung pada wisata dan pertanian.

Chefchaouen sudah menjadi tujuan turis dunia di Maroko, selain Casablanca dan Marrakesh.

Selain keunikan bangunan dan bahasa, ada pula yang menarik perhatian, yaitu cara pria Chefchaouen berpakaian.

Mereka setiap harinya menggunakan jubah yang dikenal dengan nama djellaba, jubah panjang hangat untuk melindungi tubuh dari udara dingin gurun yang menusuk.

Djellaba pada awalnya dibuat khusus sebagai pakaian bertarung. Untuk memudahkan pergerakan djellaba kemudian dibuat lebih pendek dengan ukuran yang lebih besar.

Kini djellaba menjadi pakaian sehari-hari sampai untuk pergi ke masjid.

Djellaba khas Chefchaouen dibuat secara tradisional, menggunakan alat pemintal, layaknya kerajinan tenun di Indonesia. Tentu saja pakaian ini wajib masuk ke daftar oleh-oleh saat bertandang ke Maroko.


[Gambas:Video CNN]

Saksikan episode lengkap 'Jazirah Islam' hanya di Trans 7 setiap Senin-Jumat pukul 14.00 WIB.

(ard)