China Sewakan Pulau-pulau Tak Berpenghuni untuk Wisata

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 06/05/2019 13:03 WIB
China Sewakan Pulau-pulau Tak Berpenghuni untuk Wisata Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Tyrone Siu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Provinsi Guangdong, China, mengumumkan rencana menyewakan sejumlah pulau yang tidak berpenghuni untuk keperluan pariwisata, transportasi, perikanan, dan lainnya.

Mengutip Antara, Senin (6/5), perwakilan Dinas Sumber Daya Alam Provinsi Guangdong menuturkan kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memberikan hak guna pulau kepada beberapa pihak atau individu yang memenangkan pelelangan.

Para pemohon bisa mengajukan proposal yang kemudian dipelajari untuk mendapatkan persetujuan hak guna pulau dari pemerintah dan pakar.


Dari 26 pulau tak berpenghuni di China yang mendapatkan sertifikat registrasi "real estate" selama periode 2011-2017, sebanyak 25 di antaranya telah dikaji untuk mendapatkan persetujuan.


Tak hanya Guangdong, Pemprov Zhejiang dan Pemprov Hainan juga telah mengeluarkan aturan sejenis untuk memindahkan hak guna sejumlah pulau tak berpenghuni.

"Saat ini kebijakan baru Guangdong diarahkan untuk menarik peluang usaha tanpa batas," kata Direktur Fakultas Strategi dan Politik Kemaritiman Guangdong Ocean University, Zhang Jiangang.

Dalam daftar 176 pulau tak berpenghuni yang dikeluarkan Badan Kelautan Nasional China (SOA) pada 2011, ia menuturkan, Provinsi Guangdong menempati peringkat pertama dengan 60 pulau.

Menurut Zhang Guangdong kaya akan sumber daya kelautan dan akan lebih baik memanfaatkan pulau-pulau tak berpenghuni, sehingga bisa berkontribusi terhadap pembangunan melalui pariwisata dan perekonomian.

Para pakar di China mencatat beberapa pertanyaan besar yang menjadi kekhawatiran bersama, yakni investasi awal yang sensitif, sulitnya pembangunan konstruksi, dan lamanya masa investasi.

Para pakar berpendapat, tanpa modal dan dukungan yang memadai, bisnis pariwisata kepulauan tidak memiliki prospek.

Para pemilik yang mendapatkan izin hak guna pulau selama 50 tahun tidak bisa memastikan apakah modal yang telah dikeluarkan kembali atau tidak.

Pada November 2011, Pulau Dayangyu di Provinsi Zhejiang, yang merupakan pulau pertama di China yang ditawarkan kepada publik berhasil dimiliki oleh salah satu perusahaan asal Kota Ningbo selama 50 tahun dengan nilai pembelian 20 juta RMB.

Perusahaan tersebut memanfaatkan pulau itu sebagai tempat rekreasi kelas atas dengan fokus utama pada industri kapal layar pesiar (yacht).

Butuh waktu hampir tiga tahun untuk memulai pembangunan dengan nilai investasi sebesar 500 juta RMB. Namun pembangunan tahap awal masih belum selesai.

"Mungkin para investor akan menghadapi beberapa tantangan," kata Zhang, sambil mengingatkan perlunya pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

[Gambas:Video CNN]

(agr)