Sosis Belatung Berpotensi Jadi Makanan Masa Depan

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 12:14 WIB
Sosis Belatung Berpotensi Jadi Makanan Masa Depan Ilustrasi. Sosis belatung berpotensi jadi makanan masa depan. (forwimuwi73/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi masyarakat Gunung Kidul, DI Yogyakarta, belalang dijadikan bahan makanan atau sekadar camilan. Di belahan bumi Nusantara lain seperti Papua, ulat sagu biasa disantap langsung. Serangga tampaknya tak aneh menjadi sumber pangan seperti halnya yang ditemukan peneliti asal Australia.

"Apakah Anda mau makan sosis pasaran yang dibuat dari belatung? Bagaimana dengan larva serangga lain dan bahkan serangga seutuhnya seperti belalang? Potensi terbesar untuk produksi protein ada pada serangga dan sumber tanaman pangan," kata peneliti Louwrens Hoffman dari University of Queensland, Australia mengutip dari New York Post.

Hoffman melakukan penelitian untuk mengeksplorasi bagaimana belatung, serangga, dan sumber protein alternatif lain bakal berkontribusi pada kebutuhan pangan dunia. Menurut dia, stok daging di masa depan tak akan bisa mencukupi kebutuhan global. Artinya, diperlukan sumber protein alternatif.


Studi menunjukkan, konsumen Barat akan tertarik mengonsumsi makanan olahan serangga. Bagian terakhir berarti keberadaan serangga disamarkan dalam bentuk makanan olahan seperti sosis, misalnya.

Mengutip CNN, dalam penelitiannya, Hoffman mulanya fokus pada daging unggas. Industri daging unggas begitu masif di seluruh dunia. Para produsen pun ditekan untuk menemukan alternatif protein yang lebih memperhatikan keberlangsungan, etika, dan lingkungan.

Dari sana, Hoffman melihat potensi larva alias belatung dari lalat black soldier (Hermetia illucens) sebagai sumber protein untuk produksi daging ayam.

Hoffman pun melakukan riset soal potensi mengganti produk daging unggas dengan belatung. Riset pun membuktikan bahwa ayam broiler diberi asupan 15 persen tepung larva yang memberinya aroma, rasa, serta tekstur juicy dan lembut.

"Dunia yang overpopulasi akan berjuang menemukan protein yang cukup, kecuali orang berkeinginan untuk membuka pikiran dan perut untuk pilihan makanan yang lebih luas," kata Hoffman.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)