Cita Rasa Asli Empal Gentong Langsung dari Sumbernya

CNN Indonesia | Minggu, 19/05/2019 12:54 WIB
Cita Rasa Asli Empal Gentong Langsung dari Sumbernya Penjual empal gentong di Cirebon. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah).
Cirebon, CNN Indonesia -- Mencari empal gentong di Cirebon sama halnya dengan mencari Gudeg di Yogyakarta, atau Rujak Cingur di Surabaya. Mudah dan sporadis.

Tak heran jika porsinya mengambil porsi sebagai makanan khas sebuah daerah.

Bagi saya, makanan semacam ini terasa lebih laik jika mengklaim dirinya dengan jargon "Belum lengkap ke ..., kalau belum makan ..." ketimbang kudapan instagramable yang 'dirajai' oleh para pesohor.


Layaknya makanan yang dibuat oleh rakyat jelata, tidak ada patron khusus dalam membuatnya. Namun hal ini bukan berarti standar akan rasa menjadi tersingkirkan.

Sepintas makanan ini terlihat seperti gulai yang bahan utamanya diambil dari sapi. Mulai dari daging, usus, limpa, babat, dan segala jenis jeroan yang menjadi musuh para penderita kolesterol. Semua unsur itu 'dilebur' ke dalam gentong atau periuk dari tanah liat.

Konon sebelum sapi, awalnya makanan ini menggunakan daging kerbau sebagai bahan baku utamanya. Daging kerbau dipakai karena menghormati umat Hindu, yang pada masa itu masih menjadi mayoritas di tanah Jawa. 

Kebijakan ini kabarnya tidak lepas dari perintah Sunan Gunung Jati, salah satu dari dewan wali songo yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan kedamaian dalam menyebarkan agama Islam. Beliau tahu bahwa umat hindu sangat menghormati sapi, sehingga memilih menggunakan kerbau. Namun seiring berkembangnya waktu, kini daging sapi menjadi lebih dominan.

Santan adalah unsur penting dalam empal gentong, selain menu jeroan itu sendiri. Biasanya Empal gentong disajikan dengan nasi atau lontong, dan dilengkapi dengan sambal kering atau cabai bubuk dan potongan kucai.

Saya sengaja tidak mendatangi depot-depot besar, karena tidak jarang pengalaman yang berakhir mengecewakan. Mulai dari ketidaknyamanan karena padat, penyajiannya yang kurang bersahaja, hingga rasanya yang tumpang tindih.

Bagi saya gerai-gerai kecil hingga menengah selalu lebih menyenangkan, namun dengan catatan khusus yakni tempatnya meyakinkan dan lokasinya cukup strategis.

Tempat pertama yang saya jajal untuk mencoba empal gentong di Cirebon terletak di sebuah warung seberang pintu masuk Keraton Kasepuhan. Tempat ini sepintas kurang mencolok, karena berada jauh dari pusat keramaian.

Secara keseluruhan empal gentong di tempat ini tidak terlalu spesial dan tidak juga mengecewakan. Olahan dagingnya cukup lembut, namun sayang rasa kuahnya kurang kuat sehingga tidak bisa meninggalkan jejak nikmat di lidah. Singkat kata, ini adalah empal gentong versi generik.

Berkelana di Negeri Empal GentongEmpal gentong di Keraton Kasepuhan. (Foto: CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)


Untuk tempat kedua dan ketiga, saya sengaja memilih tempat yang sangat padat untuk skala Cirebon. Tepatnya di perempatan jalan dr. Cipto Mangunkusomo atau seberang Grage Mall.

Jika diperhatikan ada tiga tempat yang menjual empal gentong di tempat itu, yakni Mang Dul, Bang JT, dan Mang Darma. Sayangnya malam itu Mang Darma sedang tutup, sehingga pilihan saya hanya ada Mang Dul dan Bang JT.

Dari dua tempat ini Mang Dul jauh terlihat lebih ramai ketimbang Bang JT, sehingga saya tergoda untuk mencoba empal gentong di tempat ini terlebih dulu.

Rasa empal gentong di Mang Dul jauh lebih enak ketimbang yang saya coba di tempat pertama. Meskipun dagingnya tidak terlalu lembut, namun bumbunya meresap hingga ke dalam. Rasa yang ditinggalkan oleh empal gentong Mang Dul sangat layak untuk dicoba, namun saya tidak sanggup untuk memesan mangkuk kedua karena porsi dagingnya yang cukup banyak.

Berkelana di Negeri Empal GentongEmpal gentong Mang Dul, seberang Grage Mall. (Foto: CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)


Satu hal yang perlu diperhatikan, bagi para penderita kolesterol sebaiknya takar kesehatan masing-masing sebelum menyantap hidangan yang menggoda nafsu ini.

Usai mencoba empal gentong di kedai sebelah saya pun melipir Bang JT, namun di sini saya lebih tertarik dengan menu empal asem yang tertera dalam daftar menu. Empal asem sangat berbeda dengan empal gentong, karena bumbunya tidak mengandung santan dan rasanya lebih asam. Cocok untuk siapa pun yang kurang suka dengan sensasi santan.

Berkelana di Negeri Empal GentongEmpal asem Bang JT. (Foto: CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)

Tampilan empal asam ini pun sedikit berbeda dengan empal gentong. Kuah berwarna putih susu karena santan digantikan dengan kuah bening yang terlihat menyegarkan. Dengan kombinasi kuah kaldu bak sup ditambahkan dengan sensasi rasa asam di dalamnya, empal asam ini terasa begitu nikmat. 

Bagi saya menu empal asam ini cocok sebagai 'obat' bagi mereka yang sudah rindu dengan empal gentong, namun memiliki masalah kesehatan. Dagingnya pun minim lemak, karena sudah disortir terlebih dulu sebelum dimasak.

[Gambas:Video CNN] (chs)