Kala Kencan Jadi Barang Asing bagi Muda-mudi Korsel

Tim, CNN Indonesia | Senin, 27/05/2019 07:55 WIB
Kala Kencan Jadi Barang Asing bagi Muda-mudi Korsel Ilustrasi. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kim Joon-hyup pergi kencan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun tak berkencan. Namun, itu bukan kencan biasa. Yang dilakoni Joon-hyup bersama pasangan kencannya adalah tugas kuliah.

Pergi berkencan jadi salah satu tugas kuliah dalam kelas Gender dan Budaya di Sejong University, Seoul, Korea Selatan, yang diampu oleh pengajar Bae Jeong-weon. Kelas itu mengajarkan siswa tentang berbagai aspek kencan, cinta, dan seks.

Kelas itu sangat populer. Mahasiswa dipasangkan dengan lawan jenis secara acak untuk pergi berkencan selama empat jam.


"Ada cukup banyak siswa yang datang [mengikuti kelas]. Ada siswa yang belum pernah berkencan sebelumnya, ada pula yang ingin menciptakan peluang dengan berkencan seperti ini," ujar Jeong-weon, melansir CNN.

Kelas itu tak hadir tanpa alasan. Kemunculannya didorong oleh tingkat berkencan di kalangan muda-mudi Korsel yang semakin menyusut. Pada 2018, mayoritas warga Korsel berusia 20-44 tahun masih berstatus lajang. Di antara mereka yang tidak berkencan, 51 persen pria dan 64 persen wanita mengaku ingin tetap melajang.

Faktanya, semakin banyak orang Korsel yang menghindari hubungan romantis di tengah kesulitan ekonomi dan permasalahan sosial yang menimpa negara.

Tingkat pengangguran Korsel naik ke level tertinggi dalam 17 tahun, yaitu sebesar 3,8 persen. Sebanyak 10,8 persen anak muda berusia 15-29 tahun juga dilaporkan tak bekerja.

Sebuah survei yang dilakukan oleh situs pencari kerja, JobKorea, pada 2019 menemukan hanya 1 dari 10 mahasiswa yang lulus pada tahun ini dan mendapatkan pekerjaan tetap.

Salah satu pasalnya adalah banyak anak muda Korsel yang mengaku tak memiliki waktu, uang, atau kapasitas emosional untuk berkencan.

Kompetitifnya dunia kerja membuat banyak anak muda menghabiskan waktu luang untuk mendapatkan sertifikat tambahan atau keterampilan profesional yang menjadi nilai tambah bagi mereka.

Joon-hyup, misalnya. Dia mengikuti kelas kuliah dalam waktu yang padat. Di malam hari, dia pergi bekerja. Dia juga mengikuti kelas desain singkat selama 30 menit.

"Aku tidak punya banyak waktu. Bahkan, jika aku bertemu seseorang, aku menyesal karena tidak punya waktu untuknya," kata Joong-hyup.

Sementara kehidupan Joong-hyup dipenuhi oleh aktivitas padat, Lee Young-seob justru takut bahwa kencan akan mengganggu kariernya.

"Karier adalah hal yang penting dalam hidup saya," kata Young-seob. Jika dirinya berkencan saat tengah mencari pekerjaan, lanjutnya, dia akan merasa cemas dan tak mampu berkomitmen.

Kencan juga bisa mahal. Biro jodoh Duo memperkirakan, biaya rata-rata yang dikeluarkan dalam setiap kencan mencapai 63.495 won atau sekitar Rp795 ribu.

Survei yang dilakukan oleh Embrain menemukan, 81 persen responden mengatakan bahwa biaya kencan adalah sumber stres hubungan asmara. Setengah dari responden mengaku tak akan mulai berkencan jika status ekonomi mereka belum mapan.

Jeong-weon ingin mengubah persepsi mahasiswa tentang duit kencan yang dianggap barang mahal. Dalam kelasnya, dia membatasi mahasiswa untuk tidak mengeluarkan uang lebih dari 10 ribu won atau sekitar Rp130 ribu.

"Banyak mahasiswa berpikir bahwa kencan membutuhkan uang banyak. Tapi jika mereka kreatif, ada banyak cara untuk bersenang-senang tanpa menghabiskan terlalu banyak uang," ujar Jeong-weon.

Uang bukan satu-satunya masalah yang dihadapi anak muda Korsel. Ada pula persoalan kejahatan seksual, voyeurisme, dan diskriminasi gender yang telah menjadi masalah sosial utama di Negeri Ginseng.

Tercatat ada 32 ribu kasus kekerasan seksual pada 2017 lalu. Angka itu meningkat drastis dari 2008 yang hanya mencatat sebanyak 16 ribu.

Angka kekerasan dalam pacaran juga telah melonjak. Dari sebanyak 9 ribu kasus pada 2016 menjadi 19 ribu kasus pada 2018.

Lee Ji-su, misalnya, yang takut menjalin hubungan romantis setelah seorang temannya mengalami kekerasan dalam pacaran. Apa yang dialami oleh sang kawan membuatnya sangat berhati-hati memilih pasangan kencan.

"Itu membuat saya bertanya-tanya, apakah berkencan itu penting dalam hidup saya?" kata Ji-su.

Tak cuma itu, bahaya voyeurisme juga ikut mengintai hubungan romansa muda-mudi Korsel. Sebanyak lebih dari 6.400 kasus rekaman pornografi ilegal dilaporkan pada 2017. Sebanyak 65 persen kasus pembuatan video ilegal melibatkan kenalan atau pasangan romantis.

Belum lagi skandal besar yang melibatkan beberapa bintang K-Pop dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu semakin membuat hubungan romansa jadi hantu yang menakutkan bagi muda-mudi Korsel.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)