Menghayati Panggilan Azan Pitu di Masjid Cipta Rasa Cirebon

CNN Indonesia | Sabtu, 18/05/2019 23:21 WIB
Menghayati Panggilan Azan Pitu di Masjid Cipta Rasa Cirebon Keraton Kasepuhan Cirebon, di mana di dalam kompleksnya terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa. (CNN Indonesia/Agung Rahmadsyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di kawasan Kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, mempunyai tradisi unik yaitu 'azan pitu' atau azan tujuh pada setiap salat jumat.

Azan yang dilakukan sekaligus oleh tujuh (pitu) muazin itu pun menjadi daya tarik sendiri bagi pelancong ke Kota Udang yang menyempatkan diri menunaikan salat Jumat di masjid tua tersebut. Tentunya, arsitektur masjid yang unik tersebut pun bisa menjadi referensi tersendiri bagi pelancong yang menggemari seni keindahan dan teknologi bangunan.

Dan, serupa sejarah masjid yang dibangun pada zaman Sunan Gunung Jati tersebut (sekitar 1480 masehi), tradisi azan pitu pun sudah berusia ratusan tahun.


Seorang muazin 'azan pitu' yang juga pengurus DKM Masjid Agung Sang Cipta Rasa Moh Ismail di Cirebon, Sabtu, menceritakan awal mula dikumandangkannya azan pitu itu merupakan siasat Nyi Mas Pakung Wati yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

"Di mana saat itu Masjid Agung Sang Cipta Rasa mendapat serangan dari Menjangan Wulu," kata Ismail seperti dilansir dari Antara.


Ismail menuturkan Menjangan Wulu merupakan seorang tokoh sakti yang cemburu, karena banyak masyarakat Cirebon berbondong-bondong memeluk Islam.

Menurutnya ornamen masjid yang kental dengan agama Hindu membuat masyarakat penasaran untuk datang ke masjid. Apalagi saat azan dikumandangkan, masyarakat yang saat itu belum memeluk Islam pun bertambah penasaran.

"Menjangan Wulu ini tidak suka dengan banyaknya masyarakat yang masuk Islam dan akhirnya mencari tahu kenapa banyak orang datang ke masjid, kesimpulannya ternyata karena azan," ujarnya.

Menikmati Panggilan Azan Pitu di Masjid Cipta Rasa CirebonTujuh muazin melantunkan panggilan salat, azan, sebelum salat jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon. (Antara/Khaerul Izan)

Menjangan Wulu,lanjut Ismail, kemudian melancarkan siasat liciknya, agar azan tidak berkumandang di masjid. Melalui kesaktiannya, tutur Ismail, Menjangan Wulu pun menaruh racun di atas masjid.

Racun itu kata Ismail, bereaksi ketika ada orang azan dan menyerang muazin yang mengakibatkan sakit. Melihat situasi tersebut, Nyi Mas Pakung Wati pun menelurkan gagasan untuk 'melawan' ulah Menjangan Wulu.

"Kemudian Nyi Mas Pakung Wati memerintahkan agar muazinnya itu jangan satu," tuturnya.


Instruksi Nyi Mas Pakung Wati pun langsung dilaksanakan para muazin dan azan pun dikumandangkan dua orang, akan tetapi masih terkena serangan racun.

Dan muazinnya terus ditambah untuk menangkal serangan racun itu sampai enam orang yang azan, akan tetapi masih juga terkena serangan racun.

"Kemudian di tambah lagi, di mana yang azan jadi tujuh orang, ternyata sampai selesai azan tidak ada serangan racun," katanya.

Saat azan dikumandangkan tujuh muazin, kata Ismail, tiba-tiba dari arah atap masjid terdengar ledakan keras dari racun milik Menjangan Wulu itu. Akhirnya, azan tujuh pun berlanjut setiap kali saalat lima waktu yang ujuannya untuk mengantisipasi serangan susulan.

Setelah dirasa sudah kondusif, azan tujuh dialihkan hanya untuk salat jumat dan itu berlanjut ampai sekarang pun masih dikumandangkan.

(Antara/kid)