Bahaya Bermain Petasan yang Mengintai Anak

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 09/06/2019 02:49 WIB
Bahaya Bermain Petasan yang Mengintai Anak Ilustrasi. Dua anak tengah bermain petasan kembang api di Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bermain petasan hingga kembang api sudah jadi tradisi bagi masyarakat, termasuk anak-anak saat menyambut hari besar seperti bulan Ramadan dan juga hari Lebaran. Namun, tak jarang petasan membawa petaka bagi orang-orang yang memainkannya, khususnya anak-anak.

Petasan dan kembang api merupakan permainan berdaya ledak rendah. Jika digunakan dengan benar, petasan cenderung tidak berbahaya. Meski demikian, psikolog anak, Kantiana Taslim menilai, petasan mesti dimainkan dalam batasan tertentu.

"Dalam hal ini, permainan petasan bisa saja dilakukan, selama didampingi orang dewasa, dilakukan di tempat aman, jauh dari keramaian, dan ada batasan usia tertentu, misalnya tidak untuk anak-anak di bawah usia 7 tahun," kata Kantiana kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Anak berusia di bawah tujuh tahun dinilai masih belum dapat berpikir secara operasional dan sulit untuk memahami sebab-akibat yang timbul.

Petasan sebaiknya dimainkan oleh anak yang sudah dapat berpikir dan paham mengenai konsekuensi yang akan didapatkan dari memainkan petasan. Hal ini penting untuk pemahaman mengenai petasan dan bahaya yang akan ditimbulkan.

"Petasan sebaiknya dimainkan oleh anak-anak yang memang sudah dapat diajak berpikir, berdiskusi, dan memahami konsekuensi dari suatu tindakan, sehingga mereka dapat memahami dengan sungguh-sungguh tentang benda yang mereka mainkan serta bahayanya," ucap Kantiana yang merupakan psikolog di Personal Growth ini.

Orang dewasa harus menjelaskan proses permainan, yang boleh dilakukan, dan yang mesti dihindari oleh anak-anak saat memainkan petasan. Aturan keselamatan juga harus dipertegas agar anak patuh.

Saat bermain pun anak-anak juga harus selalu diawasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari bahaya yang muncul karena petasan, baik pada anak dan orang di sekitarnya.

Secara psikologis, bermain petasan dapat menimbulkan bahaya seperti trauma terhadap bunyi yang keras pada anak yang kecil. Selain itu, jika terjadi luka, bermain petasan juga dapat memunculkan rasa bersalah pada anak.

"Belum lagi perasaan bersalah ketika anak bercanda atau pun bermain-main dengan temannya dan melukai temannya dengan petasan. Baik karena ketidaksengajaan maupun karena anak belum paham dan belum dapat berpikir panjang atas tindakannya," tutur Kantiana.

Selain petasan, Kantiana menyarankan agar anak dapat mengisi Ramadan dan hari raya Idulfitri dengan aktivitas yang menyenangkan dan produktif. Pilihlah permainan yang mengasah ketekunan, kesabaran, melatih negosiasi, pengambilan keputusan, keterampilan sosial, dan meningkatkan pengetahuan anak. Misalnya, permainan scrabble, uno, monopoli, membaca buku, kesenian, dan olahraga.

Ajakan untuk berbagi juga dapat ditanamkan saat Ramadan dan Lebaran. Misalnya, orang tua bisa mengajak anak dengan kegiatan berbuka bersama anak-anak kurang mampu hingga menyisihkan barang yang masih bagus namun masih layak pakai.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)