Rambipuji Menuju Desa Wisata

ANTARA, CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 14:43 WIB
Rambipuji Menuju Desa Wisata Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Desa wisata adalah salah satu konsep andalan untuk menjaring wisatawan mancanegara. Biasanya paket desa wisata memadukan keelokan alam dan pengalaman bersentuhan dengan penduduk.

Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur rupanya menyimpan potensi yang bisa dikembangkan menjadi sebuah desa wisata, bahkan sentra industri tempe.

Rambipuji memiliki luas wilayah lebih dari 362ribu hektare, dengan jumlah penduduk sekitar 11,8 ribu orang.


Mengutip Antara, Kamis (22/5), konon tempe asal Desa Rambipuji merupakan tempe yang paling enak, dan sebagian besar warga di salah satu dusun di desa setempat mayoritas menjadi perajin tempe turun temurun.

Perajin tempe di Desa Rambipuji sebagian besar berada di Dusun Curah Ancar masih memiliki harapan untuk terus dikembangkan karena tempe selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

Kepala Desa Rambipuji, Dwi Diyah Setyorini, menuturkan pengembangan potensi desa tersebut tidak semudah membalik telapak tangan karena pola pikir masyarakat yang lebih senang mencari pekerjaan instan ke Kota Jember daripada mengembangkan potensi desanya.

Ia menuturkan perlu kesabaran untuk mengajak warga mengembangkan potensi desa.

Selain dari usaha tempe turun temurun, ia melanjutkan, Desa Rambipuji memiliki sejumlah potensi wisata yang kini mulai berbenah, seperti Gumuk Gong dan Gumuk Dempet yang diharapkan dapat menjadi ikon wisata di desa setempat.

Wisata Gumuk Gong memiliki batu besar menyerupai alat musik tradisional berupa gong dan merupakan peninggalan sejarah.

Sejarawan M.M. Sukarto Karto Atmodjo menyebutkan prasasti batu gong adalah peninggalan pada era neolithikum (batu muda), yang banyak melahirkan kebudayaan megalithikum (bangunan dari batu besar).

Dalam suatu penelitian atas prasasti yang ditemukan di Dusun Kaliputih, Desa Rambipuji tersebut, arkeolog Dr W.F. Stutterheim berasumsi bahwa prasasti batu gong tersebut merupakan prasasti tertua di Jawa Timur yang diperkirakan pada abad VI Masehi.

Prasasti dari peninggalan kerajaan kuno mulai dikembangkan sebagai modal pengenalan keberadaan batu gong, sehingga pemerintahan Desa Rambipuji memutuskan untuk mengolah dan mengembangkan kawasan sekitar Batu Gong dengan bekerja sama Perhutani yang memiliki kawasan setempat, sehingga bukit yang disulap menjadi sebuah tempat bersantai, berkumpul, dan wisata sejarah.

Kedua objek wisata itu dikelola oleh badan usaha milik desa (Bumdes) dan pihak desa hanya mengucurkan anggaran untuk mendukung infrastruktur, sehingga diharapkan dapat meningkatkan potensi pendapatan desa melalui kedua objek wisata yang mulai berbenah itu.

Sementara itu pengelola objek wisata Gumuk, Samiyo, mengatakan kawasan wisata sejarah itu sering dikunjungi oleh wisatawan lokal saat akhir pekan untuk bersantai dengan keluarga karena ada beberapa gazebo yang disediakan untuk beristirahat sambil memesan sejumlah makan ringan yang disediakan di kantin.

"Pada saat tertentu banyak umat Hindu yang singgah ke watu gong sebelum menuju ke Pura Mandara Giri Semeru Agung di Kabupaten Lumajang," kata Samiyo.

Untuk masuk ke Gumuk Gong, wisatawan tidak dipungut biaya masuk dan hanya dikenai biaya parkir kendaraan yang dipungut oleh pihak pengelola dari LMDH tersebut, sehingga wisata sejarah tersebut murah meriah dan bisa menjadi sarana alternatif untuk bersantai bersama keluarga.

[Gambas:Video CNN] (agr)