Catatan Perjalanan

Suka Duka Berpuasa di China

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Minggu, 02/06/2019 14:56 WIB
Suka Duka Berpuasa di China Masjid Nanning di China. (Foto: CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya keluar dari bandara Nanning Wuxu International Airport, China, tepat pada pekan kedua bulan Ramadan. Saat itu masih ada waktu dua jam menuju berbuka puasa.

Perjalanan kali ini adalah puasa pertama di luar negeri yang 'terlama' dalam hidup saya. Sebelumnya, saya sempat merasakan puasa di luar Indonesia, namun hanya satu atau dua hari saja.

Pada hari pertama, menimbang efisiensi waktu karena saya butuh istirahat demi meliput Indonesia yang bermain di pertandingan pertama, maka restoran cepat saji adalah pilihan paling bijak.


Sebelum menuju restoran cepat saji, saya dan sejumlah rekan sempat menelusuri pasar malam yang ada di dekat kompleks tersebut.

Namun makanan yang ditemukan adalah makanan yang menggugah hasrat untuk memotret, bukan untuk memakan.

Sahur hari pertama di Nanning, saya bertumpu pada sebungkus mie instan yang dibawa dari Indonesia. Cukup membantu untuk perut saya yang moderat ini.

Bila berjumpa nasi di Indonesia adalah sebuah hal yang pasti, maka bertemu nasi di China menjadi sebuah ambisi.

Pada hari kedua, niat untuk bertemu restoran halal terpatri di dalam hati.

Usai gagal mengunjungi restoran halal pertama karena tempat yang ditunjukkan oleh internet ternyata tidak ada, maka saya dan rekan-rekan menuju pusat kota.

Arah yang kami tuju adalah Masjid Nanning, sekitar 10 km dari tempat menginap.

Pikiran sederhana yang melandasi hal itu tentu saja adalah di dekat masjid bakal ada restoran untuk muslim yang beraktivitas di masjid tersebut.

Pola pikir sederhana ini yang kemudian menuntun kami menuju gerbang bahagia. Ada restoran halal di pojok jalan. Tulisan halal dalam bahasa arab terpampang di depan warung tersebut.

Masuk ke dalam, kendala bahasa jelas jadi penghalang. Namun rasa lapar adalah sumber kekuatan.

Bahasa gerak tubuh dan simbol tangan jadi andalan. Beruntung restoran itu menyajikan gambar, bukan hanya tulisan.

Tinggal tunjuk gambar dan jumlah yang ingin dipesan, sepuluh menit kemudian makanan sudah tersaji di hadapan.

Makanan di warung halal tersebut terdiri dari mie rebus dan nasi. Untuk nasi, mereka menyajikan menu nasi goreng, nasi ayam, dan nasi daging, serta nasi telur.

Bahan-bahan lain yang biasa dicampurkan ke dalam menu tersebut adalah wortel, bawang merah, dan daun bawang.

Karena masakan tersebut termasuk jenis masakan oseng-oseng, maka waktu memasak hanya sepuluh menit. Rasanya pun nikmat, meski tak senikmat makanan Indonesia, karena perut sudah dibiarkan kosong tanpa penghuni sejak fajar datang.

Meski restoran halal sudah ditemukan, bukan berarti segalanya akan lancar di hari-hari berikutnya. Jadwal latihan dan tanding Indonesia yang sampai malam, membuat cita-cita menuju warung halal sering gagal.

Di media center, memang tersaji makanan. Namun makanan yang ada tidak sesuai dengan selera perut saya.

Kondisi itu membuat saya menjadi akrab, bahkan sangat akrab dengan pisang dan tomat, serta sejumlah roti yang ada di media center jika waktu berbuka sudah datang.

Model buka puasa sehat dengan makan pisang, tomat, dan roti tentu merupakan jaminan ketidakhadiran radang tenggorokan. Pola makan seperti itu mungkin pula mirip dengan pola makan seorang Miss Universe, entah saya tidak tahu pasti.

Namun di momen itu saya malah sering rindu berbuka dengan gorengan, 'makanan pokok' berbuka puasa di Indonesia yang sering membuat banyak orang sudah menderita radang tenggorokan di minggu kedua puasa.

Sementara untuk sahur, saya wajib berburu makanan setelah tugas liputan kelar, sekaligus memuaskan perut saya dengan makanan setelah pada momen buka puasa mereka mau dirayu dengan hanya diisi tomat dan pisang.

Syukur-syukur bisa bungkus nasi di warung halal, atau setidaknya membeli ayam tanpa nasi di restoran cepat saji. Bila hal itu tak terpenuhi, maka jangan khawatir, di kamar hotel masih ada mie instan yang setia menanti.

Puasa di Nanning sekitar 1,5 jam lebih lama dibandingkan di Indonesia. Subuh di Nanning ada di pukul 4.40 sedangkan Maghrib ada di pukul 19.25.

Cuaca di Nanning sering berubah dalam sembilan hari saya berada di sini. Bila kondisi mendung dan dingin, suhu udara bisa ada di angka 25 derajat, sangat nyaman untuk berjalan kaki.

Namun jika terik matahari yang menghiasi langit, maka suhu udara ada di angka 33-34 derajat. Bagi warga lokal, panas matahari di angka itu adalah sebuah hal yang cukup ditakuti.

Saya diwanti-wanti untuk memakai payung. Mereka belum tahu saya berasal dari Bekasi, yang panasnya terkadang bisa lebih terik di siang hari.

Secara umum, puasa di China sangat mudah. Karena hari-hari saya cukup sibuk dan tak ada halangan berarti dari kondisi cuaca dan lokasi tempat liputan.

Hari berlalu dengan cepat. Tidur usai sahur dan bangun pukul 08.00 waktu setempat, pergi ke arena pukul 10.00, selesai liputan sekitar pukul 18.00 atau bahkan hingga malam.

Hal yang sulit tentunya adalah buka puasa dengan ideal. Karena buka puasa ideal ala Indonesia adalah ketika ada kolak, gorengan, dan bahkan nasi di depan mata.

[Gambas:Video CNN] (agr)