10 Alat Kontrasepsi Paling Populer di Indonesia

Honestdocs, CNN Indonesia | Senin, 03/06/2019 14:48 WIB
10 Alat Kontrasepsi Paling Populer di Indonesia Ilustrasi alat kontrasepsi. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kontrasepsi adalah alat, obat, atau prosedur bedah yang berfungsi untuk menunda atau berhenti memiliki anak. Ada banyak jenis alat kontrasepsi yang tersedia, mulai dari pil KB, suntik KB, kondom, hingga prosedur sterilisasi seperti tubektomi untuk wanita, atau vasektomi untuk pria.

Pemilihan alat KB sendiri disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasutri.

Berdasarkan riset Honestdocs terhadap 13.506 responden, hanya sekitar 33% responden saja yang menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan seksual. Dengan kata lain, ada sekitar 67% responden yang berisiko 'kebobolan' karena tidak memakai KB saat berhubungan intim.


Responden yang berpartisipasi terdiri atas 51% wanita dan 49% pria yang sebagian besar tergolong usia subur, yaitu 25-34 tahun.

Dilihat dari grafik usia responden, penggunaan alat kontrasepsi mengalami peningkatan di usia 18-44 tahun, dan kemudian menurun di usia 44 tahun ke atas. Wajar, karena pada usia 44 tahun ke atas, wanita mulai memasuki masa menopause. Faktor lain adalah semakin bertambahnya usia, hasrat seksual alias libido mulai menurun sehingga lebih jarang berhubungan intim.

Berdasarkan data, provinsi yang penduduknya enggan menggunakan alat kontrasepsi adalah Bengkulu kemudian Aceh, Yogyakarta, Bali, dan Banten.

Setelah ditelusuri lebih jauh, setiap orang mempunyai alasan tersendiri enggan menggunakan alat kontrasepsi. Penyebabnya meliputi:
• Ingin hamil dan punya anak
• Seks terasa lebih nikmat tanpa alat kontrasepsi
• Alasan kepercayaan
• Takut efek samping alat kontrasepsi
• Sudah steril sehingga merasa tidak perlu pakai alat KB lagi

Selain karena memang ingin hamil dan punya anak, ternyata masih banyak orang menganggap bahwa alat kontrasepsi menghalangi kenikmatan bercinta. Misalnya saja, kondom menyebabkan vagina terasa perih dan sakit, tali IUD membuat pria merasa seperti tertusuk-tusuk saat berhubungan seksual, dan sebagainya.

Jenis Alat Kontrasepsi Paling Populer

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah lama menggalakkan Program Keluarga Berencana dengan moto "Dua Anak Cukup". Program tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan jumlah penduduk, tapi juga menurunkan angka kematian ibu dan anak.

Guna mewujudkan program tersebut, masyarakat dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi setiap kali berhubungan seksual. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan kelahiran dan bahkan juga mencegah infeksi menular seksual (IMS).

Berikut hasil survei Honestdocs selengkapnya.

1. Kondom

Berdasarkan survei terhadap 13.506 responden, sebagian besar responden yaitu sekitar 63,2% memilih kondom sebagai alat kontrasepsi andalan.

Jenis alat kontrasepsi ini efektif mencegah kehamilan hingga 98% asalkan dipasang dengan benar dan tidak bocor. Bahkan, kondom merupakan satu-satunya alat kontrasepsi yang dapat mencegah penyebaran infeksi menular seksual (IMS).

Provinsi yang banyak menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi adalah Bengkulu (87%), Bali (80%), dan DKI Jakarta (76%).

2. IUD

Setelah kondom, IUD menempati posisi kedua sebagai alat kontrasepsi paling populer di Indonesia. Hal ini telah terbukti melalui survei internal, bahwa sekitar 8,9% responden menggunakan alat ini.

IUD adalah alat kecil berbentuk T yang dimasukkan ke dalam rahim guna mencegah terjadinya pembuahan. IUD terdiri dari 2 jenis, yaitu:
  • IUD tembaga: tidak mengadung hormon dan kandungan tembaganya bertindak sebagai spermisida untuk membunuh sperma yang masuk.
  • IUD hormonal: mengandung progestin, fungsinya untuk mencegah sperma membuahi sel telur.
Tingkat efektivitas IUD mencapai 99,8% dalam mencegah kehamilan. Alat KB ini bahkan dapat digunakan 3-5 tahun, tergantung dari jenis IUD yang Anda pilih.

3. Pil KB

Pil KB termasuk ke dalam tiga besar alat kontrasepsi paling populer di Indonesia dan dipilih oleh 7,4% responden.

Pil KB mengandung dua hormon, yaitu estrogen dan progestin, yang berfungsi untuk menghambat pelepasan sel telur (ovulasi). Kontrasepsi hormonal ini memiliki tingkat efektivitas hingga 98%, selama diminum secara rutin dan sesuai aturan.

4. Suntik KB

Suntik KB termasuk salah satu jenis alat kontrasepsi yang cukup diminati di Indonesia dan dipilih oleh sekitar 5% responden.

Suntik KB mengandung hormon progesteron atau kombinasi progesteron dan estrogen dan disuntikkan pada lengan bagian atas atau bagian bokong setiap 3 bulan guna melindungi wanita dari kehamilan.

5. Tubektomi

Dari total 13.506 responden yang mengikuti survei, sebanyak 3,1% di antaranya mensterilisasi diri dengan tubektomi. Angka ini terbilang cukup banyak sehingga menandakan bahwa wanita cukup berani memutuskan berhenti punya anak.

Tubektomi adalah salah satu bentuk kontrasepsi mantap (kontap) dengan cara memotong tuba falopii atau saluran tuba. Ketika tuba falopii dipotong, maka sel telur tidak dapat masuk ke dalam rahim dan sperma pun tidak bisa membuahi sel telur. Tubektomi ini biasanya ditujukan untuk pasangan usia subur yang sudah tidak ingin punya anak lagi.

Tuba falopii yang sudah dipotong tidak dapat dikembalikan lagi seperti semula. Oleh karena itulah, tubektomi termasuk salah satu metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yang bersifat permanen. Alat KB ini juga efektif mencegah kanker ovarium.

6. KB Implan

Menurut survei terhadap 13.506 responden, sebanyak 1,5% di antaranya menggunakan KB implan atau susuk KB.

Alat kontrasepsi ini dimasukkan ke bawah kulit lengan atas dan cukup banyak diminati karena pemasangannya cukup mudah, efektif, dan memberikan perlindungan yang cukup lama. Bahkan, hampir 99% penggunaan KB implan efektif mencegah terjadinya kehamilan selama 3 tahun.

7. Senggama Terputus (coitus interruptus)

Dari total 13.506 responden yang terlibat dalam survei, sebanyak 1,1% responden memilih untuk melakukan senggama terputus. Metode coitus interruptus ini adalah salah satu kontrasepsi non-hormonal yang dilakukan dengan cara mencabut penis sebelum ejakulasi saat berhubungan seksual. Masyarakat lebih mengenal metode ini dengan sebutan ejakulasi di luar.

Metode senggama terputus efektif mencegah kehamilan hingga 80%. Namun tentunya, hal ini perlu dilakukan secara hati-hati dan memastikan bahwa ejakulasi terjadi di luar vagina.

8. Vasektomi

Selama ini, alat kontrasepsi sering kali diidentikkan dengan wanita. Padahal, pria juga dianjurkan untuk menggunakan alatnya demi mencegah kehamilan.

Hanya sebanyak 0,6% pria telah melakukan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) berupa vasektomi atau operasi pemotongan vas deferens, yaitu saluran berbentuk tabung kecil di dalam skrotum yang membawa sperma dari testis menuju penis.

Akibatnya, akses sperma menuju air mani jadi tertutup sehingga mencegah pembuahan. Perlu diingat bahwa vasektomi bukanlah proses kebiri sehingga pria masih bisa ereksi dan tidak memengaruhi kejantanan pria.

9. Spermisida

Dari sekian banyak alat kontrasepsi, hanya sedikit atau sekitar 0,6% responden menggunakan alat KB spermisida. Alat ini mengandung bahan kimia nonoxynol-9 yang dapat membunuh sperma atau menghambat pergerakannya.

Spermisida biasanya diletakkan di dalam vagina dekat leher rahim dan harus segera dimasukkan sebelum berhubungan intim. Efek alat KB ini umumnya mulai bekerja setidaknya 15 menit setelah digunakan.

10. Diafragma

Faktanya, masyarakat Indonesia cukup jarang menggunakan diafragma dan dipilih oleh hanya sekitar 0,6% responden.

Alat kontrasepsi ini berbentuk kubah dan terbuat dari karet atau silikon. Setengah bagian kubah tersebut diisi krim atau spermisida untuk membunuh sel sperma agar tidak masuk ke vagina. Setelah itu, alat ini dimasukkan ke dalam vagina dan diletakkan di atas serviks sebelum berhubungan intim.

10 Alat Kontrasepsi Paling Populer di Indonesia


Popularitas Kondom Berdasarkan Usia

Berdasarkan survei, kondom merupakan alat kontrasepsi paling banyak dipilih responden, terutama mereka yang berusia muda 18-24 tahun (78%) dan remaja 12-17 tahun (72%).

Pada responden usia 25-44 tahun, kondom tak terlalu dipilih kemungkinan karena pada usia tersebut responden masih berencana memiliki anak.

Kemudian pada responden usia 44-54 tahun, penggunaan kondom kembali meningkat dan kemudian menurun responden pada usia di atas 55 tahun.

Popularitas Kondom Berdasarkan Jenis Kelamin

Responden pria maupun wanita pada kelompok usia 18-34 tahun sama-sama memilih kondom sebagai alat kontrasepsi. Bahkan, persentase pria dan wanita yang memilih kondom hampir seimbang.

Namun pada kelompok usia 35-44 tahun, lebih banyak pria (71%) yang memilih kondom ketimbang wanita. Bahkan pada kelompok usia 45-54 tahun, hanya 12% wanita yang memilih kondom.

Uniknya pada kelompok usia di atas 65 tahun, pemilihan kondom didominasi oleh responden berjenis kelamin wanita (63%). Popularitas kondom pada kaum pria usia muda mungkin karena kondom sangat mudah didapatkan di berbagai toko swalayan, supermarket, atau apotek terdekat dan harganya pun terjangkau. (vws)