Merayakan Lebaran Bersama Almarhum ala Suku Pisang

CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 15:09 WIB
Merayakan Lebaran Bersama Almarhum ala Suku Pisang Bingkisan yang dibawa saat Hari Rayo Enam. (ANTARANEWS/Etri Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Jorong Sikaladi Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat memiliki tradisi yang unik dalam merayakan Lebaran, yakni Hari Rayo Enam.

Tradisi Lebaran di hari ke-enam ini berupa ziarah makam dan berdoa bersama keluarga setelah melakukan enam hari puasa di bulan Syawal.

Hari Rayo Enam dirayakan pada Kamis pertama setelah puasa enam di bulan Syawal, dan puncaknya pada petang Kamis di makam Sipuan Raya Suku Pisang dengan menggelar doa, zikir, dan tahlil bersama.



Mereka meyakini petang Kamis dan malam Jumat adalah waktu kembalinya arwah nenek moyang mereka ke dunia untuk melihat anak cucunya.

Keluarga yang datang tak lupa membawa bekal dalam bingkisan berkain warna-warni, atau yang disebut talam, ke makam.

Di dalam talam berisikan nasi bungkus untuk diserahkan kepada masyarakat yang hadir, mulai dari anak-anak hingga tokoh masyarakat dan para perantau.

"Biasanya kalau sedang ramai diperkirakan sampai 200-250 talam yang dibawa ke makam Sipuan Raya," kata salah seorang warga, Sikaladi Sukarni, seperti yang dikutip dari Antara pada Jumat (14/6).


Mamak Pakiah Batuah dari persukuan Pisang, di Batusangkar Kamis (13/6), mengatakan Hari Rayo Enam sudah menjadi tradisi dari nenek moyang di Jorong Sikaladi sejak 400 tahun yang lalu.

Hari Rayo Anam bermula di bawah kepemimpinan Kampuang Panji Datuak Tanjuang, kemudian turun kepada Datuak Garang, dari Datuak Garang turun temurun hingga saat ini.

Bagi masyarakat Sikaladi, Hari Rayo Enam sangat meriah jika dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri, karena saat itu seluruh anak kemenakan Jorong Sikaladi, baik yang tinggal di kampung halaman maupun di perantauan, berkumpul.

Selain itu, Hari Rayo Anam juga sebagai bentuk merajut tali silaturahmi masyarakat kaum dari pesukuan itu. Dengan berkumpul bersama, seluruh masyarakat kaum dapat saling mengenal antara sesama.

Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma saat menghadiri acara tersebut mengatakan tradisi itu adalah salah satu bentuk kekompakan masyarakat Sikaladi dalam menjaga nilai leluhurnya.

Menurut dia, tradisi itu memiliki potensi wisata yang bisa mendatangkan wisatawan dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar yang berjualan.


[Gambas:Video CNN]
(ard/ard)