Babak Baru 'Industri Kakek-Nenek' Korea Selatan

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 28/06/2019 10:17 WIB
Babak Baru 'Industri Kakek-Nenek' Korea Selatan Ilustrasi lansia (WANG ZHAO / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Usia lanjut tak lantas membuat kehidupan terhenti. Alih-alih menghabiskan hidup dengan tenang, para lansia di Korea Selatan justru kian aktif dengan ragam profesinya.

Tengok saja janggut putih dan rambut beruban Kim Chil-doo (65) yang hadir di sejumlah panggung catwalk. Kim berlenggak-lenggok dengan percaya diri di antara deretan model muda dan langsing di Seoul, awal Juni lalu.

Kim merupakan model lansia pertama di Korsel. Dia melakukan debutnya pada gelaran Seoul Fashion Week 2018 lalu.


Sejak muda Kim berkeinginan menjadi model. Tapi apa daya, kebutuhan materi membuatnya terpaksa harus mengubur impian dengan bekerja formal. Kesempatan menjadi model, baginya, tetap layak dicoba bahkan saat dirinya memasuki usia lanjut. "Model lansia? Itu hanya label," katanya.

Korsel menjadi salah satu negara dengan populasi lansia terbanyak di dunia. Belakangan, banyak lansia Korsel yang memasuki peluang karier yang tidak konvensional.

Para manula itu berbondong-bondong mengikuti kelas di sekolah model karena kesuksesan Kim. Beberapa lain menjadi bintang YouTube atau mendaftar menjadi pengajar bahasa dan budaya Korea bagi penggemar K-pop di luar negeri.

Kisah lain hadir dari You Sung-lae (59). Menengok kesuksesan Kim, dia tergerak untuk mengikuti kelas model di salah satu panti jompo di Songpa, Seoul. Impiannya menjadi seorang aktris dan minatnya pada fesyen membuatnya mendaftar untuk mengikuti kursus.

Ilustrasi lansiaIlustrasi lansia (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

"Belajar modelling rasanya seperti menghidupkan kembali masa muda yang tak dapat saya nikmati dulu," ujar You.

Tren ini menawarkan harapan anyar pada para lansia.

Terlalu Sayang untuk Diam di Rumah

Beberapa perusahaan tengah berupaya untuk memanfaatkan potensi para lansia. Salah satunya adalah Cho Yong-min (27) yang membuat program pelatihan bahasa dan budaya Korea.

Cho mulai merekrut sukarelawan lansia. Para pekerja lansia itu ditugaskan memberikan pelatihan bahasa dan budaya untuk mahasiswa-mahasiswa di Princeton University dan Yale University.

"Mereka terlalu berbakat untuk hanya diam di rumah. Dengan begitu, banyak pengalaman sosial dan karier yang bisa dibagikan oleh para lansia," ujar Cho.

Pada 2017, Cho mengubah inisiatifnya tersebut menjadi sebuah startup bernama SAY (Senior and Youth). Kini, Cho terkoneksi dengan lebih dari 50 mentor lansia dan 500 mahasiswa aktif.

"Pelatihan adalah pekerjaan yang sulit karena mengharuskan Anda untuk memiliki energi tanpa akhir. Tapi, saya senang bisa sedikit membantu orang lain di luar sana," ujar Lee Kye-won (69), seorang lansia yang bekerja dengan Cho sejak 2014.

Merespons fenomena tersebut, ahli kebijakan publik Hanyang University, Lee Sam-sik menyambut gembira atas apa yang terjadi pada para lansia di Korsel. Namun, dia mengingatkan banyak pihak untuk tidak melupakan perlindungan sosial yang tepat, termasuk di antaranya menjadi pendapatan yang layak bagi para manula.

"Negara ini menua jauh lebih cepat. Jika kita tidak mencari cara untuk membelinya, itu akan menimbulkan risiko bagi generasi mendatang," kata Lee.

'Pemain Besar' Pasar

Lansia Korsel memiliki daya beli yang besar. Kemampuan mereka didukung oleh kepemilikan rumah, tabungan, dan perlindungan sosial yang didapatkan. Korea Health Industry Development Institute mencatat, pasar lansia Korsel telah berkembang sekitar lima kali lipat pada rentang tahun 2000-2010.

Lotte, salah satu department store terbesar di Korsel, mengatakan bahwa penjualan untuk pelanggan berusia 60-an meningkat rata-rata 12 persen sepanjang 2013-2018.

"Pelanggan lansia telah menjadi pemain besar, terutama di sektor fesyen. Mereka menghabiskan lebih banyak uang untuk diri mereka sendiri setelah berfokus pada keluarga selama beberapa dekade," ujar Juru Bicara Lotte.

Pada tahun 2050, diprediksi akan ada 71 lansia dari setiap 100 orang. Hal tersebut akan menjadikan Korsel sebagai negara 'tertua' ketiga di dunia menyusul Jepang dan Spanyol.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)