FOTO: Kisah Getir Sepiring Gurih Paus Goreng

CNN Indonesia & REUTERS, CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 11:26 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Atas nama tradisi dan perut, Jepang akan kembali melakukan perburuan paus komersil pada bulan depan.

Paus yang ditangkap nelayan di Taiji, Jepang. Selama bertahun-tahun Jepang melakukan perburuan paus, tindakan yang membuat marah pecinta hewan sekaligus kawannya, Amerika Serikat. (REUTERS/Issei Kato)
Restoran P-man di Minamiboso, timur Tokyo, Jepang. Setelah hampir 30 tahun, Jepang memutuskan untuk melepas keanggotaannya di International Whaling Commission (IWC) pada Desember kemarin. Jepang akan meneruskan perburuan paus untuk komersil pada 1 Juli 2019. (REUTERS/Issei Kato)
Toko WA-O! di Minamiboso yang menjual daging paus. Jepang bergabung dengan IWC sejak tahun 1951, karena kelompok itu punya konsep penangkapan paus sekaligus melestarikannya. Tapi konsep itu berubah menjadi konservasi, padahal paus merupakan kuliner tradisional di Jepang. (REUTERS/Issei Kato)
Nugget paus yang menjadi menu di restoran P-man. Sejak Perang Dunia II, Jepang mulai mengkonsumsi paus demi memberi makan penduduknya yang miskin. Sejak itu makan daging paus dianggap tradisi kuliner. (REUTERS/Issei Kato)
Dermaga para nelayan paus di Minamiboso. Setelah tahun 1960an konsumsi paus di Jepang menurun karena banyak daging lain yang bisa diolah. Dalam setahun Jepang mengkonsumsi 5.000 ton daging paus atau sebesar buah apel per orang. (REUTERS/Issei Kato)
Liberal Democratic Party, partai yang mendukung Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, mengatakan hasil laut memang bahan pokok di Jepang. Jika mereka dilarang menangkap paus, mereka takut bakal dilarang menangkap ikan lain. (REUTERS/Issei Kato)
Paus dalam kemasan yang dijual WA-O!. Baik Abe dan pejabat Liberal Democratic Party, Toshihiro Nikai, diketahui berasal dari kawasan pemukiman yang akrab dengan penangkapan paus, seperti Shimonoseki dan Taiji. (REUTERS/Issei Kato)
Menu daging paus di restoran P-man. Meski telah keluar dari keanggotaan IWC, Jepang masih menjadi bagian dari Komite Ilmiah dalam kelompok tersebut. (REUTERS/Issei Kato)