Makanan Kemasan Buat Orang Malas Olahraga

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 28/06/2019 05:15 WIB
Makanan Kemasan Buat Orang Malas Olahraga Ilustrasi makanan olahan (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Malas berolahraga tak hanya disebabkan karena lelah atau tak punya waktu. Penelitian terbaru justru menemukan, penyedap dan pengawet makanan dapat menyebabkan rasa malas olahraga.

Studi dari University of Southwestern Medical Center, Amerika Serikat, menemukan hubungan antara penyedap dan pengawet makanan dengan kurangnya aktivitas fisik.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Circulation ini mendapati bahan pengawet yang biasa ditemukan dalam soda dan daging olahan dapat menyebabkan orang malas berolahraga.


Studi ini dilakukan dengan menguji aktivitas fisik pada hewan dan manusia. Pertama, peneliti memberi makan dua kelompok tikus.

Salah satu kelompok tikus diberikan tiga kali lebih banyak kandungan fosfat yang biasa digunakan sebagai penyedap dan pengawet makanan. Fosfat yang dipakai untuk membuat makanan lebih segar ditemukan dalam makanan ikan kaleng, sosis, dan makanan panggang.

Setelah 12 pekan, tikus yang mengonsumsi fosfat lebih banyak ditemukan kurang bergerak dan memiliki metabolisme pembakaran lemak yang terganggu dibanding tikus yang tidak mengonsumsi zat adiktif tersebut.

Eksperimen kedua dilakukan dengan pengujian pada 1.603 orang. Mereka menggunakan alat pelacak kebugaran selama tujuh hari.

Orang yang mengonsumsi lebih banyak bahan penyedap dan pengawet ternyata melakukan lebih sedikit olahraga atau aktivitas fisik. Secara keseluruhan, mereka juga lebih banyak duduk dibandingkan yang mengonsumsi sedikit micin.

Mengutip The Independent, secara umum 25 persen orang dewasa di AS mengonsumsi tiga hingga empat kali jumlah fosfat yang disarankan setiap harinya.

Mengutip Medical News Today, temuan ini membuat peneliti berharap ada perubahan dalam industri makanan seperti menerapkan label yang jelas.

"Saya pikir mungkin sudah saatnya bagi kita untuk mendorong industri makanan untuk menempatkan ini pada label sehingga kita dapat melihat berapa banyak fosfat masuk ke makanan kita," kata peneliti dr Wanpen Vongpatanasin.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)