China dan Layanan Konseling Pernikahan yang Naik Daun

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/03/2021 14:55 WIB
Banyak konselor sibuk menangani masalah perceraian di China yang mengalami lonjakan drastis sejak tahun 2020. Ilustrasi. Banyak konselor sibuk menangani masalah perceraian di China yang mengalami lonjakan drastis sejak tahun 2020. (Istockphoto/Ilya Burdun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Konselor pernikahan asal China, Zhu Shenyong mendadak sibuk dalam beberapa waktu ke belakang. Dia sibuk menangani masalah perceraian yang mengalami lonjakan di China sejak tahun 2020.

Dalam sekali bekerja, Zhu langsung menyiarkan nasihat lewat beberapa telepon secara bersamaan pada pasangan yang ingin menyelamatkan hubungan mereka.

"Saya selalu mengatakan bahwa konseling pernikahan China sebagian besar seperti mengobati kanker stadium akhir," ujar Zhu, melansir AFP.


Sebagian besar klien pasangan, lanjut Zhu, datang dalam kondisi yang sangat kritis. Hanya sedikit dari pasangan yang berada di ujung tanduk dan benar-benar menginginkan nasihatnya.

Awal tahun ini, Zhu menjadi viral setelah mengklaim bahwa dirinya telah menghasilkan US$154 ribu atau sekitar Rp2,2 milyar pada tahun 2020.

Jumlah perceraian terdaftar di China mencapai rekor 8,6 juta pada tahun 2020. Angka ini hampir dua kali lipat dari total di tahun 2019 dan melampau jumlah angka pernikahan.

Setelah beberapa dekade kebijakan satu anak, China menghadapi ketidakseimbangan gender yang mencolok dengan jumlah pria yang 30 juta lebih banyak dari wanita.

Tekanan keluarga untuk menikah dini, kesibukan kehidupan perkotaan, harga rumah meroket, dan masih banyak lagi membuat perkawinan ibarat kapal pecah. Hal ini terutamanya dirasakan di antara generasi muda yang memprioritaskan kebebasan pribadi.

"Dari sudut pandang positif, perceraian adalah wujud dari masyarakat beradab dan kebangkitan perempuan," kata Zhu. Sebagian besar kasus perceraian yang ditanganinya disebabkan oleh masalah perselingkuhan dan uang.

Pada tahun lalu, anggota parlemen China menawarkan beberapa konsep untuk menekan angka perceraian. Namun, banyak masyarakat khawatir bahwa cara tersebut justru menjebak perempuan dalam pernikahan yang berantakan.

Banyak provinsi di China telah meluncurkan program konseling yang diatur negara untuk puluhan ribu pasangan. Di pusat kota Wuhan, otoritas kota menyelamatkan hampir dua per tiga dari 3.096 pasangan yang mengajukan gugatan cerai pada Januari lalu.

Wallace (36) adalah salah satu generasi milenial China yang kecewa dengan pernikahan. Banyak dari teman-temannya sibuk dengan pernikahan dan kemudian melarikan diri.

"Beberapa menikah hanya sebagai bentuk kompromi, tanpa mempertimbangkan apakah mereka dapat mentolerir kelemahan pasangan mereka," kata Wallace.

Atas tingginya angka perceraian ini, Wallace menyalahkan bentuk stagnansi sosial di kota-kota besar China yang sangat kompetitif dan membuat banyak orang semakin tidak puas dengan kehidupan yang dimilikinya.

Wallace kini bahkan menyamakan pernikahan dengan taruhan berisiko. "Jika Anda tahu kemungkinan [pernikahan] 50 persen gagal, apakah Anda masih ingin berspekulasi," ujarnya.

Kini, tekanan untuk menikah muda dan memiliki anak tetap ada. Hanya saja, kini banyak wanita muda China yang menolak untuk menyerah dan dibuktikan dengan angka pendaftaran pernikahan tahun lalu yang jatuh ke level terendah dalam hampir dua dekade.

Sementara bagi Vivien (31), perceraian bukan-lah sesuatu yang ditakuti, tapi jalan menuju emansipasi.

Jika orang tua dulu berpikir bahwa dengan perceraian maka seseorang bakal kesulitan untuk kembali menemukan pasangan, tidak demikian dengan apa yang ada pada generasi sekarang. Bagi generasinya, Vivien mengatakan, perceraian adalah pilihan pribadi.

"Kami tidak menganggap perceraian memalukan, tapi mengagumi mereka yang berhasil bercerai," ujar Vivien.

(asr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK