Berkeliling Kota Mencari Kuliner Halal Khas Warga Moskow

tim, CNN Indonesia | Minggu, 14/07/2019 16:14 WIB
Berkeliling Kota Mencari Kuliner Halal Khas Warga Moskow Kuliner halal Moskow (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Moskow, CNN Indonesia -- Udara panas di Moskow bulan Juni tak membuat saya 'lumer' dan menyerah untuk menjajal kenikmatan kuliner di Rusia.

Layaknya Indonesia, Rusia memiliki aneka macam makanan khas yang pasti wajib dicicipi saat berkunjung ke negara Kremlin ini.

Sebagai awalan, pasar tradisonal menjadi incaran saya untuk berburu kuliner. Salah satu panganan khas negara ini adalah aneka buah-buahan kering, biasanya semua dijual per kilo.


Wadah-wadah bening besar yang berjajar dengan isian berwarna-warni. Semuanya memikat mata dan mengundang selera untuk dicicipi.


Mulai dari aprikot, buah ara, kurma, hingga jeruk kering yang dibubuhi gula putih terlihat bak kristal warna-warni. Ada yang terasa asam, kecut namun tak sedikit yang terasa manis seperti madu. 

Saat di pasar tradisional, Anda pasti bisa dengan mudah menemukan jajaran sosis dalam ukuran besar. Sosis khas Rusia ini disebut kolbasa.

Kolbasa biasa memiliki tekstur yang keras. Selain kolbasa, Salo juga layak jadi incaran karena kekhasannya. Salo adalah lemak beku asin dan berbumbu mirip bacon. Namun saya dan umat muslim lainnya tak bisa menyantap makanan itu karena terbuat dari daging babi.

Di negara ini memang tak banyak makanan halal yang dijajakan. Meski demikian, bukan berati kalau sama sekali tak ada makanan halal di Moskow.

Memang agak sulit mencari restoran 100 persen halal di Moskow, namun tak ada salahnya mencoba berjalan-jalan sedikit ke kawasan Paveletskaya. Tepat di dekat Stasiun Metro Paveletskaya ada satu restoran tersembunyi yang menjajakan panganan halal dengan porsi yang tak biasa. 

Namanya Ferzan Cafe Halal. Resto ini buka 24 jam. Sebagian besar menu yang dihidangkan adalah menu olahan daging dengan porsi yang sangat besar.

Makanan di Ferzan Cafe Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari
Makanan di FerzanCafe

Untuk mencapai restoran ini, dari Paveletskaya Metro Stasiun, Anda harus berjalan kaki sekitar kurang lebih tujuh menit. Keluar dari stasiun, berbelok ke kanan dan berjalan lurus hingga menemukan lampu merah. 

Di seberang lampu merah, dalam jarak tempuh dua menit jalan kaki, Anda akan melihat plang bertuliskan Ferzan dalam alfabet Rusia. Restoran Ferzan memang ada di pinggir jalan, hanya posisinya ada di bawah jalan. 

Di Moskow memang banyak bangunan khususnya resto kelas menengah ke bawah yang dibangun di bawah bangunan lain.

Konon, restoran ini awalnya hanya diperuntukan bagi para buruh jalanan di Moskow. Tak cuma itu peruntukkannya untuk buruh juga dilakukan karena mereka dianggap mudah lapar di malam hari.

Meski mulanya dibuka untuk memenuhi rasa lapar para buruh yang biasa bekerja hingga larut malam, restoran ini ternyata makin populer bukan hanya untuk buruh tapi juga lapisan masyarakat lainnya. Mahasiswa, pekerja kantoran, sampai turis juga makan di restoran ini.

Saat memasuki Resto, bau harum daging domba panggang langsung menyeruak menyapa indera penciuman. Pelayan dengan sigap akan menunjukan tempat duduk kosong yang bisa ditempati oleh pelanggan. Resto ini konon tak pernah sepi, apalagi sekarang resto ini jadi tempat makan favorit mahasiswa luar negeri yang sekolah di Moskow. 

PalawFoto: CNN Indonesia/Tiara Sutari
Palaw

Saat mengunjungi tempat ini pada pertengahan Juni lalu, keadaan restoran memang cukup ramai. Padahal saat itu waktu sudah menunjukan pukul 23.00 waktu Moskow.

Hampir semua tempat meja yang tersedia pun telah terisi. Mereka semua rata-rata datang bergerombol. Jarang sekali Rata-rata yang datang ke tempat ini bergerombol, jarang yang datang sendirian atau hanya dua orang. 

Saat pelayanan yang tampak rapi dengan setelan putih-putih menunjukan buku menu. Saya yang tak mengerti bahasa dan huruf Rusia pun kebingungan.

Beruntung, pelayan restoran dengan senang hari menjelaskan semua menu yang tersedia di tempat ini. Anda hanya perlu bertanya. Meski sekali lagi, nama-nama panganan di resto ini cukup sulit untuk dihafal. 

Ada sekitar 12 menu olahan daging sapi, domba, dan ayam yang dijajakan. Ada yang digoreng, digrill, atau steak. Ada juga yang diolah bersama nasi, sekilas mirip dengan nasi goreng. 

Rata-rata untuk satu porsi olahan daging di sini dibanderol 300-400 rubel atau setara Rp60.000 sampai Rp80.000 per porsi. Dengan porsi yang cukup besar, harga ini terbilang cukup murah karena bisa mengenyangkan perut, apalagi bumbu masakan di sini terasa rempahnya, tak seperti masakan Eropa pada umumnya. 

Salah satu menu yang saya cicipi adalah palaw. Ini adalah 'nasi goreng' Rusia yang saya ceritakan di atas.

Namun saya tak jauh-jauh datang ke Rusia untuk mencicipi nasi goreng yang sebenarnya juga jadi makanan favorit saya.

Palaw, terbuat dari nasi yang mirip dengan nasi briyani dengan potongan daging sapi yang diaduk berwarna kecoklatan persis nasi goreng. Hanya saja warna coklat pada nasi ini bukan berasal dari kecap, tapi dari bumbu kaldu daging sapi yang telah dimasak cukup lama. 

Harum rempah menguar saat Palaw mendarat di lidah. Potongan daging sapi di masakan ini pun tak terasa alot dan sangat kaya akan bumbu. Selain daging sapi dan nasi dalam panganan ini juga terdapat potongan bawang bombay dan cabe merah besar. 

Menikmati palaw juga bisa dicampur dengan salad segar khas resto ini yang terbuat dari wortel yang dipotong amat tipis dan mentimun serta tomat. Rasa saladnya terasa manis dan segar. 

Selain makanan, Ferzan Halal Cafe juga menyediakan berbagai aneka minuman. Namun, sebagai resto halal tak ada alkohol yang dijajakan di resto ini. Ada aneka jus buah segar, air mineral, kopi, soda hingga aneka jenis teh disajikan. 


Jika mampir ke resto ini, jangan lupa untuk memesan teh yang disajikan langsung dari tekonya. Menikmati teh di Rusia memang seolah menjadi hal yang wajib setelah vodka, kalau tidak bisa menikmati minuman beralkohol bisa juga minum teh khas Rusia yang memang terkenal keharumannya. 

Teh di Ferzan Resto disajikan dalam teko porselen putih besar. Ada berbagai jenis aroma yang dijajakan, tapi jangan lupa untuk mencicip Teh Rusian Caravan yang menjadi salah satu andalan di daftar menu minuman di resto ini. 

Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari

Teh akan diseduh dalam teko besar berwarna putih. Sementara gula putih dalam bentuk kotak akan disiapkan terpisah. Satu teko besar teh akan diantarkan oleh pelayan lengkap dengan beberapa cangkir putih tanpa pegangan dan satu wadah gula pasir cube.

Begitu dituang, teh ini pun mengeluarkan aroma gandum yang pekat dengan semburat manis. Anda bisa memilih sendiri seberapa kental dan pekat Anda ingin menikmati tehnya. Saya memilih yang tak terlalu pekat, sehingga rasanya pun masih tak terlalu pahit di lidah.

Jika suka manis, tambahkan beberapa cube gula pasir sesuai selera. Jika lebih pilih menikmati teh dengan rasa asli, maka Anda tak perlu menambahkan gula ke dalamnya.

Malam itu, palaw dan secangkir teh hangat Rusia bisa memuaskan saya di tengah panasnya udara kota tersebut. (tst/chs)