Lancong Semalam

Pelesir ke Ruang Publik nan Megah di Moskow

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Minggu, 14/07/2019 11:09 WIB
Katedral St Basil. (Istockphoto/ShutterOK)
Moskow, CNN Indonesia -- Waktu menunjukkan pukul 21.00 waktu Moskow ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Shermetyevo setelah kurang lebih 2 jam 30 menit penerbangan dari Bandara Murmanks Monkey dengan menggunakan pesawat Aeroflot.

Hari itu hari kedua saya berkunjung ke Rusia setelah sebelumnya saya dan lima orang wartawan lainnya melakukan kunjungan ke Akademik Lomonosov di Murmanks atas undangan dari Rosatom untuk melihat Floating Nuclear Power Plant (FNPP) yang rencananya akan diluncurkan akhir tahun ini.

Suhu di Moskow tak sedingin di Murmanks, hanya saja berbeda dengan Jakarta. Ketika pukul 21.00 WIB matahari telah jauh tenggelam digantikan bulan, di Moskow matahari masih cukup tinggi.



Bahkan ketika saya keluar dari pesawat, malam hari masih terasa seperti siang hari di Jakarta, hanya saja dengan suhu udara yang jauh berbeda.

Setelah mengambil koper dan tas di bandara, saya memutuskan untuk langsung menuju Peking Hotel yang berada di kawasan Bol'shaya Shadovaya Ulitsa.

Jarak hotel ini sendiri tak terlalu jauh dengan Kremlin, Red Square, hingga Gereja St Basil yang menjadi ikon kota Moskow bagi pelancong dunia.

Karena lelah dalam penerbangan saya memutuskan untuk beristirahat sebelum melakukan perjalanan panjang menikmati musim panas di kota yang hampir sepanjang tahun mengalami musim dingin ini.

10.00 - Moscow Metro

Pelesir ke Ruang Publik nan Megah di MoskowStasiun Aviamotornaya di Moskow, Rusia. (REUTERS/Grigory Dukor)

Matahari sudah cukup tinggi ketika saya keluar dari Peking Hotel. Maklum, matahari di Moskow pada musim panas telah terbit sejak pukul 02.30, hal yang tentu cukup mengejutkan bagi sebagian pelancong Indonesia.

Meski matahari telah terik, tapi suhu udara tak sampai di angka 30 derajat Celcius. Bahkan saya tak merasa kegerahan sama sekali ketika berjalan kaki kurang lebih selama 10 menit dari hotel ke Mayakovskaya Metro Station untuk bertandang ke kawasan Red Square.

Menaiki Metro tak semerepotkan yang saya duga sebelumnya. Saya cukup mengeluarkan kocek sebanyak 230 rubel (sekitar Rp52 ribu) untuk membeli tiket multi-tap yang berlaku selama 24 jam.

Moscow Metro adalah jaringan stasiun kereta bawah tanah yang telah beroperasi selama hampir satu abad.

Saya merasa kagum dengan arsitektur dan dekorasi yang disisipkan di setiap stasiun. Rasanya tak seperti berada di jalur kereta bawah tanah, tapi justru bak berada di istana masa renaissance karena kemegahannya.

Hanya sekitar dua stasiun yang harus saya lewati untuk kemudian tiba di kawasan paling ikonik di Negeri Beruang Merah ini, Red Square.

Pelesir ke Ruang Publik nan Megah di MoskowPengunjung Stasiun Kievskaya menunggu kereta. (REUTERS/Grigory Dukor)


11.00 - Red Square

Pelesir ke Ruang Publik nan Megah di MoskowRed Square. (AFP PHOTO / Mladen ANTONOV)

Meski namanya Red Square tapi jalanan di sini tidaklah berwarna merah.

Saya mendapat informasi dari seorang warga lokal bahwa selama musim panas Red Square selalu ramai sejak pagi sampai malam.

Berkeliling Red Square seperti kembali ke masa Uni Soviet, di mana bangunan dibuat serba besar, tinggi, dan megah.

Saya dan ratusan turis lain tak berhenti menjepretkan kamera ke berbagai sudut.

Puas berkeliling di kawasan Red Square, Kremlin dan Gereja St Basil, saya pun memutuskan untuk memasuki kawasan elit tempat para kaum jetset berbelanja di Moskow.

13.00 - Mal GUM

Pelesir ke Ruang Publik nan Megah di MoskowMal GUM. (Istockphoto/finallast)

Tujuan saya selanjutnya adalah GUM Shopping Center.

Tak seperti mal di Jakarta yang berarsitektur modern, GUM berarsitektur klasik Eropa nan megah. Pusat perbelanjaan ini disebut sebagai mal terbesar di Rusia.

Mirip dengan Moscow Metro, GUM juga membuat saya seakan datang ke istana. Bukan cuma dekorasinya yang mewah, di dalamnya juga terdapat toko-toko yang menjual barang mewah.

Kemewahan sudah menjadi hal biasa di Moskow, karena di kota ini tinggal puluhan miliuner kelas kakap. Majalah Forbes mengatakan kalau Moskow merupakan kota dengan jumlah orang berduit terbanyak di dunia.

GUM merupakan singkatan dari Glavnyj Universalnyj Magazin atau bisa juga disebut sebagai Main Universal Store. Mall ini konon sudah dibangun sejak abad ke-18.

Salah satu belanjaan saya di sini ialah es krim dari gerai Kitay Gorod, yang disebut sebagai es krim terenak di Rusia.

Es krim yang saya cicip tak terlalu mahal, hanya seharga 100 Rubbel (sekitar Rp 23 ribu) saja.


[Gambas:Video CNN]

Lancong Semalam masih berlanjut ke halaman berikutnya...

(ard)
1 dari 2




BACA JUGA