LANCONG SEMALAM

Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Minggu, 16/06/2019 12:58 WIB
Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara Tentara Korea Selatan berjaga di Grand Unification Bridge yang merupakan perbatasan negaranya dengan Korea Utara. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Seoul, CNN Indonesia -- Banyak negara menutup kawasan konflik dari dunia luar, baik untuk alasan keamanan maupun untuk menutupi aib sejarah. Namun hal itu tidak berlaku di Korea Selatan.

Korea Selatan menjadikan perbatasan dengan Korea Utara, atau yang dikenal dengan Demilitarized Zone (DMZ), sebagai kawasan wisata.

Saat menghadiri undangan 2019 KF ASEAN Next-Generation Leaders Visit Korea Program in Media dari Korea Foundation akhir Mei lalu, saya berkesempatan berkunjung ke DMZ.



Berhubung DMZ adalah zona terbatas, pengunjung tak bisa sembarangan masuk. Cara terbaik adalah ikut tur DMZ yang disediakan para biro perjalanan di Seoul.

Saya ikut tur 'One Korea Special Tour with a North Korea Defector' yang disediakan oleh biro perjalanan DMZ & Panmunjom. Untuk ikut dalam perjalanan mendebarkan ini saya harus merogoh kocek sebesar 85 ribu won (sekitar Rp1.020.000) per orang.

Sebelum berangkat, Anda harus menyiapkan paspor. Sebab tentara pengaman perbatasan akan mengecek identitas setiap wisatawan yang keluar-masuk.

Pengunjung juga wajib menggunakan identitas khusus dari PBB dan tidak bisa mondar-mandir seenaknya. Ingat, tempat yang Anda akan kunjungi adalah zona paling tegang di Semenanjung Korea.

Perjalanan dimulai pukul 08.00 pagi waktu setempat dari titik kumpul di Koreana Hotel. Tur mengunjungi zona terpanas Semenanjung Korea ini umumnya diikuti wisatawan mancanegara.

Sungai Imjingak

Tujuan pertama kami adalah Imjingak di Kota Paju. Perjalanan dari Seoul ke Paju memakan waktu sekitar satu jam.

Imjingak terletak 53 kilometer dari Seoul, Korea Selatan dan 22 kilometer dari Gaeseong, Korea Utara. Tempat ini adalah saksi bisu terpisahnya Korea menjadi dua negara.

Saat perang saudara Korea mencapai ujung, sekitar 13 ribu orang menyeberang dari utara ke selatan. Mereka melintasi sebuah jembatan di atas Sungai Imjingak yang kini dikenal sebagai Bridge of Freedom atau Jembatan Kebebasan.

Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara****Kawasan Imjingak. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)

Sayangnya, jembatan ini tak lagi bisa diakses karena sudah hancur dibom. Namun pengunjung masih bisa melihat sisa jembatan dengan merogoh kocek 2.000 won atau setara Rp25 ribu.

Di Imjingak, juga ada monumen Mangbaedan Memorial Altar. Monumen ini sebagai pengingat terpisahnya keluarga karena perang saudara di Korea.

Pada perayaan tahun baru dan Chuseok (pesta panen tengah tahun), warga Korea biasanya mengunjungi Imjingak untuk mengenang keluarga mereka yang terpisah karena perang. Warga juga menempelkan pita bertuliskan harapan unifikasi antara utara dan selatan.

Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara****Mangbaedan Memorial Altar. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)

Jalur kereta pemersatu Korea

Usai "pemanasan" selama 30 menit di Imjingak, saya dan rombongan masuk lebih dalam ke DMZ.

Suasana mulai terasa berbeda karena kali ini kami benar-benar menembus perbatasan Korea. Jalan terasa sunyi, hanya bus wisata yang lalu lalang.

Penjagaan ketat juga terasa dengan mondar-mandirnya kendaraan operasional militer.

Bus kami sempat disetop di perbatasan. Tentara muda dari program wajib militer Korea Selatan memeriksa identitas pengunjung satu per satu. Kami diwajibkan menunjukkan paspor kepada aparat militer.

Usai pemeriksaan, bus berjalan menuju Stasiun Dorasan. Stasiun Dorasan adalah tahap awal dari ambisi Korea Selatan membuat jalur perhubungan dengan Korea Utara dan Eropa.

Di sini, pengunjung bisa melihat rencana perhubungan jalur kereta Korea Selatan-Eropa. Ada pula tahapan awal perhubungan jalur kereta Korea Selatan-Korea Utara.

Di dalam Stasiun Dorasan juga ada toko DMZ Souvenir. Toko ini menjual cinderamata khusus DMZ yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.

Kami hanya punya waktu 30 menit di sini. Pengambilan gambar juga dibatasi. Pemandu wisata akan menunjukkan mana tempat yang boleh dan tidak boleh diabadikan.


Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea UtaraPemandangan dua Korea yang terpisah jalanan dengan latar belakang Gunung Kumgang. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Meneropong teritori Kim Jong-Un

Usai dari Stasiun Dorasan, pengunjung diajak ke Dorasan Observatory. Jaraknya tak jauh dari stasiun. Hanya sekitar 15 menit perjalanan.

Namun Dorasan Observatory terletak di dataran tinggi. Sehingga bus hanya mengantar kami ke gerbang masuk. Sisanya, pengunjung harus mendaki sekitar 300 meter.

Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara****Dorasan Observatory. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)

Di tempat ini, saya berkesempatan memandang wilayah DMZ. Area ini terbentang sekitar 250 kilometer di antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Daerah ini terbentuk sebagai kesepakatan gencatan senjata antara utara dan selatan pada 27 Juli 1953. Sebagai bagian dari kesepakatan, kedua kubu merelakan masing-masing 2 kilometer sebagai wilayah netral yang kini dikenal dengan DMZ.

Dari Dorasan Observatory, pengunjung bisa melihat wilayah Korea Utara yang sudah mulai gundul. Pemandu wisata berujar hutan Korut gundul karena pepohonan ditebang setiap musim dingin untuk kayu bakar. Utara belum punya teknologi pemanas ruangan untuk rakyatnya.

Pengunjung juga bisa melihat beberapa tempat penting, seperti Panmunjom. Panmunjom adalah tempat pertemuan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae pada 27 April 2018.

Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara****Foto pertemuan yang langka. (Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters)

Kami juga bisa melihat dua desa di DMZ, Taesung-Dong di Korea Selatan dan Kijong-Dong di Korea Utara. Sebelum gagasan reunifikasi bergema, dua desa ini saling melakukan propaganda lewat pengeras suara untuk menarik penduduk tetangga.

Korea Utara biasanya memperdengarkan pidato-pidato rayuan "Surga Korea Utara". Sementara Korea Selatan memperdengarkan lagu-lagu K-Pop andalan mereka.

Seharian di Zona Ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara****Panmunjom. (REUTERS/Kim Hong-Ji)


Terowongan rahasia Korea Utara

Situs paling menarik yang saya kunjungi di DMZ adalah Terowongan Ketiga. Terowongan ini adalah satu dari empat jalur rahasia yang dibangun Korea Utara untuk menginvasi Korea Selatan.

Situs ini ditemukan pada 1978 saat militer Korea Selatan mendeteksi ledakan di bawah tanah. Setelah pencarian berbulan-bulan, militer Korea Selatan menemukan terowongan rahasia yang menghubungkan Korea Utara dan Korea Selatan.

Terowongan yang belum selesai ini memiliki panjang 1.635 meter. Terowongan Ketiga terletak 435 meter di bawah tanah dengan ketinggian maksimal 1,9 meter. Jaraknya hanya 44 kilometer dari pusat Seoul.

Alih-alih menutup total kawasan tersebut, Korea Selatan malah menjualnya sebagai destinasi wisata. Pengunjung diperbolehkan masuk ke terowongan meski hanya sekitar 200 meter.

Pengunjung dilarang membawa tas, kamera, ataupun ponsel. Tempat wisata ini menyediakan loker untuk menitipkan barang-barang pengunjung secara gratis.

Kita harus menggunakan helm saat turun ke terowongan. Sebab masih banyak stalaktit di atas kepala Anda.

Namun Korea Selatan sudah sedikit memodifikasi Terowongan Ketiga. Mereka menambahkan penerangan, pendingin ruangan, alas karet, sumber air minum, dan kotak PPPK. Sehingga pengunjung bisa menjajal kegagalan invasi Korea Utara dengan nyaman.

Sekadar saran, kenakan jaket saat berkunjung ke sini. Sebab suhu udara lembab dan rendah di bawah tanah akan jadi tantangan tersendiri.

Usai melihat terowongan rahasia, pengunjung akan dibawa ke Mountain Odu Reunification Observatory. Di sini kita berkesempatan untuk menggali pengalaman orang yang kabur dari Korea Utara.

Saya bertemu dengan nyonya Park, perempuan yang berhasil keluar dari Korea Utara pada 2011. Kini ia dan putrinya tinggal di Seoul dan bekerja untuk pemerintah.

Usai berbincang dengan penyintas Korea Utara, saya dan rombongan diajak makan siang. Sayangnya saya sedang berpuasa kala itu. Sehingga saya melewatkan sajian bulgogi dan bibimbap asli Korea.

Menikmati Korea Selatan bukan hanya lewat lagu BTS ataupun serial drama di KBS, jadi jika berkunjung ke Korea Selatan, Anda wajib mencoba tur DMZ ini.


[Gambas:Video CNN]

(ard)