Penyakit Lyme, Ruam Merah Akibat Gigitan Kutu

CNN Indonesia | Jumat, 19/07/2019 14:57 WIB
Penyakit Lyme, Ruam Merah Akibat Gigitan Kutu Ilustrasi ruam (Foto: Istockphoto/LeventKonuk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehadiran kutu dalam kehidupan sehari-hari memang menyebalkan. Kontak antara kutu dan tubuh manusia bisa berujung penyakit lyme yang tak bisa disepelekan.

Lyme adalah penyakit infeksi bakteri-bakteri yang umumnya banyak dibawa oleh kutu. Infeksi akan menimbulkan ruam merah pada bagian permukaan kulit.

Melansir situs kesehatan Mayo Clinic, tanda dan gejala penyakit satu ini cukup bervariasi. Penyakit umumnya muncul secara bertahap. Dalam beberapa kasus, tahapan-tahapan saling tumpang tindih.


Pada tahap awal, gejala akan muncul berupa benjolan merah kecil layaknya akibat gigitan nyamuk. Beberapa kasus langsung hilang dengan sendirinya. Namun, beberapa kasus bertahan lama hingga berubah menjadi ruam merah. Jika berlanjut, Anda harus waspada gejala penyakit lyme.

Namun, perlu diketahui pula, ruam muncul berbeda pada setiap orang. Beberapa orang mengalami ruam pada minggu keempat setelah terinfeksi, beberapa lainnya baru mengalami ruam setelah tiga bulan terinfeksi.

Tak hanya ruam merah, penderitanya juga akan mengalami suhu badan tinggi hingga demam, sakit kepala, nyeri pada otot, dan kelelahan berlebihan.

Pada beberapa kasus, lyme juga bisa menimbulkan perubahan pola detak jantung, peradangan mata, dan hati.

Risiko terkena gigitan kutu meningkat saat Anda menghabiskan banyak waktu di ruang terbuka sejenis hutan. Anak-anak yang gemar bermain di area luar ruangan cenderung berisiko tinggi.

Untuk menangkalnya, Anda disarankan untuk menggunakan celana dan baju berlengan panjang jika sedang berada di area luar ruangan.

Risiko akan semakin meningkat jika Anda tak membersihkan bekas gigitan kutu dengan benar. Bakteri dalam masuk ke dalam aliran darah dan tetap melekat pada kulit selama 36-48 jam atau lebih.

Penyakit lyme yang tidak diobati dengan segera akan menyebabkan beberapa komplikasi seperti peradangan sendi kronis terutama pada lutut, gejala neurologis seperti kelumpuhan wajah, cacat kognitif seperti gangguan memori, serta perubahan irama jantung.

[Gambas:Video CNN] (nad/asr)