Tak main-main, HK tak cuma membawa dampak pada keluhan-keluhan fisik. Ahli endokrin anak, dr Andi Nanis Sacharina mengatakan, HK memiliki dampak menakutkan lantaran turut memengaruhi perkembangan mental anak.
"Pernah enggak terbayang anak seperti menyimpan bom waktu? Umur 2-3 bulan dia senyum tapi pandangannya kosong, enggak bisa tengkurap, ternyata anak punya hipotiroid kongenital," kata Nanis kepada awak media, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kenali Ragam Jenis Gangguan Tiroid |
Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya HK pada anak. Sebut saja perkara kelenjar tiroid yang tidak terbentuk, kelenjar tiroid berada pada posisi yang salah, dan faktor genetik ibu.
Gejala yang muncul antara lain bayi berkulit kuning berkepanjangan, minum sering tersedak, pusar menonjol, lidah tebal, hidung melebar dan pesek, kesulitan bicara, perut buncit, tangan dan kaki terasa dingin, tubuh cebol, dan munculnya keterbelakangan mental.
Gejala yang muncul menandakan adanya keterlambatan tumbuh kembang anak yang tidak bisa diperbaiki.
Nanis mengatakan, dampak HK bisa berlaku seumur hidup. Sebanyak 50 persen pasien terlambat didiagnosis. Kebanyakan dari pasien memiliki IQ kurang dari 90.
"Oleh karena itu wajib dilakukan skrining bayi baru lahir. Ini bisa minta ke tenaga medis, paling tidak 48-72 jam setelah bayi lahir dicek SHK (screening hipotiroid kongenital)," jelas Nanis.
Lihat juga:Wanita Rentan Terserang Penyakit Tiroid |
SHK juga tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor 78 Tahun 2014 tentang Screening Hipotiroid Kongenital. Dasar hukum ini menjadikan SHK wajib dilakukan pada bayi baru lahir.
Kendati demikian, Nanis menyayangkan masih banyaknya orang tua yang melakukan skrining. Padahal, hal tersebut akan berdampak pada kehidupan anak ke depan.
"Skrining kadang tidak dikerjakan. Ini [skrining SHK jadi] PR kita untuk menyelamatkan otak anak," pungkas Nanis.
[Gambas:Video CNN] (els/asr)