Teh Nusantara 'Layu' Dimakan Zaman

Tim, CNN Indonesia | Senin, 29/07/2019 14:16 WIB
Teh Nusantara 'Layu' Dimakan Zaman Ilustrasi. Tingkat apresiasi masyarakat Indonesia terhadap teh masih terbilang kurang. (Foto: Istockphoto/OlegKov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa minuman yang selalu tersedia di rumah? Selain air mineral, hampir dipastikan setiap orang menyediakan teh di rumah. Teh menjadi kawan akrab untuk beragam kegiatan.

Tak cuma kopi yang memiliki kelas atau tingkatan kualitas. Hal yang sama juga berlaku pada teh.

"Teh itu lapisan [tingkatan kualitas] banyak seperti reguler, industri, dan speciality," kata Indonesian Tea Specialist, Oza Sudewo, saat ditemui di kawasan Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.

Teh sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, gairah mencecap rasa teh tak diimbangi dengan keinginan untuk menikmati dan memahami teh yang berkualitas. Menurut Oza, masyarakat Indonesia belum sampai pada pilihan untuk mengapresiasi teh.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil teh tertinggi ketujuh di dunia. Menilik sejarah, Indonesia merupakan negara pertama, di luar kawasan Asia Timur, yang mengkultivasi teh. Teh masuk ke wilayah Indonesia pada sekitar tahun 1600 dan berhasil dikultivasi pada akhir 1700.

Pada masa kolonial, Oza mengatakan, teh asal Indonesia cukup diperhitungkan. Tak heran, sebab saat itu Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC menguasai perdagangan Hindia Belanda dan memboyong sederet hasil sumber daya alam Nusantara ke dunia luar.

Indonesia merupakan negara penghasil teh ketujuh tertinggi di dunia. (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

"Teh asal Indonesia itu istimewa," kata Oza. Lokasi Indonesia yang dilintasi garis Khatulistiwa membuat teh memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Cita rasa pun, lanjutnya, tak kalah jika dibandingkan dengan China, Jepang, atau Sri Lanka.

Akan tetapi, kejayaan teh Indonesia meredup seiring waktu berjalan. Oza melihat, industri teh berperan besar dalam kian layunya kejayaan teh Nusantara. Perusahaan atau Industri, dinilainya, lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas.

Saat mengejar jumlah yang diinginkan pasar global, kualitas menjadi nomor dua. Teh asal Indonesia pun hanya digunakan sebagai filler atau pengisi untuk melengkapi rasa yang diinginkan. Di negerinya sendiri, kata Oza, masyarakat Indonesia malah dihadapkan pada teh 'afkiran' atau kualitas rendah.

"Itu perhatikan saja, serbuk teh masih ada batangnya, seperti semua masuk di situ," kata Oza.

Tak Seseksi Kopi

Berkaca pada komoditas lain seperti kopi, teh jelas ketinggalan jauh. Teh dianggap tidak seksi dan tak dilirik.

Bukan hal yang tak mungkin untuk teh menembus popularitasnya. Namun, Oza menekankan, adanya 'penghalang' cukup besar untuk membuat teh tak ubahnya kopi yang terus naik daun.

Oza mengingatkan kembali kejayaan salah satu jaringan kopi besar di Indonesia. Kemunculan jaringan-jaringan kopi besar itu serta merta menaikkan pamor kopi di mata dunia. Harkat dan martabat seolah terdongkrak saat menggenggam gelas berlogo atau sekadar kongko di kedainya.

Gelombang berikutnya, tren kopi susu bergejolak. Mereka yang bukan peminum kopi pun berbondong-bondong mencecap. Kopi susu jadi jawaban bagi mereka yang tak begitu menyukai pekat dan pahit kopi hitam.

Sekilas gejolak industri kopi terlihat mudah. Tapi, hal yang sama tak berlaku bagi teh.

"Orang mau masuk ke industri kopi itu mudah. Mau dari mana, nih? Dari hulu, jadi petani, kemudian bisa juga jadi roaster, barista. Untuk teh, tidak semudah itu," ujar Oza.

Indonesia sudah kadung terbiasa dengan konsep pengolahan teh berskala besar atau pabrik. Petani tak biasa menjual pucuk teh untuk skala rumahan. Jika pun membeli teh langsung dari petani, yang akan Anda dapatkan adalah teh dalam kondisi sudah diolah.

[Gambas:Video CNN]


(els/asr)