Ada Taman Hiburan di Dalam Gereja Inggris

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 17:21 WIB
Ada Taman Hiburan di Dalam Gereja Inggris Wahana permainan di dalam Gereja di Norwich, Inggris. (Norwich Cathedral/Bill Smith)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum lama ini gereja di Norwich, Inggris, menuai perhatian banyak pihak karena keputusannya yang cukup nyentrik.

Dalam gereja yang dibangun pada tahun 1096 itu berdiri bangunan yang menyerupai menara taman hiburan yang dikhususkan untuk pengunjung anak dan remaja.


Di dalam menara itu ada perosotan khas pasar malam, lengkap dengan ornamen meriah yang membuatnya sangat kontras dengan interior klasik gereja.


Rencananya menara itu akan berdiri selama sepuluh hari di bulan Agustus. Namun fungsi bangunan ini ternyata tak sekadar untuk bersenang-senang saja.

Melalui menara itu para pengunjung juga bisa melihat langit-langit gereja secara lebih dekat.

Langit-langit gereja yang dibangun pada abad pertengahan itu memiliki detil istimewa, sehingga dipercaya bisa membuat siapapun yang menatapnya berpikir tentang kehidupan dan Tuhan secara lebih mendalam.


Ide pembangunan menara datang dari Canon Andy Bryant yang saat itu sedang berkunjung ke Kapel Sistine di Roma, dua tahun lalu.

Menurutnya wisatawan yang berkunjung ke sana diperkenankan menyaksikan langit-langit gereja secara lebih dekat.

"Mendaki ke puncak bangunan, pengunjung akan melihat gereja ini dari perspektif yang berbeda," ujar Bryant, seperti yang dikutip dari Reuters, Senin (12/8).


Untuk masuk ke dalam bangunan ini, setiap pengunjung akan dikenakan biaya sebesar 2 Poundsterling (atau sekitar Rp35 ribu). Untuk masuk dan berada di atas dan menyaksikan langit-langit katedral, tidak dibatasi usianya.

Siapa pun boleh asalkan sanggup menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit, hanya untuk main perosotannya saja yang dikhususkan untuk anak-anak dan remaja.

Namun keputusan ini tidak membuat semua pihak merasa senang. Seorang teolog, Gavin Ashenden, mengkhawatirkan dengan adanya bangunan itu maka gereja akan kehilangan aspek religiusnya.

"Kita masuk ke dalam gereja pasti ingin khusyuk dalam berdoa, saya khawatir dengan adanya bangunan ini justru mengurangi aspek terpenting itu," ujar Ashenden.

[Gambas:Video CNN]

(Reuters/ard)