Populasi Penyu Menurun, Warga Tulungagung Menjaga Pantai

CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 11:18 WIB
Populasi Penyu Menurun, Warga Tulungagung Menjaga Pantai Ilustrasi penyu yang sedang bertelur. (Ye Aung THU / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Populasi penyu yang menepi dan beraktivitas di sekitar pesisir pantai Tulungagung, Jawa Timur, disinyalir terus mengalami penurunan akibat perburuan satwa itu oleh oknum nelayan maupun pemburu ilegal.

Para penggiat konservasi penyu di sekitar Pantai Sanggar, Kecamatan Tanggunggunung, nelayan serta komunitas pemancing mengungkapkan jika pernah menyaksikan atau mengetahui adanya aktivitas penangkapan penyu di daerah tersebut.

"Ada tiga jenis ancaman bagi penyu saat mendarat dan bertelur di kawasan pesisir Pantai Sanggar, Ngalur, Pathuk Gebang maupun sekitarnya. Pertama adalah perburuan manusia, nelayan, dan predator alaminya seperti musang, anjing hutan, ular dan semacamnya," kata Ketua Pokdarwis Sanggar Ria, Purjo Lompong, seperti yang dikutip dari Antara, Jumat (16/8).


Dalam kurun 30 tahun terakhir, Lompong mengaku melihat sendiri penurunan populasi penyu yang singgah di pesisir pantai setempat.



Menurutnya dulu penyu betina dewasa selalu memilih tempat di pesisir Pantai Ngalur, Sanggar, Gebang, dan Jung Pakis jumlahnya bisa mencapai puluhan hingga ratusan pada periode musim bertelur.

Namun kini, ia melanjutkan, seiring pembukaan jalur wisata menuju pantai Sanggar dan Ngalur, serta aktivitas perburuan manusia menyebabkan jumlah penyu yang mendarat di keempat kawasan yang menjadi habitat alami penyu turun drastis.

Pengakuan warga pesisir maupun penggiat Pokdar Sanggar Ria, penyu-penyu yang naik ke darat untuk bertelur kini tinggal hitungan jari.

Itu pun penyu sudah nyaris tak pernah naik di Pantai Ngalur dan Sanggar karena kerap dikunjungi manusia.

"Yang masih ada di Pantai Jung Pakis dan Pathuk Gebang karena lokasinya yang cukup tersembunyi kawasan hutan lindung. Namun aktivitas perburuan oleh manusia dan predator alami penyu tetap menjadi masalah serius," ujarnya.



Untuk menjaga habitat penyu Kepala Desa Jengglungharjo, Rudi Santoso, menuturkan warga Desa Jengglungharjo akan turut menjaga Pantai Sanggar dan Ngalur sebagai kawasan konservasi penyu yang alami.

Menurutnya konsep pengembangan wisata massal lebih diorientasikan di Pantai Sanggar dan Ngalur. Itu pun tanpa banyak membuat bangunan semipermanen apalagi permanen.

Objek wisata tetap alami, namun bisa dikembangkan ke wisata umum. Sementara di Pantai Pathuk Gebang dan Jung Pakis dipersiapkan sebagai wisata konservasi.

Wisatanya dikembangkan ke arah edukasi konservasi satwa penyu dan alam lindung sekitarnya.

"Dua pantai itu akan tetap kami pertahankan sebagai daerah yang 'perawan'. Tidak akan ada sentuhan apa pun karena akan kami jadikan sebagai kawasan konservasi penyu untuk bertelur," kata Rudi.



"Kami akan bentuk kelompok-kelompok. Ada kelompok penyu yang bertugas dan bertanggungjawab mengurusi seputar penjagaan dan konservasi penyu, ada kelompok sadar wisata yang mengurusi wisata di Pantai Sanggar dan Ngalur, serta beberapa terobosan lain yang akan kami bahas dengan warga lain."

Untuk pengembangan, selain mengajukan bantuan dan kerja sama ke dinas terkait, lanjut dia, pemerintah Desa Jengglungharjo melalui BUMDes yang ada juga berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran untuk penataan kawasan serta penyediaan sarana-prasarana perlindungan satwa penyu.

[Gambas:Video CNN] (ANTARA/agr)