Arti Baju Adat Betawi yang Dipakai JK di Sidang Tahunan

tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 12:39 WIB
Arti Baju Adat Betawi yang Dipakai JK di Sidang Tahunan Jokowi memakai baju adat Sasak sedangkan JK memakai baju adat Betawi (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir dalam sidang tahunan MPR bersama dengan istrinya Mufidah Jusuf Kalla. Selain JK hadir juga Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi oleh Ibu Negara Iriana Jokowi.

Jokowi mengenakan jas biru dengan dasi merah dan kemeja putih. Saat pidato kenegaraan dia berganti baju dengan pakaian adat suku sasak NTB. Sedangkan pakaian adat Iriana Jokowi adalah baju kurung dengan kain batik parang. 

Berbeda dengan Jokowi yang menggunakan baju adat Suku Sasak, JK mengenakan baju adat Betawi di Sidang MPR 2019, Jumat (16/8). Pakaian adat JK ini memiliki makna filosofi yang mendalam. Pakaian ini dikenal juga dengan nama baju ujung serong.


JK memakai beskap berwarna hitam dengan dalaman kemeja putih. Tampilan beskap hitam JK dilengkapi dengan detail kerah Shanghai ditambah hiasan rantai emas di bagian saku kirinya.

 
Pada bagian bawah, JK memakai celana hitam yang dilengkapi dengan kain sarung pendek berbentuk geometris di bagian pinggang hingga lutut. Kain batik berwarna dominan merah ini memiliki motif khas Betawi. 

Di bagian kepala JK memakai kopiah atau peci yang juga berwarna hitam. Sebagai alas kaki, JK menggunakan sepatu pantofel hitam. 

Pakaian adat Betawi yang dipakai JK ini memiliki makna kegagahan dan juga kesopanan. Sedangkan peci sebagai penutup kepala melambangkan ketaatan dan kecerdasan. Sementara kain sarung di bagian bawah bermakna untuk menutupi kejantanan. 

JK memakai baju adat betawiFoto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
JK memakai baju adat betawi

Aslinya, pakaian adat ini dipengaruhi oleh banyak budaya negara lain. Dalam adatnya, baju betawi ini dipakai dengan celana pantalon. Kain batik pun dililitkan serong di atas lutut. Ada aksesori kuku macan dan jam saku rantai yang terselip.

Sedangkan di kepala dipakai liskol atau kopiah atau peci.


Pakaian ini di zaman dahulu hanya boleh digunakan oleh kaum bangsawan Betawi di acara resmi saja atau pakaian demang.

Baju adat ini sekarang kerap terlihat saat pemilihan Abang None Jakarta setiap tahunnya. (ptj/chs)