Surat dari Rantau

'Sunset' dan Kebersamaan di Sydney

Prisca Viani, CNN Indonesia | Sabtu, 24/08/2019 12:08 WIB
'Sunset' dan Kebersamaan di Sydney Kawasan Circular Quay di Sydney, Australia. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam rangka melanjutkan kuliah di MEGA (Macquarie Education Group Australia) di Sydney, Australia, saya memulai sebuah cerita baru sebagai seorang perantau.

Di sini saya belajar memahami bahwa perbedaan budaya antara orang Australia dengan orang Indonesia memang sangat jauh berbeda. Mulai dari gaya busana, cara berpikir, dan etika serta gaya hidup.

Budaya yang berbeda dari Indonesia sempat membuat saya mengalami culture shock saat pertama kali sampai pada 3,5 tahun yang lalu. Namun, hal itu tak berlarut terlalu lama, saya dapat menyesuaikan diri dengan cepat supaya tak merasa takut dengan keadaan di Sydney.


Saya tak mau menyia-nyiakan waktu untuk mencari pengalaman hidup selama tinggal di kota terbesar Australia ini.


Selain kegiatan kuliah, saya bekerja dengan sebuah kedai kopi di Sydney. Saya senang untuk mengeksplor beberapa pengalaman bekerja, karena hal ini membantu saya dalam mendapatkan relasi sebanyak-banyaknya, termasuk pacar.

Dalam hal mencari pacar mereka tak sembarangan. Cowok-cowok Australia yang saya temui biasanya tak akan sembarangan mengajak cewek untuk berkencan atau sekadar mentraktir. Mereka akan mengajak berteman lebih dulu untuk mengenal karakter sang cewek lebih dalam.

Jika sudah merasa cocok, baru mereka mengirimkan sinyal PDKT alias pendekatan. Fase PDKT ini juga tak sebentar, sampai akhirnya mereka mengajak sang cewek berpacaran.

Di Sydney ada beberapa tempat yang pas untuk berkencan. Biasanya pilihan kencan saya dan pacar jatuh pada restoran, kafe, atau bioskop.

Sydney juga memiliki garis pantai yang indah. Pasangan yang baru diajak kencan biasanya diajak untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di spot-spot sunset favorit, seperti Sydney Harbour Bridge, Observatory Hill Park, Darling Harbour, Twilight Bridge Climb, atau Moore Park.


Selain itu Opera House, Bondi Beach, dan Three Sisters adalah tempat berkumpul favorit saya dan teman-teman. Saat akhir pekan tiba, kami biasanya menghabiskan waktu di kedai kopi atau bar sambil berbincang seru.

Untuk kongko di area kota, biasanya saya menyiapkan budget sekitar AUS$10 (sekitar Rp100 ribu) hingga AUS$15 (sekitar Rp140 ribu). Biaya tersebut hanya untuk sekali makan dan minum.

Sedangkan untuk bepergian saya biasanya menggunakan bus atau kereta. Namun menaiki kereta adalah pilihan yang terbaik bagi saya dan teman-teman. Selain tarifnya yang murah, kereta merupakan transportasi umum yang cepat daripada yang lain.

[Gambas:Instagram]

Yang membuat saya kagum dengan Sydney adalah rasa kekeluargaan yang tinggi. Contohnya saat Natal tiba. Saya dan teman-teman biasanya membuat semacam pesta kecil, makan bersama, bernyanyi, serta yang tak boleh terlewatkan adalah momen tukar kado.

Selain rasa kekeluargaan, ada banyak hal yang saya dapatkan dari kota ini, mulai dari toleransi, kebersamaan, kekeluargaan, bahkan menghargai waktu berkumpul bersama.

Merantau tak hanya soal budaya yang cocok atau tidak dengan diri kita, namun merantau adalah soal bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dan merasa nyaman dengan kondisi dan situasi tempat perantauan.


-----
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(vvn/ard)