Surat dari Rantau

Mengenal Karakter Australia dari Masyarakat Melbourne

Angela Tanesha, CNN Indonesia | Minggu, 28/07/2019 10:30 WIB
Mengenal Karakter Australia dari Masyarakat Melbourne Pemandangan kawasan Princes Walk di Melbourne, Australia. (Dok. Visit Victoria)
Melbourne, CNN Indonesia -- Bertahan hidup di negeri orang benar-benar membutuhkan perjuangan. Pelajaran ini yang saya dapatkan setelah tinggal selama 2,5 tahun di Melbourne, Australia, untuk menyelesaikan studi sarjana di University of Melbourne.

Untungnya warga Melbourne cukup ramah dan sopan, mengingatkan saya dengan penduduk Indonesia.


Saya ingat saat pertama kali sampai ke bandara saya tersesat, kemudian saya memberanikan diri untuk meminta bantuan ke petugas keamanan.


Ia merespon dengan baik dan membantu saya. Kejadian menyenangkan seperti itu bukan terjadi satu atau dua kali saja.

Hal seperti itu yang membuat anggapan saya tentang warga Australia yang 'ugal-ugalan' di Indonesia kecil kemungkinannya jika berasal dari Melbourne, meskipun kriminalitas bisa terjadi di mana saja termasuk Melbourne.

Sebenarnya gaya hidup warga Melbourne mirip seperti di Indonesia, tapi bedanya transportasi publik di sini lebih dioptimalkan. Sehingga tak heran jika generasi muda di Melbourne terlihat jauh lebih rajin dan mandiri, bahkan sejak masih duduk di bangku SD atau SMP.


Tak hanya itu saja, mereka juga cukup peduli terhadap lingkungan. Contohnya adalah di apartemen khusus pelajar, dibagikan kantong khusus sampah untuk didaur ulang.

Kemudian di kampus dan kawasan perkotaan, warganya sudah akrab dengan aktivitas memilah sampah sebelum membuangnya ke tempat sampah, sehingga kategorisasi sampah berjalan optimal di Melbourne.

Beberapa kawan saya juga lebih serius terhadap isu lingkungan, mereka ikut aksi damai perubahan iklim di kota dalam bagian #SchoolStrike4Climate dan #ClimateStrike yang dipopulerkan oleh Greta Thunberg.


Bahkan kawan sekamar saya juga diajari untuk memikirkan tentang keberlanjutan (sustainability) saat mendesain produk.

Itu tak terjadi tanpa sebab, karena di Melbourne sendiri cukup banyak acara yang mengedukasi masyarakat tentang barang-barang ramah lingkungan.  

Tak hanya itu saja, sekitar satu tahun yang lalu supermarket-supermarket di Melbourne, tidak memberikan kantong plastik gratis setelah belanja.

Pada akhirnya banyak kedai mengikutinya dengan cara mereka sendiri, seperti tidak memberikan sedotan plastik atau menawarkan sedotan dari kertas.

[Gambas:Video CNN]

---
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(agr/ard)