Batu, 'Swiss Kecil' Favorit Kompeni Belanda

CNN Indonesia | Senin, 26/08/2019 12:05 WIB
Batu, 'Swiss Kecil' Favorit Kompeni Belanda Alun Alun Kota Batu, Malang. (Istockphoto/Stivanus Ferdiyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kota Batu dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang, Jawa Timur yang kemudian ditetapkan menjadi kota administratif pada 6 Maret 1993. Pada tanggal 17 Oktober 2001, Batu baru ditetapkan sebagai kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

Para penjajah Belanda, yang lebih dulu menasbihkan kota ini sebagai destinasi wisata, menyatakan kekagumannya akan kota yang disebut mirip dengan Swiss ini.

Mereka menjuluki Batu sebagai 'De Kleine Zwitserland' atau 'Swiss Kecil di Pulau Jawa'.


Hingga saat ini Batu masih menjadi salah satu destinasi wisata populer di Indonesia, terutama bagi turis yang mencari hawa sejuk.


Setelah 18 tahun diberikan kebebasan otonom, Batu ternyata belum siap untuk menyambut kedatangan turis asing, terutama dari sisi infrastruktur serta sumber daya manusianya. Hal itu diungkapkan Walikota Batu, Dewanti Rumpoko ketika CNNIndonesia.com berkunjung beberapa waktu lalu.

"Mayoritas yang datang dari domestik, asing sedikit sekali karena kami belum promosi dan kami belum siap secara infrastruktur dan SDM. Kalau kita promosi, terus mereka datang liburan, kami tidak ingin mengecewakan turis yang datang dengan kemacetan di Batu. Karena dulu ini kecamatan sehingga infrastruktur terbatas. Sebab itu kami mau membangun, membuka jalan akses supaya bisa mengakomodir mobil yang datang," ujar Dewanti.

Dalam setahun ke belakang, Batu disebut Dewanti sudah kedatangan 6,5 juta domestik dan hanya 5 persennya yang merupakan wisatawan asing.

"Itu pun mereka cuma menginap semalam, cuma transit karena malamnya ke Bromo," imbuhnya.

Menurut Dewanti, banyak objek wisata di Batu yang sudah terkenal sampai ke mancanegara dengan promosi mandiri yang telah dilakukan masing-masing objeknya, seperti Batu Night Spectaculer, Jatim Park 1, Jatim Park 2 dan Jatim Park 3.

Selain itu, ada juga Batu Zoo yang disebut Dewanti mendapat sambutan baik dari beberapa turis asing seperti dari Australia, Malaysia dan Singapura.

Apalagi, Batu Zoo masuk dalam urutan kesembilan Kebun Bintangan terbaik di Asia versi TripAdvisor tahun 2015.

[Gambas:Instagram]


Kota Batu mendapatkan kesempatan menjadi salah satu wilayah yang dilewati rangkaian Tour d' Indonesia 2019, tepatnya di etape ketiga yang berjarak 193 kilometer dari Halaman Jatim Park 3 menuju kota Jember.

Dewanti menyebut kehadiran 22 negara peserta di tour dengan level 2.1 pada Asia UCI Tour ini memberikan dampak positif bagi pariwisata Batu, terutama mengajarkan kepada masyarakat Batu untuk menerima kehadiran pendatang dari luar negeri.

Baru, 'Swiss Kecil' Favorit Penjajah Belanda Dulu KalaSeorang pebalap sepeda melakukan pemanasan sesaat sebelum Start Etape Ketiga Tour De Indonesia dimulai di depan Jatim Park 3, Batu, Malang. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

"Buat turis mancanegara, Batu mungkin belum dikenal sama sekali, beda dengan turis domestik yang sudah kenal semua. Terus terang, kami juga belum promo sama sekali soal Batu ke luar negeri. Ini salah satu cara kami untuk promo tipis-tipis tentang Batu lewat gelaran Tour d' Indonesia," ucap Dewanti.

Di sisi lain, Batu juga punya kekayan alam yang punya daya tarik tersendiri untuk menjadi objek wisata, seperti rafting dan arum jeram dengan air dingin di Songoriti dan Cangar. Atau sekedar datang menikmati keindahan air terjun Tumpak Sewu.

Bahkan, air di Songoriti yang terkenal dengan kandungan mineral dan belerang dari Gunung Wlirang dipercaya bisa menyembuhkan luka.

[Gambas:Instagram]

"Di Songoriti juga ada candi yang saat ini hanya kelihatan hanya pucuknya saja. Mungkin jarang yang tahu kalau itu dulunya merupakan tamannya raja-raja. Jatim Park 2-3-4 sudah tau lah karena itu usaha pariwisata modern yang promosi sendiri. Kami juga ruti menggelar kejuaraan paralayang dan MTB level internasional," terangnya.

Kehadiran wisatawan domestik maupun asing memiliki peran penting buat Batu dalam kontribusi pendapatan daerah.

PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Batu, ungkap Dewanti, saat ini sudah di angka Rp200 miliar atau naik 10 kali lipat sejak awal berdiri yang hanya berada di bawah Rp20 miliar.

"Alhamdulillah, kegiatan Tour d' Indonesia ini tidak di weekend. Ini yang kami cari, jadi mengisi kekosongan kegiatan yang biasanya penuh di weekend. Hunian hotel jadi meningkat di weekdays. Kami akan sangat senang jika nantinya kami dipilih lagi untuk menjadi tuan rumah pemberhentian pebalap di event selanjutnya," ungkapnya.

[Gambas:Instagram]

(TTF/ard)