Surat dari Rantau

Macet, Masalah Hidup yang Selesai di Singapura

Edo Cantona, CNN Indonesia | Sabtu, 07/09/2019 15:05 WIB
Macet, Masalah Hidup yang Selesai di Singapura Pemandangan malam di Singapura. (Singapore Tourism Board & Wildlife Reserves Singapore Group)
Singapura, CNN Indonesia -- Sudah tiga tahun saya menuntut ilmu di BSc of International Relations, Singapore Institute of Management, University of London. Sama seperti jiwa para perantau lain, saya sempat mengalami gagap budaya saat pertama tiba di Negara Singa ini.

Pertama kali datang bahasa melayu Pontianak masih melekat pada lidah saya, sehingga membuat saya sedikit kaku untuk berinteraksi dengan bahasa Inggris dengan sesama perantau lainnya.

Ya, bahasa Inggris menjadi bahasa utama di sini karena Singapura ramai didatangi perantau dari negara lain tak hanya Indonesia.



Walaupun termasuk salah satu negara Asia yang maju, Singapura juga masih diliputi oleh berbagai masalah seperti, rasisme, susah dapat pekerjaan, biaya hidup yang sangat mahal, serta gaji yang tak sesuai dengan kemampuan pekerja.

Namun jangan terpaku dengan isu rasisme di Singapura, hal tersebut hanya terjadi pada sebagian kecil orang yang kurang berpikiran terbuka.

Di balik itu, ada sebagian besar orang yang memiliki rasa toleran yang tinggi, mau bergaul dengan orang baru, terutama orang Indonesia.

Tinggal di kota melting pot ini memang sangat mahal, banyak biaya yang harus diperhitungkan mulai dari makanan, minuman, kongko, serta liburan.

Saya termasuk orang yang jarang pergi keluar dan berbelanja, hal itu dilakukan untuk menekan pengeluaran hidup yang besar.

Di kafe, harga minimal sebuah minuman mencapai Rp92 ribu dan belum termasuk makanan. Para anak muda biasanya menghabiskan sekitar Rp306 ribu untuk kongko di satu kafe.

Salah satu jajanan favorit saya tanpa mengeluarkan uang yang banyak ialah minuman kopi, milo, atau teh ukuran jumbo yang dijual sekitar Rp10 ribu saja.

Walau biaya hidup mahal tapi sepertinya penduduk Singapura jarang ada yang stres. Mungkin karena masalah kemacetan sudah selesai di negara ini

Sistem transportasi di Singapura dilengkapi bus dan MRT. Selain tarifnya terjangkau, kedua transportasi umum ini juga nyaman.

Selain bus atau MRT bisa juga naik taksi online atau taksi konvensional meski tarifnya sangat mahal. Saya saja hanya menggunakan transportasi tersebut hanya untuk pulang pergi membawa koper dari bandara.


Salah satu tempat favorit untuk liburan bagi masyarakat dan turis di sini adalah Universal Studio Singapore, Sentosa, Orchard, dan Marina Bay Sands (MBS).

Sebagian besar turis yang datang ke Singapura pasti selalu berkunjung ke MBS, sebuah gedung pencakar langit yang berbentuk layaknya kapal pesiar. Dari siang sampai malam, pemandangan dari atas sana memang indah.

Di sana, saya sering mengambil beberapa foto yang sangat estetik dan epik. Hobi fotografi yang didukung oleh pemandangan indah membuat saya semakin jatuh cinta dengan Singapura.

Keadaan geografis Singapura yang dekat dengan Indonesia sebenarnya tak membuat saya terlalu rindu rumah.

Selain berbagi kedekatan jarak, dua negara ini juga berbagi udara. Mengingat Singapura dan Indonesia menghirup udara yang sama, kebakaran hutan di Kalimantan tentu saja memberi dampak buruk.

Untuk meminimalisir dampak kabut asap kebakaran hutan, Singapura punya lembaga yang bakal memberikan peringatan serta informasi kepada masyarakat jika terjadi penyebaran kabut asap ke area Singapura.

Lembaga tersebut disebut Pollutant Standards Index (PSI) yang bertugas menginformasikan tingkat kualitas udara di Singapura.

Semakin tinggi Indeks angka yang dikeluarkan oleh PSI, maka kualitas udara juga semakin memburuk dan membahayakan. Jika udara memburuk, PSI akan menghimbau masyarakat untuk menggunakan masker serta mengurangi kegiatan di luar rumah.

Singapura memang selalu memperhatikan segala hal yang berhubungan dengan masyarakat. Di setiap mall terdapat sebuah alat untuk memfilter asap seperti ruang pencucian di pintu masuk utama.

Beruntung, tahun ini Singapura masih dalam batas aman dari kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia. Namun saya harap kebakaran hutan tak meluas sehingga Indonesia bisa kembali diperhitungkan sebagai salah satu negara penyumbang udara bersih dengan keberadaan hutan hujannya yang lestari.


-----

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(vvn/ard)