Surat dari Rantau

Dua Dekade di Negara Berpenduduk Rupawan

Ipah Sajab, CNN Indonesia | Sabtu, 31/08/2019 15:52 WIB
Dua Dekade di Negara Berpenduduk Rupawan Patung Kristus Penebus di Sao Paulo, Brasil. (Istockphoto/dislentev)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tinggal di Brasil selama bertahun-tahun membuat saya, suami, dan tiga anak betah dengan suasana kehidupan di sana. Berawal dari kontrak kerja perusahaan selama empat tahun yang mengantarkan saya dan suami tiba di Negara Samba pada tahun 1996 lalu, membuat saya mengenal banyak hal tentang Brasil.

Tentu saja banyak perbedaan yang saya alami antara Brasil dan Indonesia. Selain iklim dan waktu, saya juga merasakan perbedaan bahasa dan budaya. Selain bahasa Inggris, penduduk Brasil juga berbahasa Portugis.


Selama di Brazil, saya menjadi ibu rumah tangga serta bekerja untuk membantu istri dari atasan suami saya. Salah satu tugas saya ialah mengajarinya cara memasak makanan khas Indonesia, karena di sini tak ada restoran khas Tanah Air.


Banyak yang berkata kalau Brasil merupakan gudangnya manusia rupawan. Anggapan tersebut mungkin berawal dari mendominasinya Brasil dalam urusan kecantikan, mulai dari Miss Universe sampai Victoria's Secret.

Di sini banyak pria ganteng dan wanita cantik. Tapi tak semua penduduk Brasil berkulit putih dan berhidung mancung seperti Kaka atau Adriana Lima. Banyak juga kaum minoritas yang tinggal di sini, salah satunya Afrika.

Menurut sejarah dulu juga banyak orang Afrika yang datang ke Brasil untuk dijadikan budak. Namun seiring perkembangan zaman, perbudakan dihapus dan sekarang semua masyarakat dilindungi oleh undang-undang dalam segala bidang seperti, politik perdagangan, pendidikan serta agama.

Di samping keributan antar geng kriminal, bisa dibilang jarang terjadi pemberontakan antar agama atau budaya di sini. Soal idealisme agama atau budaya rasanya semua penduduknya bisa menghargai perbedaan.


Brasil juga merupakan negara yang ramah muslim. Walau populasi masyarakat muslim di Brasil hanya mencapai 1,5 juta jiwa, tetapi kaum muslim tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang dan aman.

Ada banyak pusat agama Islam dan sejumlah masjid di Brasil. Mesquita Brasil merupakan masjid tertua di sini, tepatnya berada di ibu kota Sao Paulo yang dibuka sejak tahun 1929.

Namun saat ini Brasil sedang berduka, karena diselimuti asap akibat kebakaran hutan Amazon. Kawasan yang terdampak asap paling buruk seperti Mogi Das Cruzes, yang berada tak jauh dari hutan hujan terbesar di dunia itu.

Kota Sao Paulo juga ikut terdampak asap kebakaran hutan, tapi tidak terlalu parah seperti di sana.

Yang membuat saya salut, penduduk Brasil sangat kompak dalam hal memadamkan kebakaran hutan. Ada yang turun langsung ke sana, ada pula yang sibuk melakukan penggalangan dana.

Kami semua berharap pemerintah Brasil dapat memaksimalkan bantuan pemadaman kebakaran hutan di Amazon.


-----
Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com / ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com

(vvn/ard)