Mengenal Lupus, Penyakit yang Diderita Kim Kardashian

tim, CNN Indonesia | Rabu, 11/09/2019 10:00 WIB
Mengenal Lupus, Penyakit yang Diderita Kim Kardashian Kim Kardashian West didiagnosis menderita lupus. Namun apa sebenarnya penyakit yang juga berjuluk penyakit 1000 wajah. (AFP PHOTO / ANGELA WEISS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kim Kardashian West didiagnosis menderita lupus

Penyakit lupus yang dialami Kim ditandai dengan munculnya sejumlah gejala. Belakangan, Kim merasa tubuhnya sering kelelahan. Tangannya kerap bengkak dan mati rasa.

"Saya merasa sangat lelah, sangat mual, dan tangan saya benar-benar bengkak. Saya merasa seperti benar-benar hancur berantakan. Tangan saya mati rasa," ungkap Kim, seperti yang terekam dalam tayangan tersebut.


Istri Kanye West ini awalnya menyangka kalau dia hanya mengalami radang sendi. Namun dokter berkata lain.

"Ini sangat menakutkan. Jadi, saya pergi ke dokter dan melihat apa yang sebenarnya terjadi karena saya tidak bisa hidup seperti ini," tutur Kim, dikutip dari CNN.

Bukan cuma Kim Kardashian, Selena Gomez dan lainnya yang berjuang melawan lupus. Setiap harinya, lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia berjuang dan hidup melawan lupus.


"Saat lupus merupakan isu kesehatan global, lebih dari setengah (51 persen) responden survey tak menyadari bahwa lupus adalah sebuah penyakit," temuan 16-Nation Survey, dikutip dari keterangan resmi World Lupus Federation.

Apa sebenarnya lupus?

Salah satu jenis penyakit autoimun ini dikenal juga sebagai penyakit 1000 wajah.

Penderita penyakit ini memiliki masalah dengan kekebalan tubuhnya. Bukan lemah, akan tetapi sistem imun menjadi tameng bagi tubuh untuk melawan penyakit, pada penderita lupus sistem imun itu justru menyerang organ sendiri dan menimbulkan berbagai penyakit.

Pada penderita lupus terbentuk autoantibodi yang menyerang tubuh sehingga terjadi inflamasi.


Hanya saja sampai saat ini masih belum diketahui penyebab pasti 'erornya' sistem kekebalan tubuh ini. Ada beberapa spekulasi terkait hal ini, yaitu adanya faktor genetik, hormon, infeksi, dan kualitas lingkungan yang buruk.

Meski begitu, lupus lebih berisiko terjadi pada perempuan karena faktor hormonal, yaitu hormon estrogen.

Lupus Research Alliance dalam laporannya pernah mengungkapkan lupus banyak didiagnosis pada perempuan muda berusia 15-44 tahun. Data yang dimuat WebMD juga menunjukkan 9 dari 10 penderita lupus di dunia merupakan perempuan.

Hormon estrogen memang dikenal sebagai immuno-enhancing yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hormon ini membuat perempuan lebih kuat ketimbang laki-laki karena mesti melahirkan dan mengasuh anak.

Namun, sistem imun yang kuat ini justru dapat menjadi bumerang dengan menyerang kembali organ di dalam tubuh. Oleh karena itu kaum wanita lebih berisiko ketimbang pria.

Sebagian besar kasus lupus dialami oleh orang yang berusia 15-45 tahun. Hanya saja ada juga yang mengalami sejak balita atau di atas 45 tahun.

Gejala yang muncul dapat terlihat pada kulit. Sebanyak 70 persen penderita lupus memiliki beberapa gejala di kulit. Gejala lupus pada kulit biasanya ditandai dengan kehadiran ruam-ruam, bercak-bercak bersisik merah tebal, dan pucat. Selain itu, rambut rontok dan muncul bisul atau luka pada mulut dan hidung, juga merupakan salah satu tanda lupus.Pada otot dan tulang, lupus juga menimbulkan gejala seperti nyeri sendi dan sendi bengkak. Sekitar 90 persen penderita lupus mengalami gejala pada sendi mereka. Penderita lupus biasanya juga mengalami anemia atau kekurangan darah.

Pada tingkatan yang lebih parah bakal muncul darah atau protein dalam urine.

ilustrasi lupusFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
ilustrasi lupus

Salah stigma

Sebuah penelitian menunjukkan banyak pemahaman yang salah kaprah tentang lupus berkembang di masyarakat.

Survei yang dilakukan pada lebih 35 ribu orang dewasa di 16 negara itu juga menemukan banyak stigma yang salah terhadap penderita lupus.


Hanya 57 persen responden yang menyatakan 'sangat nyaman' dan 'nyaman' saat memeluk penderita lupus. Sementara sebanyak 49 persen merasa 'sangat nyaman' dan 'nyaman' berbagi makanan dengan penderita lupus. Padahal, faktanya lupus bukan merupakan penyakit menular.

"Sangat perlu untuk meningkatkan pemahaman orang terhadap lupus, menghindari kesalahpahaman, mengatasi stigma, dan meningkatkan hubungan sosial penderita lupus," kata Ketua Lupus Europe sekaligus salah satu pendiri World Lupus Federation, Jeanette Anderson. (chs)