Iklan Terapi Stem Cell Dilarang Tayang di Google

tim, CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 10:49 WIB
Iklan Terapi Stem Cell Dilarang Tayang di Google Google larang penayangan iklan terapi kesehatan yang belum terbukti secara ilmiah dan medis. (Istockphoto/amenic181)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyaknya terapi-terapi kesehatan yang bermunculan dan dipromosikan di internet membuat google akhirnya mengambil langkah baru. Google akan melarang iklan online untuk perawatan medis yang dianggap belum terbukti kebenaran atau efektivitasnya.

Beberapa terapi yang dimaksud antara lain adalah terapi sel induk dan gen.

"Kebijakan baru ini akan melarang iklan yang menjual perawatan yang tak memiliki dasar biomedis atau ilmiah," kata penasihat kebijakan Google Adrienne Biddings dalam unggahannya, dikutip dari AFP.


Biddings mengungkapkan bahwa Google akan 'melarang iklan untuk teknik medis yang tak terbukti atau eksperimental seperti terapi sel induk, terapi seluler (non-stem), dan terapi gen.'


Google juga akan melarang iklan 'perawatan yang berakar pada temuan ilmiah dasar dan pengalaman klinis awal, tapi saat ini tak memiliki uji klinis formal yang tak memadai untuk membenarkan penggunaan klinis yang meluas.'

Pelarangan iklan terapi kesehatan dari perusahaan media pencarian online ini disebabkan karena meningkatnya oknum jahat yang mencoba mengambil keuntungan dari individu dengan menawarkan perawatan kesehatan tipuan dan tak teruji.

Laporan dari Wall Street Journal -berdasar wawancara dari dokter, pengacara, pakar privasi, dan lainnya menemukan banyaknya klaim menyesatkan tentang terapi kanker secara online.

Ini termasuk adanya video yang menganjurkan penggunaan salep pembunuh sel yang berpotensi berbahaya, diet yang tak terverifikasi, atau teknik skrining yang tak disetujui.

Google sendiri mengatakan bahwa pihaknya mengambil langkah ini setelah berkonsultasi dengan ahli-ahli di lapangan. Langkah ini juga diklaim didukung oleh presiden International Society for Stem Cell Research, Deepak Sriavastava.

"Pemasaran prematur (yang terlalu dini) dan komersialisasi produk sel punca yang belum terbukti, bisa mengancam kesehatan masyarakat, kepercayaan mereka pada penelitian biomedis, dan rongrongan soal pengembangan terapi baru yang sah."


Sedangkan Facebook mengatakan bahwa pihaknya melakukan pembatasan ini sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran klaim medis menyesatkan termasuk dari kelompok penentang vaksin yang direkomendasikan.

Di awal tahun ini Facebook dan Youtube sudah mulai bergerak mengurangi penyebaran klaim perawatan kesehatan yang menyesatkan setelah adanya laporan media menujukkan adanya proliferasi penyembuhan kanker palsu yang beredar di media sosial. (chs)